Simak rincian harga emas di Pegadaian hari ini Minggu 7 Juni 2026.
PerbesarIlustrasi. Simak rincian harga emas di Pegadaian hari ini Minggu 7 Juni 2026. (/Angga Yuniar)
, Jakarta – Harga emas Pegadaian hari ini Minggu 7 Juni 2026 untuk jenis emas UBS, Antam, dan Galeri24 kompak turun, masing-masing menjadi Rp 2.759.000, Rp 2.848.000, dan Rp 2.729.000 per gram. Namun perlu diingat bahwa harga tersebut sewaktu-waktu bisa berubah.
Adapun harga tiga jenama emas di Pegadaian pada Sabtu (6/6/2026) kemarin yakni UBS Rp 2.836.000, Antam Rp 2.881.000, dan Galeri24 Rp 2.773.000 per gram
Untuk Galeri24 dan Antam dijual dengan kuantitas 0,5 gram hingga 1.000 gram atau 1 kilogram, sementara emas UBS dijual dengan kuantitas 0,5 gram hingga 500 gram.
Berikut daftar lengkap harga emas di Pegadaian, Minggu (7/6/2026), seperti dikutip dari Antara:
Galeri24
- 0,5 gram: Rp 1.431.000
- 1 gram: Rp 2.729.000.
- 2 gram: Rp 5.391.000
- 5 gram: Rp 13.379.000
- 10 gram: Rp 26.685.000
- 25 gram: Rp 66.355.000
- 50 gram: Rp 132.605.000
- 100 gram: Rp 265.078.000
- 250 gram: Rp 661.066.000
- 500 gram: Rp 1.322.132.000
- 1.000 gram: Rp 2.644.262.000
Antam
- 0,5 gram: Rp 1.476.000
- 1 gram: Rp 2.848.000
- 2 gram: Rp 5.633.000
- 3 gram: Rp 8.423.000
- 5 gram: Rp 14.004.000
- 10 gram: Rp 27.950.000
- 25 gram: Rp 69.745.000
- 50 gram: Rp 139.407.000
- 100 gram: Rp 278.733.000
- 250 gram: Rp 696.556.000
- 500 gram: Rp 1.392.893.000
- 1000 gram: Rp 2.785.744.000
UBS
- 0,5 gram: Rp 1.491.000
- 1 gram: Rp 2.759.000
- 2 gram: Rp 5.474.000
- 5 gram: Rp 13.526.000
- 10 gram: Rp 26.911.000
- 25 gram: Rp 67.145.000
- 50 gram: Rp 134.014.000
- 100 gram: Rp 267.923.000
- 250 gram: Rp 669.609.000
- 500 gram: Rp 1.337.646.000
Harga Emas Kehilangan Kilaunya, Tertekan Data Tenaga Kerja AS
PerbesarIlustrasi harga emas dunia hari ini (Foto By AI)
Sebelumnya, harga emas dunia merosot tajam pada perdagangan Jumat (Sabtu waktu Jakarta) setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang lebih kuat dari perkiraan memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama di tengah meningkatnya risiko inflasi akibat konflik di Timur Tengah.
Dikutip dari CNBC, Sabtu (6/6/2026), harga emas di pasar spot turun 2,2 persen menjadi USD 4.375,19 per ons. Secara mingguan, logam mulia tersebut telah melemah sekitar 3,6 persen.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus juga turun 2,2 persen ke level USD 4.405,10 per ons.
Data Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan jumlah tenaga kerja nonpertanian (nonfarm payrolls) bertambah 172.000 pekerjaan pada Mei 2026, setelah sebelumnya meningkat 179.000 pekerjaan pada April yang telah direvisi naik.
Angka tersebut jauh melampaui proyeksi ekonom dalam survei Reuters yang memperkirakan penambahan hanya 85.000 pekerjaan, setelah laporan awal April menunjukkan kenaikan 115.000 pekerjaan.
“Kami mendapatkan data payroll yang jauh lebih tinggi dari ekspektasi pasar,” ujar Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities, Bart Melek.
Menurut dia, kondisi tersebut memperkecil kemungkinan The Fed menurunkan suku bunga dalam waktu dekat, terutama karena perang yang melibatkan Iran masih berlangsung dan harga energi terus meningkat sehingga menambah tekanan inflasi.
“Dengan masih berlangsungnya konflik di Iran serta tingginya harga energi dan tekanan inflasi, sangat kecil kemungkinan The Fed memiliki keinginan untuk menurunkan suku bunga. Implikasinya bagi emas adalah biaya kepemilikan aset ini menjadi semakin tinggi,” jelasnya.
Yield Obligasi AS Melonjak
PerbesarPialang saham John Romolo bekerja di lantai Bursa Efek New York atau sering disebut Wall Street, Senin, 13 Oktober 2025. (Foto AP/Richard Drew)
Setelah data ketenagakerjaan dirilis, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS langsung melonjak. Kenaikan yield tersebut meningkatkan biaya peluang (opportunity cost) untuk memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Di saat yang sama, harga minyak mentah Brent juga bergerak menuju kenaikan mingguan seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Sejak konflik yang didukung AS terhadap Iran pecah pada akhir Februari lalu, harga emas telah terkoreksi lebih dari 16 persen. Konflik tersebut memicu lonjakan harga minyak dunia sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan potensi kenaikan suku bunga.
Meski emas selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga biasanya justru memberikan tekanan terhadap harga logam mulia tersebut karena membuat instrumen berbunga menjadi lebih menarik bagi investor.
Berdasarkan data CME Group FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang sekitar 68 persen bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada Desember mendatang. Sebelum rilis data ketenagakerjaan, probabilitas tersebut masih berada di kisaran 50 persen.
