beritalokal.my.id, Jakarta – Pengamat Pasar Modal Hendra Wardana menilai, koreksi tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga menembus level psikologis 6.000 dan ditutup di 5.941 pada perdagangan saham, Rabu, 3 Juni 2026 menjadi sinyal pasar sedang mengalami krisis kepercayaan yang cukup serius.
“Jika dilihat dari data, penurunan ini bukan semata-mata dipicu oleh faktor eksternal seperti memanasnya kembali konflik AS-Iran yang mendorong harga minyak dunia mendekati US$ 100 per barel, tetapi juga diperberat oleh berbagai sentimen domestik yang belum menemukan titik terang,” kata Hendra kepada beritalokal.my.id, Rabu (3/6/2026).
Dia menuturkan, pelemahan rupiah yang mendekati Rp 18.000 per dolar AS, kekhawatiran terhadap kebijakan ekspor satu pintu, serta terus berlanjutnya arus keluar dana asing membuat investor memilih mengurangi eksposur terhadap aset berisiko di Indonesia.
“Di tengah bursa Asia yang mayoritas justru menguat, kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap pasar domestik lebih banyak berasal dari faktor internal dibandingkan eksternal,” ujarnya.
Hendra menilai, pasar pada dasarnya tidak bergerak berdasarkan pidato atau pernyataan optimistis semata, melainkan berdasarkan persepsi terhadap risiko dan prospek ke depan.
“Ketika pemerintah menyampaikan bahwa fundamental ekonomi masih kuat, namun pada saat yang sama rupiah terus melemah, IHSG menjadi salah satu indeks dengan kinerja terburuk di dunia tahun ini, dan investor asing terus melakukan aksi jual, maka muncul kesenjangan antara narasi dan realitas pasar,” tutur dia.
Kepercayaan Investor Aset Penting
Hendra mengatakan, kepercayaan investor merupakan aset yang sangat mahal nilainya. Ketika kepastian kebijakan berkurang dan pelaku pasar kesulitan memproyeksikan arah ekonomi ke depan, investor cenderung memilih menunggu atau bahkan memindahkan dananya ke negara lain yang dianggap lebih stabil.
Prediksi IHSG
PerbesarSebelumnya, sepanjang Senin (9/2/2026), pergerakan IHSG diwarnai penguatan 433 saham. Sementara, 252 saham melemah dan 136 lainnya stagnan. Tampak dalam foto, layar monitor menunjukkan pergerakan pasar saham di lantai Bursa Efek Indonesia menjelang aktivitas perdagangan, Jakarta pada Senin 9 Februari 2026. (BAY ISMOYO/AFP)
Data arus modal asing juga memperlihatkan kondisi tersebut. Pada perdagangan hari ini asing kembali mencatatkan net sell sekitar Rp 864 miliar, sementara secara akumulatif sejak awal tahun dana asing yang keluar dari pasar saham Indonesia telah mencapai sekitar Rp 67 triliun.
“Angka ini tergolong sangat besar dan menjelaskan mengapa tekanan jual terus terjadi pada saham-saham berkapitalisasi besar yang selama ini menjadi penopang indeks. Selama arus keluar asing masih berlangsung dan belum ada katalis positif yang mampu mengembalikan kepercayaan investor global, volatilitas pasar berpotensi tetap tinggi dalam beberapa waktu ke depan,” ujarnya.
IHSG diprediksi Masih Alami Tekanan
Meski demikian, kata Hendra, kondisi saat ini tidak serta-merta harus disikapi dengan kepanikan. Dari sisi valuasi, banyak saham unggulan sebenarnya sudah mengalami koreksi yang sangat dalam sehingga mulai memasuki area menarik untuk investasi jangka panjang.
Namun, investor juga perlu menyadari, pasar yang sedang mengalami krisis sentimen sering kali bergerak tidak rasional dalam jangka pendek.
“Oleh karena itu, kemungkinan IHSG masih dapat mengalami tekanan lanjutan dan menguji area psikologis berikutnya di sekitar 5.800 hingga 6.000 sebelum akhirnya menemukan keseimbangan baru dan berpeluang melakukan pemulihan secara bertahap,” pungkasnya.
Kinerja IHSG
PerbesarSedangkan kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp14.950 triliun dengan frekuensi sebanyak 4.931.760 kali. Tampak dalam foto, papan elektronik menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (29/1/2026). (YASUYOSHI CHIBA/AFP)
Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) beta di zona merah hingga penutupan perdagangan saham Rabu, (3/7/2026). IHSG hari ini tertekan di tengah nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menyentuh 17.970.
Mengutip data RTI, IHSG hari ini terpangkas 4,11% menjadi 5.941,06. Indeks saham LQ45 merosot 4,89% menjadi 588,99. Seluruh indeks saham acuan melemah.
IHSG belum mampu bangkit seiring 692 saham yang tertekan. 69 saham menguat dan 54 saham diam di tempat. Total frekuensi perdagangan 2.761.582 kali dengan volume perdagangan saham 39,8 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 25,1 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 17.970.
Seluruh sektor saham melemah. Sektor saham basic merosot 9,05%, dan catat koreksi terbesar. Selain itu, sektor saham energi terpangkas 5,61%, sektor saham industri tergelincir 3,54%, sektor saham consumer nonsiklikal melemah 3,99%.
Lalu sektor saham siklikal terperosok 3,23%, sektor saham kesehatan merosot 4,36%, sektor saham keuangan turun 1,76%. Selain itu, sektor saham properti melemah 3,48%, sektor saham teknologi tergelincir 2,93%, sektor saham infrastruktur melemah 5,05%, dan sektor saham transportasi turun 4,15%.
