Disorot FBI, Kelompok Ransomware Ini Nekat Kirim Teknisi IT Palsu ke Kantor Korban

BeritaLokal, Jakarta – Kebahakan siber terus berkembang dalam skala yang semakin menakutkan, dengan kelompok penjahat digital Silent Ransom Group menjadi pemicu perhatian baru. Pada periode Januari hingga Mei 2026, geng ini dilaporkan menyasar puluhan korban, terutama firma hukum, menggunakan taktik nekat yang menciptakan ancaman nyata bagi data sensitif.

Berdasarkan laporan tim keamanan Google, Mandiant, dan Google Threat Intelligence Group, Silent Ransom Group menggabungkan metode fisik dengan teknik pemerasan digital. Mereka tidak lagi memblokir atau mengenkripsi data melalui ransomware tradisional, tetapi beralih ke strategi pemerasan murni. Geng ini membuat situs kebocoran sendiri dan menjamin bahwa korban akan terkena ancaman publikasi dokumen sensitif jika tidak membayar uang tebusan.

“Jika diabaikan atau tidak ada kesepakatan, kami akan memberi tahu karyawan, mitra, dan klien Anda, setelah itu kami akan mempublikasikan data Anda,” tulis peretas dalam email ancaman yang diterbitkan Google. Taktik ini menciptakan kekhawatiran karena mengarah pada penerapan metode fisik langsung di luar ruang kerja-seperti mengirim teknisi IT palsu secara langsung ke kantor korban.

Sementara itu, Federal Bureau of Investigation (FBI) juga merilis peringatan serupa. Mereka mengonfirmasi beberapa insiden di mana individu menyamar sebagai teknisi dukungan IT berhasil masuk ke area fisik kantor korban. Dalam aksinya, pelaku menempatkan USB drive untuk menyedot data dan memanfaatkan fitur bawaan platform seperti Zoom atau Microsoft Teams untuk membuka akses jarak jauh. Dokumen yang menjadi target utama meliputi kontrak kerja, informasi pribadi sensitif (seperti nomor jaminan sosial), catatan keuangan, dan pajak.

Kombinasi phishing dan social engineering juga digunakan oleh geng ini. Melalui telepon, pelaku memandu korban dengan instruksi verbal, seperti mengarahkan mereka untuk melakukan sesi berbagi layar di platform populer. Dalam prosesnya, peretas berhasil melewati sistem keamanan digital dan membuka akses langsung ke komputer korban.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa ancaman siber tidak hanya berasal dari serangan jarak jauh, tetapi juga dari pintu depan kantor-dengan strategi yang semakin kompleks. Sebagai antisipasi, perusahaan harus memperkuat keamanan fisik dan digital secara bersamaan.

Kebahakan siber terus mengalami transformasi, dengan kelompok penjahat siber memperkenalkan metode yang lebih kreatif dan menakutkan. Tantangan ini tidak hanya bagi korporasi, tetapi juga bagi masyarakat di seluruh dunia.

Artikel Terkait

0