Di tengah mahalnya pakan, harga telur anjlok di bawah modal. Mendag siapkan strategi penyerapan untuk dongkrak harga telur.
PerbesarPekerja mengambil telur yang dikumpulkan di sebuah wadah di Cibeber, Cianjur, Jawa Barat, Rabu (30/11). Peternakan ayam tersebut memproduksi telur ayam mencapai satu ton telur per hari dari 20 ribu ekor ayam. (/Faizal Fanani)
, Jakarta – Menteri Perdagangan (Mendag), Budi Santoso, mengamini harga telur sedang anjlok di tingkat peternak. Dia meminta program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga bantuan pangan dialokasikan untuk menyerap komoditas tersebut.
Cara tersebut diharapkan mampu menstabilkan harga telur di tingkat peternak. Budi mengaku telah berkoordinasi dengan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Naniek S. Deyang, agar program MBG di daerah surplus mampu menyerap pasokan telur lokal.
“Kemarin ada beberapa daerah ya, terutama di Jawa Timur, di Blitar itu harga telur kan turun. Sehingga kita sudah berkoordinasi dengan BGN dan dengan Kepala BGN yang baru, bahwa SPPG di daerah tersebut diwajibkan untuk menyerap telur,” ungkap Budi di Kantor Kemendag, Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Skema tersebut diharapkan dapat mengerek naik permintaan telur, sehingga harganya merangkak ke level wajar mendekati harga acuan pembelian (HAP). Saat ini, harga telur di tingkat peternak berkisar Rp 20.600–Rp 22.000 per kilogram, jauh di bawah HAP yang ditetapkan sebesar Rp 24.500–Rp 26.500 per kilogram.
“Sehingga harga bisa mendekati atau sesuai HAP, dan para peternak akan mendapatkan harga yang bagus,” ucap Budi.
Dia juga membuka kemungkinan telur dimasukkan sebagai salah satu komoditas bahan pokok yang dibagikan dalam program bantuan pangan pemerintah. “Jadi misalnya ketika harga telur itu sedang turun, maka bantuan pangan tidak mesti Minyakita atau beras, tapi bisa juga telur,” ujarnya.
Stabilisasi Harga
PerbesarPekerja memilah telur ayam di kandang ternak ayam telur di Cibeber, Cianjur, Jawa Barat, Rabu (30/11). Peternakan ayam tersebut memproduksi telur ayam mencapai satu ton telur per hari dari 20 ribu ekor ayam. (/Faizal Fanani)
Budi menuturkan, produksi telur yang mengalami surplus 12 persen saat ini turut menekan harga di tingkat peternak karena belum diimbangi oleh kenaikan permintaan. Bantuan pangan dan mandatori penyerapan ke program MBG akan menjadi instrumen utama pemerintah.
“Penyerapannya sebenarnya ada, tinggal kita mengatur manajemennya untuk SPPG dengan baik, sehingga telur bisa terserap,” katanya.
“Tidak hanya telur. Kebutuhan bahan pokok lain seperti daging ayam, apabila harganya turun di bawah acuan, maka BGN juga akan kita minta untuk menyerapnya di SPPG,” imbuh Budi.
Peternak Blitar Protes
PerbesarPekerja mengumpulkan telur dari peternakan ayam di kawasan Depok, Jawa Barat, Senin (23/7). Tingginya harga telur ayam di pasaran karena tingginya permintaan saat lebaran lalu yang berimbas belum stabilnya produksi telur. (/Immanuel Antonius)
Sebelumnya, ratusan peternak yang tergabung dalam Peternak Rakyat Blitar Raya melakukan aksi unjuk rasa di Blitar, Jawa Timur, mendesak pemerintah untuk melindungi para peternak mikro.
Koordinator Peternak Rakyat Blitar Raya, Suyanto, mengatakan anjloknya harga telur ini sudah berlangsung selama tiga bulan dan membuat para peternak sangat kesulitan.
“Harga telur anjlok. Hari ini di kandang Rp20.600 per kilogram, sementara HPP (harga pokok produksi) di kami itu Rp23.000 per kilogram. Padahal HAP sebesar Rp24.500 sampai Rp26.500 per kilogram,” katanya saat dikonfirmasi di Blitar, mengutip Antara.
Biaya Pakan Mahal
PerbesarPekerja mengumpulkan telur dari peternakan ayam di kawasan Depok, Jawa Barat, Senin (23/7). Tingginya harga telur ayam di pasaran karena tingginya permintaan saat lebaran lalu yang berimbas belum stabilnya produksi telur. (/Immanuel Antonius)
Ia menambahkan, penderitaan peternak semakin diperparah oleh melonjaknya harga pakan ayam yang naik hingga Rp30.000 per karung.
“Harga pakan ayam isi 50 kilogram yang dahulu Rp370.000 kini menjadi Rp400.000 per karung. Ada juga yang dahulu Rp400.000 kini menjadi Rp430.000,” jelasnya.
Menurut dia, kondisi itu diperberat dengan harga jagung pakan yang relatif tinggi, yakni berkisar antara Rp6.400 hingga Rp6.500 per kilogram, berada di atas harga pasokan SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) jagung sebesar Rp5.500 per kilogram.
Ia menyebut, para peternak saat ini hanya bisa bertahan dengan terpaksa menjual barang berharga di rumah demi membeli pakan ternak, tanpa tahu pasti kapan situasi akan kembali normal.
