[BeritaLokal], Jakarta – Dalam era digital yang semakin kompleks, keamanan siber tradisional yang bergantung pada solusi terfragmentasi telah terbukti tidak mampu menghadapi ancaman baru berbasis kecerdasan buatan (AI). F5 Indonesia, perusahaan keamanan siber global yang aktif di pasar Indonesia, mengungkapkan bahwa pendekatan lama yang memisahkan perangkat keamanan berdasarkan lapisan jaringan, seperti perimeter, pusat data, dan server farm, telah menjadi jalan yang salah di tengah munculnya serangan otomatis yang berjalan dengan kecepatan dan kecerdasan tak terduga.
Country Manager F5 Indonesia, Surung Sinamo, menjelaskan bahwa strategi “best-of-breed” yang diterapkan sebelumnya, meski efektif dalam konteks serangan manual, kini terasa ketinggalan zaman. “Dulu, aktor siber membutuhkan waktu untuk berpindah dari satu target ke target lain, sehingga lapisan kedua masih bisa bersiap,” ujarnya. Namun, dengan munculnya AI sebagai alat utama pelaku kejahatan siber, serangan menjadi tidak hanya lebih cepat, tetapi juga lebih cerdas dan beradaptasi secara dinamis.
Pendekatan terfragmentasi, yang membuat perangkat dari vendor berbeda saling tidak berkomunikasi, menjadi titik lemah kritis. “Antara box A dan box B tidak pernah saling melihat. Tidak ada feedback, tidak ada closed loop. Jika ada masalah, kita harus mengambil log dari masing-masing perangkat secara manual dan mengorelasikannya,” lanjut Surung. Dalam era serangan AI yang bisa menyesuaikan diri, pendekatan manual ini tidak hanya lambat, tetapi juga tidak relevan sama sekali.
Untuk mengatasi tantangan ini, F5 Indonesia memperkenalkan Application Delivery and Security Platform (ADSP). Platform ini dirancang untuk menyatukan visibilitas dan pengelolaan keamanan di seluruh lingkungan operasional, baik itu di pusat data, cloud, maupun aplikasi berbasis API. “Melalui ADSP, seluruh konsol keamanan, mulai dari Big IP, NGINX, hingga Distributed Cloud, terintegrasi dalam satu dasbor tunggal,” jelas Surung. Ini berarti bahwa tim keamanan tidak lagi harus bergerak antar sistem, tetapi bisa melihat dan merespons ancaman secara real-time dari satu titik.
Surung juga menekankan bahwa F5 tidak berusaha menguasai seluruh spektrum keamanan dari ujung ke ujung. “Fokus kami sangat spesifik: mengamankan aplikasi, API, dan AI. Kita tidak mencoba menjadi vendor end-to-end, tapi menjadi platform yang memungkinkan integrasi dan koordinasi antar sistem,” ujarnya. Ini menunjukkan bahwa F5 memilih pendekatan yang lebih fleksibel dan berorientasi pada kebutuhan pelanggan, bukan pada dominasi teknologi.
Dengan munculnya serangan siber berbasis AI, dunia keamanan siber tidak lagi bisa mempercayai bahwa “dengan banyak perangkat, kita aman.” F5 Indonesia menegaskan bahwa keberhasilan dalam menghadapi ancaman baru tergantung pada integrasi, koordinasi, dan kecepatan respons, bukan pada jumlah solusi yang dipasang. ADSP bukan hanya solusi baru, tetapi juga perubahan paradigma dalam cara kita memahami dan menghadapi ancaman siber di masa depan.