BeritaLokal, Hormuz – Lalu lintas kapal tanker minyak di Selat Hormuz mencapai level tertinggi sejak perang terjadi, tetapi masih tergantung pada kebijakan bilateral AS-Iran. Menurut laporan Kpler (Perusahaan Intelijen Perdagangan), sejumlah 20 kapal tanker telah melintasi selat tersebut dalam pekan ini, menunjukkan kembali aktivitas komersial setelah blokade AS terhadap Iran dihapus.
Peningkatan lalu lintas mencerminkan pemulihan kerja sama antara dua negara yang sebelumnya memutuskan pembatasan ekspor minyak mentah Iran. Kpler mengatakan transisi kapal pada Kamis mencapai puncak sejak 2 Juni, saat AS dan Teheran menyepakati perizinan untuk kapal melintasi Hormuz tanpa bea selama 60 hari. Dalam jumlah total, 25 kapal, termasuk kargo, kontainer, dan tanker besar, bergerak di sepanjang rute yang diperlukan.
Direktur Kpler, Matt Smith, mengatakan arus dua arah seimbang dengan 13 penyeberangan dari Barat ke Timur dan 12 dari Timur ke Barat. Tiga kapal tanker super Arab Saudi dan satu dari Uni Emirat Arab melintasi selat hari Kamis, sementara lima kapal tanker super Iran yang bermuatan minyak terlihat meninggalkan wilayah tersebut. Analis menuturkan bahwa perdagangan minyak mentah Iran kembali mendekati pola normal setelah kesepakatan AS-Iran dibatalkan.
Pada Jumat, harga minyak Brent naik 0,9% ke US$80,57 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik 1,23% menjadi US$77,54. Kenaikan harga terjadi setelah pembicaraan AS-Iran di Swiss dibatalkan, menyebabkan ketidakpastian atas upaya untuk memperbaiki kesepakatan sementara. Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan bahwa Iran “menghormati komitmen mereka” dalam pernyataannya Kamis.
Selain itu, pengelolaan Selat Hormuz menjadi topik kontroversi setelah periode bebas tol 60 hari berakhir. Iran akan membuka pembicaraan dengan Oman dan negara-negara Teluk untuk menentukan kebijakan pemerintah, meski hal ini mungkin memperkenalkan biaya di masa depan. Kementerian Luar Negeri Swiss menyebut pembicaraan AS-Iran di Burgenstok tidak berjalan sesuai rencana, sementara Gedung Putih mengatakan Wakil Presiden Vance tidak akan pergi ke Swiss karena masalah logistik.
Kapal tanker dengan lebih dari 12 juta barel melintasi selat semalam, menurut Vance. “Iran tidak menembaki kapal apa pun di Selat Hormuz,” katanya. Meski demikian, tekanan politik terus berlangsung, dan kelonggaran ekonomi masih menjadi fokus utama bagi kedua negara.