beritalokal.my.id, Jakarta – Industri asuransi jiwa tetap menunjukkan ketahanan pada awal 2026 meski pasar keuangan menghadapi tekanan akibat ketidakpastian ekonomi global dan domestik. Hingga akhir kuartal I 2026, total aset industri asuransi jiwa tercatat mencapai Rp 652,89 triliun atau tumbuh 5,8% dibandingkan periode sama tahun lalu.
Ketua Bidang Keuangan, Permodalan, Investasi, dan Pajak Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Handoyo G. Kusuma mengatakan, pertumbuhan aset tersebut mencerminkan kondisi fundamental industri yang masih kuat.
Menurut dia, kenaikan aset berjalan seiring dengan sejumlah indikator positif lainnya, seperti pertumbuhan premi bisnis baru sebesar 5% menjadi Rp 27,9 triliun serta lonjakan jumlah tertanggung yang mencapai 118,28 juta orang.
“Pertumbuhan aset menunjukkan industri memiliki kapasitas keuangan yang kuat untuk menjalankan kewajibannya kepada pemegang polis,” kata Handoyo saat pemaparan kinerja industri asuransi jiwa kuartal I 2026 di Graha AAJI, Selasa (2/6/2026).
Ia menambahkan, aset tidak hanya menjadi ukuran kinerja bisnis, tetapi juga mencerminkan kemampuan industri menghadapi berbagai tantangan eksternal sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat.
Dari sisi investasi, total dana yang dikelola industri mencapai Rp 571,7 triliun atau tumbuh 5,7% secara tahunan. Dana tersebut ditempatkan pada berbagai instrumen investasi yang disesuaikan dengan profil risiko serta kebutuhan pengelolaan kewajiban jangka panjang perusahaan asuransi.
Meski demikian, industri mengakui hasil investasi pada kuartal pertama tahun ini mengalami tekanan akibat volatilitas pasar keuangan. Kondisi tersebut dipengaruhi pergerakan pasar saham maupun instrumen investasi lain yang sensitif terhadap perkembangan ekonomi global dan domestik.
Handoyo menilai, tekanan tersebut merupakan bagian dari siklus pasar yang lazim terjadi. Karena itu, industri tetap berpegang pada strategi investasi jangka panjang dengan mengutamakan prinsip kehati-hatian.
“Pengelolaan investasi tetap dilakukan secara prudent, dengan memperhatikan diversifikasi dan keberlanjutan,” ujarnya.
Peningkatan Porsi SBN
PerbesarKetua Bidang Keuangan, Permodalan, Investasi, dan Pajak Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Handoyo G. Kusuma saat pemaparan kinerja industri asuransi jiwa kuartal I 2026. (Foto: beritalokal.my.id/Immanuel Christian)
Strategi tersebut tercermin dari komposisi portofolio investasi yang masih didominasi instrumen berisiko relatif rendah. Surat Berharga Negara (SBN) menjadi penempatan terbesar dengan porsi 43,4% dari total investasi, meningkat dibandingkan 39,6% pada periode yang sama tahun lalu.
AAJI menilai, peningkatan porsi SBN menunjukkan komitmen industri dalam menjaga keseimbangan antara potensi imbal hasil dan pengelolaan risiko. Instrumen tersebut juga dinilai mampu mendukung stabilitas jangka panjang portofolio investasi perusahaan asuransi.
Selain SBN, industri tetap menerapkan diversifikasi investasi melalui berbagai instrumen lain. Saham menjadi instrumen terbesar kedua dengan porsi 19,7%, diikuti reksa dana sebesar 12,7%. Dana investasi juga ditempatkan pada deposito, obligasi korporasi, properti berupa tanah dan bangunan, hingga penyertaan langsung.
Menurut Handoyo, diversifikasi menjadi langkah penting untuk menjaga fleksibilitas pengelolaan aset di tengah kondisi pasar yang bergerak dinamis.
Ia menegaskan, fluktuasi pasar dalam jangka pendek merupakan hal yang wajar. Sebagai industri yang berorientasi jangka panjang, perusahaan asuransi jiwa tidak mengambil keputusan investasi berdasarkan gejolak sesaat, melainkan berfokus pada keberlanjutan dan kemampuan memenuhi kewajiban kepada nasabah dalam jangka panjang.
