Anak-anak Adopsi AI Tiga Kali Lebih Cepat: Risiko yang Mengintai!

BeritaLokal, Jakarta – Pemerintah memperhatikan fenomena anak-anak mengadopsi teknologi kecerdasan buatan (AI) tiga kali lipat lebih cepat dibandingkan orang dewasa. Temuan ini mengejutkan karena mengungkap risiko yang mungkin terjadi, mulai dari penurunan kemampuan kognitif hingga ancaman deepfake pornografi. Data UNICEF menunjukkan bahwa sekitar 20 juta anak telah menggunakan AI, sementara 13 juta lagi memanfaatkannya untuk belajar atau menghadapi PR.

Selain itu, lebih dari 2 juta anak (1 dari 10) beralih ke AI untuk mencari solusi atas masalah pribadi yang menegangkan. Menurut laporan UNICEF, AI telah membentuk masa kecil anak-anak di seluruh dunia, baik positif maupun negatif. Namun, risiko keselamatan dan kesehatan justru terasa lebih nyata.

Bayang-Bayang Kerusakan Otak
Anak-anak menyadari potensi bahaya AI. Sepertiga mereka khawatir AI digunakan untuk menipu atau menyebarkan hoaks, sementara seperempat lainnya takut foto atau video mereka dimanipulasi menjadi deepfake seksual. Studi MIT Media Lab (2025) memperingatkan bahwa ketergantungan berlebih pada AI bisa menimbulkan “atrofi kognitif”-penyusutan kemampuan berpikir kritis.

Celah Pornografi
Penyalahgunaan AI untuk menciptakan gambar tanpa busana juga meresahkan. Kasus Grok AI milik Elon Musk menunjukkan bahwa fitur generatif bisa mengakses anak-anak dengan mudah. Meski Grok akhirnya membatasi akses, juru bicara Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menilai langkah itu hanya mengubah alat pembuat gambar ilegal menjadi layanan premium.

UNICEF mendesak pemerintah dan sektor swasta untuk mengintegrasikan hak anak dalam tata kelola AI global. Langkah ini meliputi penguatan hukum terkait eksploitasi seksual berbasis AI, peningkatan literasi digital, serta kewajiban korporasi menjaga transparansi dan keamanan maksimum. “Ini adalah momen penentu,” kata UNICEF.

Krisis AI hari ini akan membentuk masa depan anak-anak hingga dekade mendatang. Masyarakat perlu bersama-sama menemukan solusi yang seimbang antara inovasi teknologi dan perlindungan hak individu.

Artikel Terkait

0