Permintaan Bitcoin Melemah ke Level Terendah Sejak Desember 2025

BeritaLokal, Jakarta – Permintaan Bitcoin (BTC) tercatat mengalami penurunan signifikan sejak Desember 2025, mencatat level terendah dalam periode 30 hari. Indikator ini menunjukkan ketidakpastian bagi investor yang meminati aset kripto, meski harga BTC masih berada di posisi US$ 77.000 atau Rp 1,37 miliar.

Menurut data dari Yahoo Finance (28 Mei 2026), metrik CryptoQuant menunjukkan permintaan BTC tercatat minus 147.000 BTC, angka terlemah sejak Desember 2025. Metrik ini membandingkan pasokan koin baru dan yang diaktifkan dengan jumlah yang diserap pasar. Angka negatif menandakan bahwa permintaan terhadap Bitcoin lebih besar dibanding penyerapan pembeli, mengindikasikan kekacauan dalam dinamika pasar.

Harga BTC mencapai puncak sebelumnya di US$ 126.000 atau Rp 2,24 miliar pada Oktober lalu, tetapi kini terjebak di zona harga yang lebih rendah. Peningkatan permintaan spot menjadi hal kritis karena pasar semakin bergantung pada transaksi jangka pendek untuk mengatasi tekanan harga. Analis memperkirakan bahwa jika permintaan investor melemah, harga BTC bisa turun hingga US$ 70.000 atau Rp 1,24 miliar.

Selain itu, Prancis kini menjadi sorotan karena lonjakan kasus serangan fisik terhadap pemilik aset digital. Menurut jurnalis Bitcoin Joe Nakamoto (dikutip dari CoinMarketCap), sekitar 70% laporan kejahatan “wrench attack” atau serangan fisik terjadi di negara ini, dengan 41 kasus penculikan dalam 2026-setara satu kasus setiap dua hari. Serangan ini mencakup ancaman kekerasan, penculikan, dan penyusupan untuk menekan seseorang mengungkapkan aset kripto mereka.

Kebocoran data juga dituduh menjadi pemicu peningkatan serangan. CEO Casa Jameson Lopp menilai kasus kebocoran informasi pada 2020, yang melibatkan lebih dari 270 ribu pelanggan di berbagai negara, dapat memberi peringatan bagi dunia. Prancis menjadi alarm awal bahwa regulasi keuangan mungkin terlalu kaku tanpa mengorbankan aspek keamanan pribadi.

Otoritas Prancis mulai memperluas pengamanan jaringan pelaku kejahatan digital, dengan 88 tersangka dihukum atas kasus serangan fisik. Tren kasus meningkat dari 18 pada 2024 menjadi 67 pada 2025 dan 47 pada 2026-menunjukkan peningkatan yang signifikan. Joe Nakamoto menyarankan pemilik kripto untuk lebih waspada, seperti menghindari pengungkapan aset di media sosial dan menggunakan dompet darurat atau fitur perlindungan unik saat berada dalam ancaman.

Kasus di Prancis memperlihatkan bahwa kebocoran data digital bisa berkembang menjadi ancaman nyata, mendorong investor untuk meninjau ulang sistem keamanan mereka. Dengan demikian, keduanya isu harga Bitcoin dan keamanan aset digital menjadi fokus utama dalam memprediksi dinamika pasar kripto di masa depan.

Beritalokal.my.id tidak bertanggung jawab atas kerugian yang terjadi dari keputusan investasi.

Artikel Terkait

0