BeritaLokal, Jakarta – Harga minyak dunia menguat sebesar 3,4% di pasar berjangka AS pada Minggu malam waktu setempat, 12 Juli 2026, sebagai respon terhadap serangan militer AS dan Iran yang menekan kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Pernyataan ini memperkuat ketegangan geopolitik antara dua negara tersebut, yang sebelumnya telah mengakibatkan kenaikan harga minyak dunia sejak 2023. Dampak dari peristiwa ini terlihat dalam berbagai aspek pasar, termasuk kebijakan pemerintah dan reaksi masyarakat internasional.
Harga Minyak Melambung Akibat Kekhawatiran Global
Saat harga minyak WTI naik 3,4% menjadi US$73,87 per barel, pemerintah AS memperkuat kebijakan untuk menjaga stabilitas pasar energi. Kementerian Energi AS mengatakan bahwa upaya ini bertujuan untuk mencegah kenaikan harga yang terlalu tinggi dan menekan pengaruh ketegangan di Timur Tengah. Selain itu, pemerintah Washington juga memperketat pertahanan di sekitar Selat Hormuz, mengingat risiko serangan yang berpotensi meningkat. Harga minyak Brent mencatat kenaikan 3,5% menjadi US$78,67, menunjukkan bahwa pasokan global terganggu oleh situasi krisis di jalur perdagangan utama.
Tegangan AS-Iran Memicu Kenaikan Harga Minyak
Pusat Informasi Maritim Gabungan AS mengungkapkan bahwa rute selatan melalui perairan Oman tetap terbuka untuk lalu lintas kapal sipil, meski situasi keamanan masih parah. “Para pelaut harus menunjukkan kewaspadaan ekstrem,” kata mereka dalam pemberitahuan pada Minggu. Serangan udara AS yang dilakukan pada Minggu terhadap Iran-yang merupakan kali keempat serangan tersebut dalam seminggu-menyebabkan ancaman terhadap kapal komersial, dan Iran menuntut kapal-kapal menggunakan rute utara untuk mengklaim kendali atas Selat Hormuz. Meski demikian, pihak AS mempertahankan klaim bahwa selat tersebut tidak dikendalikan oleh Iran, sementara Centcom menyatakan bahwa lalu lintas tetap lancar.
Krisis Hormuz Menyebabkan Stabilitas Pasokan Minyak Terganggu
Krisis di Hormuz Strait terus menggerus kepercayaan publik tentang stabilitas pasokan minyak global. Sebelum serangan AS dan Israel pada 28 Februari, sekitar 20% pasokan minyak dunia melintasi selat tersebut. Namun, setelah Iran mulai menyerang kapal di selat tersebut awal Maret, lalu lintas turun drastis. Kembali meningkat setelah AS dan Teheran menandatangani kesepakatan sementara pada 17 Juni, yang menciptakan kekacauan dalam pergerakan pasokan. Harga minyak dunia terus mengalami kenaikan karena ketegangan tersebut, dengan petaruh memprediksi risiko penurunan kembali jika situasi tidak selesai.
Reaksi Pemerintah dan Masyarakat terhadap Ketegangan Regional
Pemerintah Iran menanggapi serangan AS dengan serangan terhadap fasilitas militer di Yordania, Kuwait, Bahrain, dan Oman, menurut kantor berita Tasnim. Kekhawatiran pelaut mengenaikan karena risiko penangkapan kapal atau perang di sekitar selat. Namun, pihak AS membantah klaim Iran menutup Hormuz, sementara Centcom menyatakan bahwa selat tetap terbuka untuk semua kapal yang memenuhi syarat. Presiden Donald Trump mengklaim Hormuz terbuka dalam wawancara dengan “Meet the Press,” meskipun perusahaan intelijen Windward melacak sembilan kapal yang melintasi selat.
Dampak Kekhawatiran Global pada Pasar Energi
Krisis di Selat Hormuz memperkuat perhatian pasar terhadap ketegangan geopolitik dan risiko kenaikan harga minyak. Harga minyak WTI dan Brent mencatat naik 3,4% dan 3,5% masing-masing, dengan petaruh menghargai bahwa situasi ini menunjukkan kebutuhan akan peningkatan kapasitas pasokan global. Kekhawatiran terhadap stabilitas pasar energi juga berdampak pada investasi dan permintaan komoditas. Meskipun pemerintah AS memperkuat kebijakan, krisis di Hormuz masih menimbulkan risiko yang tidak terduga.
Analisis Perkembangan Situasi di Selat Hormuz
Kekhawatiran terhadap Selat Hormuz terus berkembang, dengan dampak pada harga minyak dunia dan ketegangan antara AS dan Iran. Meskipun pemerintah Washington memperkuat pertahanan, situasi di sekitar selat tetap menjadi perhatian global. Harga minyak yang melambung setelah AS terus menggerus kepercayaan publik tentang stabilitas pasar energi, sementara reaksi masyarakat internasional menunjukkan bahwa krisis ini masih memengaruhi dunia.
Artikel Terkait
Rupiah Tembus 18.009, Kurs Rupiah Turun Hari Ini
27 Juli 2026
Harga Perak Antam Naik Rp 850, Menguat di Pasar Indonesia
27 Juli 2026
Singapura Tegkatkan Kebijakan Moneter, Tangani Minyak Pedas
27 Juli 2026
Harga Minyak Mundur 5% Setelah Iran Hentikan Serangan
27 Juli 2026
Harga Emas Dekat $4.000, Konflik Timur Tengah Turun Tarik
27 Juli 2026
Fed Tetap Jaga Suku Bunga di Tengah Gejolak Pasar
26 Juli 2026
Harga Emas Antam 26 Juli 2026 Tetap Stabil Daftar Lengkap
26 Juli 2026
Harga Emas Dunia Bangkit, Positif di Tengah Geopolitik
26 Juli 2026
Memuat komentar...