BeritaLokal, Jakarta – Perjalanan rupiah terhadap dolar AS sepanjang 2026 dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan domestik, yang akhirnya memperlihatkan perubahan tajam. Pada pertengahan Juni 2026, nilai tukar rupiah kembali menguat ke level 17.865 per dolar AS, setelah terjadi tekanan intensif sebelumnya. Tindakan strategis dari Bank Indonesia (BI) dan pemerintah dianggap sebagai penentu kembalinya stabilitas nilai tukar rupiah.
Perjalanan Rupiah Sepanjang 2026
Sejak awal 2026, rupiah bergerak fluktuatif sepanjang kuartal. Pada bulan April, rupiah menyentuh level psikologis 17.000 per dolar AS, meski belum benar-benar menguat. Kenaikan suku bunga acuan BI dari 5% menjadi 5,50% pada 9 Juni 2026 menjadi kunci pemulihan kinerja rupiah. Data menunjukkan inflasi yang terus meningkat dan tekanan transaksi berjalan menyebabkan rupiah tetap di bawah level 18.000 per dolar AS hingga awal Juni.
Sentimen Rupiah
Analisis dari Doo Financial Futures mengatakan, tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi ketidakpastian global dan kondisi geopolitik di Timur Tengah. Namun, kebijakan moneter AS yang mempertahankan suku bunga tinggi serta kenaikan harga minyak dunia menjadi faktor utama melemahkan rupiah. Dari sisi domestik, sentimen pasar masih terbatas, meski ada proyeksi bahwa inflasi akan berkurang.
Kenaikan BI Rate
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengatakan kebijakan kenaikan suku bunga acuan 5,50% bertujuan untuk mendorong lelang obligasi. Dengan imbal hasil obligasi tenor 10 tahun meningkat dari 6,5% menjadi 7,4%, investor asing mulai membeli obligasi sebagai investasi lebih menarik. Namun, kenaikan suku bunga juga berdampak pada kredit rumah dan kendaraan, yang diperkirakan akan mengurangi daya beli masyarakat.
Prospek Rupiah
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis rupiah akan membaik pada semester II 2026. Ia menegaskan koordinasi antara kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan untuk mengendalikan gejolak. Dengan tambahan pasokan devisa melalui Devisa Hasil Ekspor (DHE), BI diharapkan mampu menjaga stabilitas nilai tukar secara bertahap.
Perkembangan ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap aset domestik, meski tekanan eksternal masih berpotensi. Dengan sinergi antara BI, PBOC, dan HKMA, Indonesia memperkuat ketahanan ekonominya di tengah tantangan global.