BeritaLokal, Jakarta –
Studi Kaji Risiko Konflik AS-China: Potensi Eskalasi Nuklir di Asia Pasifik
Selain itu, laporan dari International Institute for Strategic Studies (IISS) menyatakan bahwa konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok terkait Taiwan bisa berubah menjadi konflik nuklir. Dalam skenario terburuk, kedua negara mungkin melancarkan operasi militer besar-besaran yang merengkerui pusat komando dan sistem komunikasi lawan. Laporan ini dirilis Kamis (28/5/2026) menjelang Shangri-La Dialogue, forum keamanan global di Singapura.
IISS menggambarkan kawasan Asia Pasifik sebagai pusat persaingan senjata nuklir. Negara-negara strategis seperti Jepang, Korea Selatan, dan Filipina tengah memperkuat arsenal mereka, sementara negara tanpa nuklir meningkatkan kemampuan serangan jarak jauh. Kedua pihak terus mengganggu stabilitas strategis, dengan risiko eskalasi yang bisa mencapai level nuklir.
Selain itu, IISS menyoroti perluasan kapasitas militer di kawasan ini, termasuk kemampuan serangan strategis. Pemerintah AS dan Tiongkok belum memberikan tanggapan resmi terhadap laporan tersebut. Di sisi lain, Taiwan tetap berada dalam status siaga tinggi, dengan pemerintahan Taipei menolak klaim kedaulatan China.
Apa Saja yang Akan Dibahas dalam Dialog Shangri-La?
Di forum ini, isu utama meliputi konflik di Iran, ketidakpastian terkait komitmen AS di kawasan Asia, dan perbedaan doktrin militer antara AS dan Tiongkok. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth akan berbicara pada 30 Mei, sementara pemerintah Tiongkok belum mengonfirmasi kehadiran Menteri Pertahanan Dong Jun.
Dialog ini akan berlangsung setelah pertemuan Presiden Xi Jinping dan Trump di Beijing awal bulan ini. Kehadiran Trump di Beijing menimbulkan kekhawatiran di Taipei terkait komitmen AS untuk membantu Taiwan mempertahankan diri. Pemerintahan Tiongkok menegaskan akan mengutamakan “penyatuan secara damai” meski menyebut tidak pernah menutup kemungkinan mengambil alih Taiwan.
Risiko Eskalasi Konflik China-Taiwan
Laporan IISS, yang berisi 156 halaman, kaji doktrin militer dan skenario konflik di Taiwan. Dalam skenario terburuk, AS dan Tiongkok diperkirakan memiliki tujuan berbeda: China menghalau AS dan sekutunya, sementara AS memperkuat ketahanan Taiwan. Namun, kedua pihak diperkirakan akan melancarkan operasi besar di berbagai ranah militer.
Risiko eskalasi nuklir masih tinggi, meski belum ada pembahasan spesifik tentang nuklir dalam pertemuan Trump-Xi. Peneliti IISS Daniel Salisbury mengatakan bahwa dialog antara AS dan China akan lebih rumit karena persenjataan nuklir Tiongkok bersifat tertutup. Meski demikian, AS dan Rusia masih memiliki persenjataan nuklir yang jauh lebih besar.
AS Masih Menunda Penjualan Senjata ke Taiwan
Di sisi lain, AS masih menunda penjualan senjata ke Taiwan, dengan keputusan terkini diumumkan oleh Pelaksana Tugas Menteri Angkatan Laut Hung Cao. Pemutusan penjualan senjata ini disebabkan untuk memastikan AS memiliki amunisi bagi Operation Epic Fury di Iran.
Trump akan segera memutuskan keputusan ini, meski belum ada informasi terbaru. Pemerintahan AS terikat oleh Taiwan Relations Act 1979, yang menuntut bantuan militer untuk Taiwan. Kebijakan terhadap Taiwan tidak berubah setelah pertemuan Trump-Xi.
BeritaLokal, Beijing
Analisis Lengkap: Peningkatan Persenjataan dan Risiko Konflik
Laporan IISS menyoroti perubahan dinamis dalam persenjataan militer di kawasan Asia Pasifik. Tiongkok diperkirakan akan memiliki 1.000 hulu ledak nuklir pada 2030, sementara AS memiliki 3.700. Federasi Ilmuwan Amerika Serikat memperkirakan Rusia memiliki 4.400 hulu ledak aktif.
Kemampuan serangan jarak jauh Tiongkok meningkat, sementara AS berupaya memperkuat ketahanan Taiwan. Dalam skenario terburuk, konflik bisa berubah menjadi nuklir. Pemerintah AS dan Tiongkok belum memberikan tanggapan resmi terhadap laporan tersebut, meski kawasan Asia Pasifik tetap menjadi pusat persaingan senjata nuklir.
Sementara itu, AS masih menunda penjualan senjata ke Taiwan, dengan keputusan yang dipercepat untuk memastikan amunisi bagi operasi di Iran. Kebijakan terhadap Taiwan tidak berubah meski Trump menghargai komitmen AS untuk membantu Taiwan mempertahankan diri.
[END]
Artikel Terkait
AS Tembak Rudal ke Kapal Iran yang Langgar Blokade Selat Hormuz
3 Juni 2026
Produksi Beras Indonesia Mendorong Rekor Puncak di Asia Tenggara Hari Ini
20 Juni 2026
BI Rate Meningkat Kembali, Masyarakat Mulai Ragu Pinjam ke Bank
20 Juni 2026
Pilih Rumah Baru! Jangan Lewatkan Langkah Penting Ini
20 Juni 2026
IMD: Peringkat Daya Saing Indonesia Meningkat
20 Juni 2026
Harga Perak Antam Mengalami Kenaikan Tetap di Rp 43.150 Hari Ini
20 Juni 2026
Timnas Esports Indonesia Tidak Menyabet Tiket Asian Games 2026, Mobile Legends: Dihancurkan oleh Kekecewaan
20 Juni 2026
Lalu Lintas Kapal Tanker Minyak di Selat Hormuz Naik
20 Juni 2026
Memuat komentar...