BeritaLokal, Jakarta – PT Kereta Api Indonesia (Persero) (KAI) terus memperkuat roadmap keberlanjutan energi dengan mengejar transisi bahan bakar kereta api dari B0 hingga B50. Langkah ini menjadi bagian strategi KAI dalam mendukung kebijakan pemerintah untuk mengurangi emisi karbon dan meningkatkan ketahanan energi nasional. Pada 2026, KAI berharap bisa mencapai tujuan menurunkan emisi sebesar 133 ribu ton CO₂e melalui penggunaan biodiesel B50, yang dianggap sebagai langkah penting dalam dekarbonisasi sektor transportasi.
Transisi bahan bakar ini berjalan bertahap, mulai dari B0 pada 2017 hingga B35 pada 2024. KAI memastikan setiap tahapan dilengkapi dengan uji teknis yang ketat untuk menjamin keandalan operasional dan efisiensi. Dalam rangka menguji kelayakan bahan bakar, KAI melakukan pengujian di lokomotif CC206, KA Sembrani, serta genset MTU 2000 P02411 pada KA Bogowonto. Hasil uji menunjukkan performa mesin, konsumsi bahan bakar, dan kemampuan tahan lama sarana kereta api.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengatakan bahwa transisi energi ini mencerminkan konsistensi kebijakan nasional. “Kami memastikan setiap tahapan berjalan selaras dengan keselamatan, keandalan layanan, efisiensi energi, dan penurunan emisi,” kata Bobby dalam wawancara terkini. KAI juga menekankan bahwa perubahan ini tidak hanya fokus pada reduksi emisi, tetapi juga memperkuat peran kereta api sebagai penghubung masyarakat dan sektor logistik.
Program dekarbonisasi KAI 2025-2030 mencakup transisi B35 ke B50 yang diharapkan menurunkan emisi sebesar 133.676 ton CO₂e. Dalam program ini, KAI berkolaborasi dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui pendekatan berbasis data, seperti pengukuran jejak karbon operasional kereta api yang menghasilkan sekitar 34,03 gram CO₂e per penumpang-kilometer. Teknologi Life Cycle Assessment (LCA) dijelaskan sebagai alat transparan dalam memantau dampak lingkungan layanan transportasi berbasis rel.
Selain itu, KAI terus mendukung kebijakan BBM subsidi untuk menjaga ketersediaan layanan kereta api. Dalam periode 2026, KAI mencatat realisasi penggunaan BBM subsidi sebesar 95,394.629 liter dari kuota 214.342.000 liter, dengan sisa kuota 118.947.371 liter. Dukungan ini memastikan kereta api tetap andal untuk melayani kebutuhan masyarakat dan sektor logistik.
Bobby menegaskan bahwa transisi energi perlu berjalan bersama keandalan layanan, karena transportasi publik yang bersih harus tetap aman, terjangkau, dan merespons kebutuhan masyarakat. “Kami percaya kereta api memiliki peran penting dalam transformasi energi Indonesia, khususnya dalam mengurangi emisi dan meningkatkan ketahanan energi nasional,” katanya.
Transisi B50 tidak hanya menjadi fokus KAI, tetapi juga menjadi bagian dari skema dekarbonisasi yang diatur pemerintah. Dengan berjuang untuk menyelesaikan tantangan lingkungan, KAI berharap dapat memberikan kontribusi signifikan dalam mengatasi masalah iklim sambil memastikan layanan transportasi tetap andal.