“Di tengah berbagai tantangan yang ada, industri asuransi jiwa tetap menunjukkan fondasi yang kuat, baik dari sisi perlindungan kepada masyarakat maupun kekuatan keuangannya,” kata Handoyo.
Minat Asuransi Jiwa Kuat, Jumlah Tertanggung Tembus 118 Juta Orang
PerbesarKetua Dewan Pengurus Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Albertus Wiroyo Karsono dalam paparan kinerja di Graha AAJI, Selasa (2/6/2026). (beritalokal.my.id/Christian)
Sebelumnya, industri asuransi jiwa mencatat sejumlah indikator positif pada kuartal I 2026. Di tengah dinamika ekonomi yang masih berlangsung, minat masyarakat terhadap produk perlindungan jiwa dinilai tetap terjaga, tercermin dari pertumbuhan premi bisnis baru, meningkatnya jumlah tertanggung, serta bertambahnya nilai uang pertanggungan.
Ketua Dewan Pengurus Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Albertus Wiroyo Karsono mengatakan premi dari segmen individu masih menjadi penopang utama industri dengan nilai Rp 35,75 triliun. Meski turun tipis 2,3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, segmen ini tetap menjadi basis terbesar perlindungan asuransi jiwa di Indonesia.
Sementara itu, premi dari segmen kumpulan tumbuh 5,7% menjadi Rp 11,52 triliun. Kenaikan tersebut menunjukkan meningkatnya kebutuhan perlindungan dari kalangan perusahaan dan institusi.
“Komposisi ini mencerminkan bahwa kebutuhan perlindungan terus berkembang, baik di tingkat individu maupun kelompok,” kata Albertus dalam paparan kinerja industri asuransi jiwa kuartal I 2026 di Graha AAJI, Selasa (2/6/2026).
Dari sisi bisnis baru, industri masih mencatat pertumbuhan positif. Premi bisnis baru secara weighted naik 1,5% menjadi Rp 10,71 triliun, sedangkan secara unweighted meningkat 5% menjadi Rp 27,90 triliun.
Menurut Albertus, pertumbuhan tersebut menunjukkan kebutuhan masyarakat terhadap produk asuransi jiwa masih terjaga. Peningkatan juga didorong oleh tingginya minat terhadap produk premi tunggal (single premium), terutama di kalangan nasabah dengan kapasitas finansial yang lebih kuat.
Produk tersebut dinilai tetap menarik karena menawarkan kombinasi antara perlindungan dan manfaat investasi, sehingga relatif tidak terlalu terpengaruh oleh kondisi ekonomi saat ini.
Bancassurance Masih Terbesar
PerbesarKetua Dewan Pengurus Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Albertus Wiroyo Karsono dalam paparan kinerja di Graha AAJI, Selasa (2/6/2026). (beritalokal.my.id/Christian)
Di sisi lain, premi lanjutan tercatat sebesar Rp 19,37 triliun atau turun 7,5% secara tahunan. Kendati demikian, kontribusinya masih signifikan terhadap industri karena mencerminkan komitmen nasabah dalam mempertahankan perlindungan jangka panjang.
AAJI juga mencatat bahwa kanal distribusi bancassurance masih menjadi kontributor terbesar bagi premi industri. Pada premi bisnis baru secara weighted, bancassurance menyumbang Rp 3,46 triliun, diikuti direct marketing sebesar Rp 2,69 triliun dan kanal keagenan Rp 2,42 triliun.
Sementara pada perhitungan unweighted, kontribusi bancassurance mencapai Rp 13,24 triliun, disusul direct marketing Rp 6,92 triliun dan keagenan Rp 4,04 triliun.
Selain itu, beberapa kanal distribusi lain turut mencatat pertumbuhan positif. Employee benefit consultant membukukan premi Rp 1,07 triliun, sedangkan broker mencapai Rp 610 miliar.
Menurut Albertus, beragamnya jalur distribusi menjadi faktor penting dalam memperluas akses masyarakat terhadap produk asuransi jiwa. Diversifikasi kanal juga membantu industri menjangkau kebutuhan perlindungan yang semakin beragam.
