BeritaLokal, Jakarta – Mantan Agen FBI Stephanie Talamantez menyampaikan analisis mendalam tentang keberadaan peretas kripto Korea Utara yang semakin cakupan strategis. Dalam sebuah wawancara terbuka, Talamantez mengungkapkan bahwa kelompok ini telah memperkaya kemampuan mereka untuk mengeksploitasi kerentanan teknologi dan psikologis target dengan lebih efektif. “Mereka tidak hanya menyerang sistem kripto, tapi juga menjalankan operasi perekrutan yang sangat agresif,” kata Talamantez dalam wawancara bersama Benzinga.
Peretas Korea Utara telah menciptakan pola peretasan yang lebih kompleks, menimbulkan ancaman eksistensial bagi ekosistem kripto. Menurut data terbaru, insiden pencurian aset kripto tertinggi sepanjang masa tercatat pada April 2026, dengan nilai mencapai US$ 2 miliar atau Rp 35,95 triliun. Perusahaan AS mengklaim bahwa hasil ilegal dari serangan ini digunakan untuk mendanai program senjata dan rudal Korea Utara.
Talamantez menekankan bahwa peretas Korea Utara telah berkembang dari kejahatan sederhana menjadi teknik rekayasa sosial yang sangat canggih. “Mereka menyamar sebagai perusahaan kripto atau perekrut terkemuka, bahkan mengganggu korban melalui platform seperti LinkedIn,” katanya. Dalam satu insiden, Talamantez sendiri didekati dalam upaya penipuan tersebut.
Pendiri dan CEO perusahaan keamanan blockchain CertiK, Rongui Gu, menjelaskan bahwa kelompok ini membutuhkan waktu lama untuk mengidentifikasi target bernilai tinggi. Sebagai contoh, mereka menembus Drift Protocol senilai US$ 285 juta atau Rp 5,12 triliun dengan menciptakan kesan sah melalui konferensi internasional dan memindahkan uang sebesar US$ 1 juta ke platform kripto. “Ini menunjukkan bahwa mereka tidak hanya menghujani pasar dengan serangan rendah nilai, tapi juga melakukan strategi infiltrasi yang sangat matang,” kata Gu.
Kelemahan industri kripto pun menjadi sorotan. Talamantez menyebutkan bahwa keberadaan jaringan Ronin Network pada 2022, di mana Lazarus Group mencuri hampir US$ 620 juta atau Rp 11,14 triliun, menunjukkan kelemahan struktural. “Perusahaan yang terlibat sering ragu mengungkapkan bahwa mereka telah menjadi korban atau berhasil diretas, sehingga memperparah fragmentasi informasi intelijen,” katanya.
Gu menegaskan bahwa industri kripto kesulitan dalam menerapkan pertahanan jangka panjang karena koordinasi yang tidak baik. “Kesadaran risiko manusia dan proses otorisasi transaksi yang terstruktur sangat diperlukan,” katanya. Talamantez menyarankan penggunaan alat analisis kontrak pintar untuk mengidentifikasi perubahan berbahaya sebelum penerapan protokol.
Kesadaran karyawan tentang tanda-tanda serangan juga menjadi prioritas. “Perusahaan harus melatih karyawan untuk memperhatikan tanda-tanda peringatan, karena kelemahan manusia bisa mengakibatkan kerentanan yang tidak terduga,” kata Talamantez.
Penulis: BeritaLokal, Jakarta
Artikel Terkait
Claude Opus 5: Model AI Mendekati Fable 5
27 Juli 2026
Purbaya Ulangi Diskusi Pertamina: BBM Subsidi dan Teknologi
24 Juli 2026
Jasa Marga Ubah Rest Area Jadi Tujuan Perjalanan
24 Juli 2026
AI Pekerjaan Menyudutkan Lowongan Kerja di Indonesia
24 Juli 2026
Desta Operasi Setelah Cedera Mata di Padel
23 Juli 2026
Pajak Digital Meningkat, Kas Negara Jadi Rp54,71 Triliun
23 Juli 2026
Kejahatan Siber Sindikat Korporat Hidupkan Kerugian 2 Triliun
21 Juli 2026
Spanyol Juara Piala Dunia 2026 Kunci Rahasia Marc Cucurella
21 Juli 2026
Memuat komentar...