BeritaLokal, Jakarta – Stablecoin Menjadi Solusi Lintas Batas untuk Bantuan Paling Sulit
Jakarta, Head of Strategic Operations Coala Pay, Alejandro Guzman, menyebut stablecoin sebagai jalur paling andal dalam mempercepat penyaluran bantuan bagi masyarakat yang terkena dampak krisis. Tanggapan ini disampaikan setelah Coala Pay beroperasi selama tiga tahun di koridor perbankan yang terbatas, menjangkau negara seperti Sudan Selatan, Somalia, dan Afghanistan.
Guzman, mantan pekerja bantuan PBB selama 15 tahun, mengatakan bahwa sektor bantuan telah bergeser dari barang ke tunai dalam dekade terakhir. “Koridor perbankan tidak dirancang untuk sektor bantuan,” ujar dia saat wawancara dengan TheStreet Roundtable. Di samping itu, tim kepatuhan bank sering menolak proses pembayaran karena sanksi yang ketat, bahkan di bawah OFAC atau Dewan Keamanan PBB.
Contoh nyata terlihat di Afghanistan, tempat Guzman tiba enam minggu setelah penarikan AS pada 2021. Dalam program perbantuan senilai US$ 4-5 miliar, dana disimpan dalam rekening fiat di New York dan Jenewa. “Koridor perbankan benar-benar ditutup, tanpa pengecualian,” kata dia.
Solusi stablecoin mempercepat proses ini. Proyek percontohan Coala Pay telah menghasilkan manfaat signifikan. Di Suriah, program Mercy Corps menggunakan stablecoin untuk menurunkan waktu pengiriman hingga 96% dan biaya sebesar 60%. Di Afghanistan, Hesabpay mengurangi biaya pengiriman 29% dan waktu pembayaran hingga 10 jam. “Sekitar 98% peserta memilih stablecoin daripada uang tunai,” kata Guzman.
Pemerintah PBB dan organisasi non-pemerintah (LSM) kini memindahkan sebagian dana ke stablecoin yang didenominasi dolar AS. Dalam proyek percontohan di Afghanistan, biaya pengiriman turun 29% dan waktu pembayaran mengalami penurunan signifikan.
Guzman menegaskan bahwa infrastruktur stablecoin adalah satu-satunya solusi yang berhasil dalam koridor terbatas. “Jika saya bisa kembali ke masa lalu, saya akan memindahkan smart contract dan infrastruktur digital ke 2021,” katanya.
Dengan penerapan stablecoin, bantuan dapat disalurkan lebih cepat dan biaya terkait dana menjadi lebih rendah. Meski masih ada tantangan seperti sanksi, kinerja Coala Pay menunjukkan potensi besar dalam mempercepat distribusi bantuan di wilayah yang sulit diakses.
Artikel Terkait
Maldini Resignasi FIGC Karena Gagal Nominasi Pirlo
27 Juli 2026
Uni Eropa Revisi Aturan Kripto
15 Juli 2026
Kripto: Market Cap Stablecoin Turun Rp 180 Triliun
13 Juli 2026
Harga Minyak Dunia Menaik Karena Tegangan Global
13 Juli 2026
Tether Membuka Investasi $20 Juta di Mercado Bitcoin
12 Juli 2026
Saham Circle Melonjak Usai Mendapat Izin Bank
12 Juli 2026
USDC Circle Mendapatkan Izin Bank yang Memperkuat Posisi Stablecoin
11 Juli 2026
Hyundai Card Uji Stablecoin, Pembayaran Lintas Negara
10 Juli 2026
Memuat komentar...