beritalokal.my.id, Tel Aviv – Militer Israel (IDF) resmi merebut Kastel Beaufort, sebuah benteng pertahanan bersejarah peninggalan era Perang Salib yang berada di Lebanon Selatan. Bersamaan dengan itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan pasukannya untuk memperdalam dan memperluas operasi militer di wilayah Lebanon.
Kastel Beaufort terletak di atas tebing strategis di dekat Kota Nabatiyeh, sekitar 14 kilometer dari perbatasan Israel. Perebutan benteng berusia 900 tahun yang menghadap langsung ke Sungai Litani ini berhasil dicapai setelah beberapa hari pertempuran darat sengit dan gelombang serangan udara hebat.
Dalam rilisnya pada Minggu (31/5/2026) seperti dikutip dari laporan CNN, IDF menyatakan bahwa fokus operasi ofensif kali ini adalah menguasai penuh Punggung Bukit Beaufort (Beaufort Ridge) dan kawasan Wadi al-Saluki. Langkah ini bertujuan untuk menghancurkan seluruh infrastruktur militer kelompok Hizbullah yang tertanam di kedua wilayah tersebut. Pihak militer mengklaim Hizbullah menggunakan kawasan pusaka tersebut sebagai pusat komando taktis dan titik peluncuran roket ke wilayah Israel Utara.Simbolisme dan Pergeseran KebijakanNetanyahu memuji keberhasilan operasi tersebut dan menyebutnya sebagai sebuah titik balik.
“Kami kembali ke Beaufort dengan kekuatan yang lebih besar dari sebelumnya,” ujar Netanyahu dalam pidatonya pada hari Minggu.
Ia mengonfirmasi bahwa pasukan dari Brigade Golani telah berhasil menguasai pos tersebut dan mengibarkan bendera Israel di atas reruntuhan kastel. Menurut Netanyahu, keberhasilan merebut kembali Beaufort merupakan “tahap yang dramatis dan perubahan besar dalam kebijakan militer yang kami jalankan.”
Pihak IDF mengonfirmasi adanya korban jiwa, di mana seorang tentara Israel dilaporkan tewas dalam pertempuran jarak dekat yang sengit selama proses perebutan kompleks bukit Beaufort tersebut.
Di sisi lain, Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA) melaporkan adanya pengeboman intensif di sekitar kastel sebelum kejatuhannya. Hizbullah sendiri sempat mengklaim telah memberikan perlawanan sengit, termasuk menghancurkan sebuah tank Israel di dekat area Beaufort. Tiga hari sebelum kastel jatuh, Pemerintah Kota Arnoun telah mengecam agresi Israel dan meminta bantuan organisasi internasional untuk melindungi situs bersejarah tersebut.
Pelanggaran Status Perlindungan UNESCO
Secara historis, Kastel Beaufort memegang nilai emosional yang mendalam bagi kedua belah pihak. Ini adalah pertama kalinya Israel kembali mengendalikan Beaufort setelah 26 tahun, pasca penarikan mundur pasukan mereka pada tahun 2000 silam setelah mendudukinya selama 18 tahun sejak invasi 1982 melawan PLO (Palestine Liberation Organization atau Organisasi Pembebasan Palestina).
UNESCO sebelumnya mengategorikan Kastel Beaufort sebagai salah satu contoh arsitektur militer abad pertengahan yang paling terawat di kawasan Levant. Pada akhir tahun 2024, menyusul invasi darat Israel, UNESCO bahkan memasukkan Beaufort ke dalam daftar 34 situs budaya Lebanon yang memperoleh status “perlindungan sementara tingkat tinggi”—sebuah status hukum internasional yang melarang keras penggunaan situs untuk kepentingan militer atau menjadikannya target serangan.
Eskalasi Melintasi Sungai Litani hingga Zaharani
Kejatuhan Beaufort menandai runtuhnya komitmen kesepakatan gencatan senjata yang sempat dimediasi oleh Amerika Serikat (AS) pada bulan April. Alih-alih mereda, Israel justru terus bergerak semakin jauh menembus jantung pertahanan Lebanon.
Pada Jumat pekan lalu, Netanyahu mengumumkan bahwa pasukannya telah menyeberangi Sungai Litani yang berada sekitar 30 kilometer di utara perbatasan.
“Sekarang arahan saya adalah memperdalam dan memperluas kendali kami atas wilayah yang sebelumnya berada di bawah kontrol Hizbullah,” tegas Netanyahu pada hari Minggu.
Guna memuluskan pergerakan pasukannya, IDF tidak hanya memperluas operasi di utara Sungai Litani, tetapi juga mulai mengeluarkan perintah evakuasi darurat baru bagi warga sipil di desa-desa Lebanon Selatan untuk mengosongkan wilayah mereka dan bergerak lebih jauh ke utara, melintasi Sungai Zaharani.
Selain mengamankan titik tinggi di Beaufort, IDF mengklaim telah meluncurkan serangan udara paralel yang menghancurkan fasilitas penyimpanan senjata serta pusat komando Hizbullah di wilayah pesisir Tyre dan beberapa distrik pinggiran lainnya.
Implikasi Geopolitik Global
Peluasan operasi militer Israel di Lebanon diprediksi akan mempersulit dinamika diplomatik global, khususnya upaya negosiasi tidak langsung antara AS dan Iran. Teheran secara konsisten menuntut agar kesepakatan apa pun yang dicapai harus mencakup klausul gencatan senjata menyeluruh di Lebanon.
Namun, posisi Israel diyakini mendapat dukungan politik yang kuat dari sekutu utamanya. Seorang pejabat senior Israel mengungkapkan kepada CNN bahwa dalam komunikasi terbarunya pekan lalu, Presiden AS Donald Trump secara langsung menyampaikan dukungannya kepada Netanyahu untuk mempertahankan “kebebasan bertindak secara penuh dalam menghadapi ancaman di semua lini, termasuk di Lebanon.”
