RUPST Alfamidi (MIDI) sepakati pembagian dividen tahun buku 2025 sebesar Rp396,2 miliar. Perseroan juga siap tambah 200 gerai baru di tahun 2026.
PerbesarSejak beroperasi pada 1 Juni 2023 sampai 30 September 2023, Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang terpasang di atap toko Alfamidi Suvarna Sutera, Cikupa, Kabupaten Tangerang, telah menghasilkan energi listrik 13.407 kWh.
, Jakarta – PT Midi Utama Indonesia Tbk (Alfamidi) bakal membagikan dividen sebesar 50 persen dari laba bersih 2025. Rasio pembayaran (payout ratio) tersebut naik dibanding tahun buku sebelumnya yang sebesar 45 persen.
Hal itu telah disepakati dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) perusahaan yang mempunyai kode saham MIDI pada Kamis, 4 Juni 2026.
“Naik dari 45 persen ke 50 persen dari laba bersih. Jadi Rp 396,2 miliar dividen yang akan dibagikan, atau Rp 11,85 per lembarnya,” ungkap Corporate Secretary PT Midi Utama Indonesia Tbk, Suantopo Po, saat Public Expose di Alfa Tower, Kota Tangerang, Kamis (4/6/2026).
Dalam RUPST tersebut disepakati bahwa dividen tahun buku 2025 akan dibayarkan kepada pemegang saham pada 25 Juni 2026.
Peningkatan dividen ini sejalan dengan kinerja keuangan perseroan yang bertumbuh positif. Hingga akhir tahun 2025, perseroan membukukan pendapatan neto sebesar Rp 20,64 triliun, atau tumbuh 3,79 persen bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar Rp 19,89 triliun.
“Sementara, laba tahun berjalan yang didistribusikan kepada pemilik entitas induk meningkat signifikan sebesar 45,01 persen menjadi Rp 792,36 miar, dibandingkan dengan tahun 2024 sebesar Rp 546,41 miliar,” jelas Suantopo.
Targetkan Tambah 200 Gerai
Memasuki tahun 2026, Suantopo mengungkapkan bahwa perseroan menargetkan penambahan sebanyak 200 gerai baru, baik di dalam maupun di luar Pulau Jawa.
“Adapun kebutuhan belanja modal atau capex-nya adalah sekitar Rp 1,5 triliun,” pungkasnya.
Lawson Tutup 300 Gerai pada 2024, Alfamidi Beri Penjelasan
PerbesarSuasana Gerai Lawson di Jalan Dr Wahidin, Kota Yogyakarta pada Rabu (4/6/2025). (Kukuh Setyono)
Sebelumnya, jaringan minimarket waralaba Lawson menutup sebanyak 300 gerai sepanjang 2024. Manajemen PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI), pengelola Alfamidi yang sebelumnya menjadi pemegang saham mayoritas Lawson menjelaskan, langkah tersebut merupakan hasil dari evaluasi berkala terhadap kinerja dan kelayakan operasional setiap gerai.
Dalam bisnis ritel, pembukaan dan penutupan toko adalah hal lumrah, terutama jika terdapat dinamika eksternal seperti perubahan lingkungan bisnis atau masalah perpanjangan sewa lokasi.
“Penutupan gerai bisa dikarenakan berbagai hal antara lain seperti pemilik tanah atau bangunan tidak ingin memperpanjang sewa lokasi, atau terjadi perubahan potensi lingkungan sekitar yang membuat kinerja gerai tidak feasible untuk dilanjutkan,” ujar Corporate Secretary MIDI, Suantopo Po dalam keterbukaan informasi Bursa, Jumat (23/5/2025).
Efisiensi Operasional Jadi Prioritas
Keputusan menutup ratusan gerai Lawson tidak berdiri sendiri, melainkan bagian dari strategi jangka panjang Alfamidi untuk memperkuat struktur operasional dan fokus pada lini bisnis yang lebih menguntungkan. Dengan menyusutnya kontribusi Lawson terhadap pendapatan, yakni hanya 4,3% per kuartal I 2025, perusahaan menilai bahwa efisiensi portofolio menjadi langkah yang masuk akal secara finansial.
Selain itu, banyak gerai yang terkena dampak memiliki performa suboptimal akibat perubahan lingkungan bisnis, seperti bergesernya pusat aktivitas masyarakat dan daya beli di area sekitar. MIDI menilai bahwa mempertahankan gerai-gerai tersebut tidak lagi relevan dengan strategi pertumbuhan berkelanjutan perusahaan.
Langkah ini diyakini akan berdampak positif terhadap perbaikan struktur biaya dan optimalisasi sumber daya yang selama ini terserap oleh unit bisnis yang tidak memberikan kontribusi signifikan.
