Ada Piala Dunia 2026, Ekonomi Amerika Serikat Ketiban Untung Rp 303 Triliun

beritalokal.my.id, Jakarta – Piala Dunia  yang dimulai Juni 2026 berpotensi memberikan keuntungan kepada ekonomi Amerika Serikat (AS). Namun, sejumlah analis menilai, potensi keuntungan dari penyelenggaraan Piala Dunia tidak akan mudah diraih.

Mengutip abcnews.com, Selasa, (2/6/2026), FIFA memprediksi Piala Dunia akan membawa tambahan pendapatan miliaran dolar AS ke Amerika Serikat (AS) melalui gelombang pengunjung yang akan memesan kamar hotel, makanan dan hiburan.

Bagi ekonomi yang sedang terpuruk akibat inflasi yang melonjak dan pembeli yang lesu, dorongan ini akan menjadi positif.

Namun, beberapa analis mengatakan, hal itu tidak semudah yang dibayangkan. Acara-acara besar, istilah yang digunakan ekonom untuk menggambarkan pertemuan budaya dan olahraga besar biasanya berkinerja lebih rendah dari keuntungan yang diprediksi oleh penyelenggara.

Analis menuturkan, sebagian besar penghasilan akan dihimpun oleh penyelenggara acara itu. Namun, uang dari wisatawan, sebagian besar untuk menggantikan penjualan yang seharusnya terjadi di kota-kota besar selama musim panas.

Akan tetapi, analis menilai, beberapa bisnis lokal antara lain bar dan hotel di sekitar stadion akan melihat keuntungan signifikan. Sementara yang lain mungkin akan rugi karena pengunjung beralih ke tempat lain.

“Kita pasti mengharapkan beberapa pemenang dan pecundang di sini,” ujar Ekonom College of Holy Cross, Victor Matheson.

Piala Dunia akan menghasilkan tambahan produk domestik bruto (PDB) untuk Amerika Serikat (AS) sebesar US$ 17 miliar atau Rp 303,42 triliun (asumsi US$ 1 terhadap rupiah di kisaran 17.850), berdasarkan perkiraan dari FIFA.

Sementara itu, total pengeluaranPiala Dunia akan mencapai US$ 11 miliar atau Rp 196,33 triliun.

 

 

Saxo Bank Ramal Kontribusi Piala Dunia ke PDB AS Sedikit

PerbesarSeorang wanita berjalan melewati jam hitung mundur Piala Dunia 2026 di Guadalajara, Negara Bagian Jalisco, Meksiko pada 10 September 2025. (ULISES RUIZ/AFP)

Berdasarkan laporan Saxo Bank, meski cukup besar, peningkatan PDB yang diperkirakan oleh FIFA hanya akan berjumlah sebagian kecil dari output besar ekonomi AS. Manfaat yang diantisipasi kurang dari 0,1% dari PDB tahunan AS.

“Dengan kata lain, Piala Dunia 2026 bukanlah pendorong pertumbuhan yang berarti bagi Amerika Serikat,” tulis Saxo Bank.

Matheson menuturkan, sebagian besar uang yang dihabiskan untuk turnamen akan diterima oleh FIFA melalui biaya tiket, merchandise dan penjualan lainnya.

Harga tiket yang melambung tinggi telah menuai kritik karena pembeli keberatan dengan sejumlah harga kursi di atas US$ 1.000 atau Rp 17,84 juta. Hal itu mengurangi pemasukan bagi bisnis lokal dan membatasi akses ke pertandingan.

“Sebagian uang yang dibelanjakan di kota-kota ini tidak bertahan lama. Uang yang dibelanjakan untuk tiket Piala Dunia langsung masuk ke FIFA,” kata Matheson.

Namun, awal Mei, pejabat FIFA membantah kritik atas harga tiket.

“Kita harus melihat pasar. Kita berada di pasar di mana hiburan paling berkembang di dunia, jadi kita harus menerapkan harga pasar,” ujar Presiden FIFA Gianni Infantino.

Ia menambahkan, meski beberapa orang mengatakan, harga yang ditetapkan tinggi, tiket itu tetap berakhir di pasar penjualan dengan harga lebih tinggi. Nilainya lebih dari dua kali lipat dari harga yang ditawarkan.

 

Sejumlah Kota Bakal Terima Keuntungan

PerbesarDua wanita berfoto di depan jam countdown Piala Dunia 2026 di Meksiko.

Sejumlah analis menuturkan, kota-kota tuan rumah berpotensi menuai beberapa keuntungan dari pertandingan itu, terutama bisnis perhotelan yang berlokasi di dekat stadion.

11 kota tuan rumah di Amerika Serikat tersebar antara lain Boston, Philadelphia, Kansas City dan Santa Clara, California.

Berdasarkan perusahaan konsultan Collier’s, Philadelphia akan menghasilkan US$ 770 juta atau Rp 13,74 triliun dari kegiatan Piala Dunia 2026.

General Manager Pastificio Deli, Anthony Messina mengakui jika pihaknya akan mendapat keuntungan dari lonjakan pengunjung ke stadion. “Ada banyak antusiasme,” ujar dia kepada abc news.

Namun, kenaikan penjualan hampir tidak dijamin benar-benar terjadi. Itu dengan melihat kondisi apakah penggemar sepak bola akan berpesta sebelum pertandingan. Lalu lintas yang macet diprediksi dapat mengurangi bisnis sehari-hari. “Ini seperti undian,” tambah dia.

Profesor dari Temple University, Michael Leeds menuturkan, gagasan tentang penggemar sepak bola yang memadati tempat usaha lain dapat terjadi di seluruh kota. “Orang-orang yang biasanya datang ke Philadelphia untuk melihat Liberty Bell atau Independence Hall mungkin akan khawatir dengan Piala Dunia,” ujar Leeds.



error: Content is protected !!