IHSG 5.760 dan Rupiah Rp 18.000 per Dolar AS, Sinyal Darurat Bagi Pemerintah

Pasar keuangan RI membara! Rupiah terpuruk dan IHSG jatuh ke level 5.600. Analis ingatkan pemerintah segera pulihkan kepercayaan investor lewat data.

PerbesarPegawai menunjukkan mata uang rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (5/1/2023). Nilai tukar rupiah ditutup di level Rp15.616 per dolar AS pada Kamis (5/1) sore ini. Mata uang Garuda melemah 34 poin atau minus 0,22 persen dari perdagangan sebelumnya. (/Angga Yuniar)

, Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (4/6/2026) pagi. Mata uang Garuda tercatat melemah hingga menyentuh level Rp 18.019 per dolar AS pada pukul 10.12 WIB. Posisi tersebut menjadi salah satu titik terlemah rupiah dalam beberapa waktu terakhir.

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) makin tertekan pada perdagangan saham Kamis, (4/6/2027). Baru 30 menit perdagangan saham, IHSG sudah meninggalkan posisi 5.900. IHSG turun 3,04% ke 5.760 pada pukul 09.32 WIB. 

Pengamat Pasar Modal Hendra Wardana, menilai kondisi pasar domestik justru sedang menghadapi tekanan yang tidak bisa dianggap remeh. “Kombinasi pelemahan pasar saham dan mata uang secara bersamaan menjadi sinyal bahwa investor sedang melakukan repricing terhadap risiko Indonesia,” kata Hendra kepada , Kamis (4/6/2026).

Di saat sebagian pejabat masih menyampaikan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dan solid, pelaku pasar justru menunjukkan respons yang berbeda. Pasar tidak membaca pidato, pasar membaca data.

“Dan data yang terlihat hari ini menunjukkan tekanan yang nyata terhadap aset keuangan domestik. Arus modal asing terus keluar, rupiah melemah, dan kepercayaan investor mengalami penurunan yang signifikan,” ujarnya.

Oleh karena itu, persoalan utama saat ini bukan semata-mata pertumbuhan ekonomi, melainkan kredibilitas kebijakan. Investor membutuhkan kepastian arah fiskal, kepastian regulasi, serta keberpihakan terhadap iklim investasi yang sehat.

“Pasar membutuhkan bukti, bukan sekadar optimisme. Ketika narasi yang disampaikan pemerintah tidak sejalan dengan persepsi yang tercermin di pasar, maka yang terkikis adalah kepercayaan,” ujarnya.

 

Pemerintah Harus Kembalikan Kepercayaan Investor

PerbesarPejalan kaki melintas dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di kawasan Jakarta, Senin (13/1/2020). IHSG menguat 0,34 persen atau 21 poin ke level 6.296 pada penutupan perdagangan Senin (13/1) sore ini. (/Angga Yuniar)

Menurutnya, Pemerintah perlu menunjukkan langkah konkret untuk menjaga disiplin fiskal dan mengembalikan keyakinan investor. Program-program strategis tetap dapat dijalankan, namun perlu dievaluasi agar lebih tepat sasaran dan tidak menimbulkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan APBN.

Fokus bantuan kepada kelompok masyarakat yang benar-benar membutuhkan akan lebih efektif dibanding pendekatan yang terlalu luas dan berpotensi membebani fiskal.

“Pada akhirnya, investor tidak membeli janji, melainkan keyakinan. Dan keyakinan tidak dibangun melalui pidato yang berulang, melainkan melalui kebijakan yang konsisten, transparan, dan dapat diukur hasilnya,” ujarnya.

Hendra menilai, ketika kata-kata mengatakan ekonomi kuat tetapi rupiah dan IHSG terus melemah, pasar akan memilih mempercayai angka, dan angka, pada akhirnya, selalu berbicara lebih jujur.



error: Content is protected !!