BeritaLokal, Jakarta – Pemerintah memulai tahapan perubahan struktur pasar kripto untuk menyesuaikan kondisi yang terus mengarah pada reli harga Bitcoin. Perusahaan analisis blockchain CryptoQuant menyimpulkan bahwa aset digital terbesar di dunia ini membutuhkan aliran modal besar dari investor institusi sebelum dapat memulai gelombang kenaikan harga berikutnya. Dengan data historis yang menunjukkan tren perubahan, kini para pemantau menyebutkan bahwa Bitcoin kini tidak lagi mudah terdorong oleh likuiditas kecil dan lebih bergantung pada masuknya dana dari institusi.
Selain itu, CryptoQuant mengatakan bahwa struktur pasar Bitcoin telah berubah secara fundamental. Dari beberapa tahun lalu, harga kripto tergantung pada tambahan likuiditas dalam jumlah besar, tetapi sekarang kenaikan harga lebih bergantung pada keputusan investasi dari dana pensiun, sovereign wealth fund, dan perusahaan-perusahaan besar. Pernyataan ini disertai dengan data historis: pada 2011, arus modal sekitar $2,8 miliar atau Rp50,375 triliun mampu menggerakkan harga Bitcoin hingga naik 55.000%. Tahun berikutnya, pada 2015, dana sebesar $69 miliar atau Rp1,241 triliun mendorong kenaikan sekitar 10.000%. Sementara itu, siklus 2022 mencatat arus modal hingga $697 miliar atau Rp12,539 triliun hanya menghasilkan kenaikan sebesar 689%.
Pertumbuhan Bitcoin pada fase ini dinilai tergantung pada keputusan investasi dari institusi yang lebih besar. Kebutuhan aliran modal yang jauh lebih besar dibandingkan dengan siklus sebelumnya menunjukkan perubahan struktur pasar, kata CryptoQuant. Chief Executive Officer (CEO) CryptoQuant, Ki Young Ju, mengatakan bahwa Bitcoin perlu bertransformasi dari aset yang didorong investor ritel dan perdagangan ETF spot menjadi aset makro utama yang dimiliki institusi keuangan besar. “Lonjakan besar berikutnya hanya mungkin terjadi jika adopsi investor institusi dalam skala besar mampu menyerap lebih dari $1 triliun modal baru,” katanya.
Namun, kondisi pasar saat ini belum mendukung masuknya dana sebesar itu. Arus dana keluar dari ETF spot Bitcoin di Amerika Serikat dan penutupan kinerja Bitcoin yang cenderung melemah pada paruh tahun ini menjadi indikasi bahwa minat investor institusi masih relatif terbatas. CryptoQuant menyimpulkan bahwa perubahan tersebut adalah sinyal penting bagi investor, menunjukkan bahwa kondisi pasar kini lebih bergantung pada keputusan investasi dari pihak-pihak yang memiliki dana besar.
Dalam beberapa bulan ke depan, pasar akan menguji apakah Bitcoin mampu menarik minat investor bermodal besar untuk membuka babak baru dalam perjalanan harga aset kripto terbesar di dunia tersebut. Kondisi ini memperlihatkan bahwa reli harga Bitcoin tidak lagi tergantung pada likuiditas kecil, tetapi pada dinamika pasar yang lebih kompleks dan keputusan investasi dari institusi.
Artikel Terkait
KEK Baru Dipercepat: Investasi Rp 846 Triliun Menanti Persetujuan Pemerintah
6 Juli 2026
Harga Kripto Melesat di Jakarta: Bitcoin dan Ethereum Naik
6 Juli 2026
Bitcoin: Aset Global untuk Kemandirian Keuangan
6 Juli 2026
Rafael Nadal Membangun Bisnis Hotel dan Akademi
5 Juli 2026
CleanSpark Strategi Jual Bitcoin Melebihi Produksi
5 Juli 2026
Allianz Reveal Strategi Investasi 2026
5 Juli 2026
Indonesia: Investasi Baja Asia Tenggara Pemimpin Pertumbuhan
3 Juli 2026
Investasi INA Capai Rp 74,5 Triliun, AUM Naik Dua Kali Lipat
3 Juli 2026
Memuat komentar...