beritalokal.my.id, Jakarta – Sebuah studi terbaru yang dipimpin peneliti Australia menemukan sekitar 16 persen es laut di Antarktika dipengaruhi oleh gelombang besar yang berasal dari Samudra Selatan. Temuan ini memberikan pemahaman baru mengenai dinamika es laut yang berperan penting dalam sistem iklim global.
Penelitian yang dipimpin oleh para ilmuwan dari University of Tasmania tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Nature Communications dan berfokus pada wilayah yang dikenal sebagai Marginal Ice Zone (MIZ) atau Zona Es Marjinal, dikutip dari Antara News, Minggu (31/5/2026).
Menurut pernyataan Australian Antarctic Program Partnership (AAPP) yang dirilis Kamis (28/5), para peneliti menggunakan teknik radar satelit untuk mengukur ketinggian gelombang yang memasuki es laut Antarktika selama periode 2013 hingga 2024.
Metode tersebut memanfaatkan data dari satelit Prancis-India yang diluncurkan pada 2013 dan memungkinkan para ilmuwan mengamati dampak gelombang terhadap es laut secara lebih akurat.
Penulis utama studi, Alex Fraser, menjelaskan bahwa pendekatan baru ini berbeda dari metode sebelumnya yang mendefinisikan Zona Es Marjinal berdasarkan konsentrasi es semata.
Sebaliknya, penelitian ini menggunakan definisi yang sesuai dengan standar World Meteorological Organization, yakni wilayah es laut yang secara langsung dipengaruhi oleh gelombang dan ombak dari laut lepas.
Hasil penelitian menunjukkan Zona Es Marjinal yang terdampak gelombang membentuk cincin selebar 35 hingga 180 kilometer di sekitar es laut Antarktika. Area tersebut mencapai ukuran terluas pada musim dingin dan awal musim semi ketika tepi es bertemu dengan kawasan bergelombang tinggi di Samudra Selatan.
Pertumbuhan Fitoplankton
PerbesarKapal pemecah es kutub milik China Xuelong 2 berlayar melintasi area es terapung di Laut Kosmonaut dan bertolak untuk melakukan perjalanan melalui area Bumi antara 40 dan 50 derajat lintang selatan, dalam ekspedisi Antarktika ke-36 China, pada 10 Januari 2020. (Xinhua/Liu Shiping)
Fraser mengatakan, es laut yang tidak terdampak gelombang cenderung membentuk lapisan pelindung yang lebih utuh di atas permukaan laut sehingga membatasi pertukaran panas, kelembapan, dan gas seperti karbon dioksida dengan atmosfer.
Namun ketika gelombang memecah lapisan es, celah yang terbentuk di antara bongkahan es memungkinkan pertukaran energi dan gas berlangsung lebih intensif.
Selain memengaruhi proses iklim, Zona Es Marjinal juga berfungsi sebagai pelindung bagi lapisan es di bagian dalam serta mendukung ekosistem laut Antarktika.
Menurut Fraser, perairan yang terbuka akibat mencairnya es di tepi kawasan tersebut mendorong pertumbuhan fitoplankton yang menjadi sumber makanan utama krill. Krill kemudian menopang rantai makanan bagi penguin, anjing laut, dan paus di kawasan kutub selatan.
Para peneliti menilai pemahaman yang lebih baik mengenai interaksi antara gelombang dan es laut sangat penting untuk menjelaskan penurunan signifikan luas es laut Antarktika yang terjadi sejak 2016.
Temuan tersebut juga diharapkan dapat membantu perencanaan ekspedisi ilmiah Australia ke Zona Es Marjinal di Antarktika Timur yang dijadwalkan berlangsung pada 2028 menggunakan kapal pemecah es.
