Analis Ungkap FTSE dan MSCI jadi Ujian bagi IHSG

Analis mengungkapkan lima kekhawatiran yang mendominasi sentimen investor dan berdampak terhadap IHSG.

PerbesarLayar monitor menunjukkan pergerakan pasar saham di lantai Bursa Efek Indonesia menjelang aktivitas perdagangan, Jakarta. (BAY ISMOYO/AFP)

, Jakarta – Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun 4,1% 5.941,06 pada perdagangan saham Rabu, 3 Juni 2026. IHSG sempat anjlok ke level 5.882, dan mendekati level terendah pada 2025. Sedangkan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mencapai 17.950.

Berdasarkan catatan Kiwoom Sekuritas Indonesia, investor asing mencatatkan aksi jual saham Rp 66,20 triliun sepanjang 2026. Kondisi ini dinilai terasa semakin kontras ketika beberapa bursa global mampu catatkan rekor baru masing-masing.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata meuturkan, pasar saat ini tidak lagi mempertanyakan kemampuan Indonesia untuk tumbuh, melainkan mempertanyakan kredibilitas Indonesia.

Ia menuturkan, ada lima kekhawatiran utama yang mendominasi sentimen investor. Pertama, governance & policy credibility pasca outlook negatif dari Moody’s dan Fitch. Kedua, tekanan rupiah yang mendekati level 18.000 terhadap dolar AS. Ketiga, menyusutnya kelas menengah yang selama ini menjadi motor konsumsi domestik. Keempat, aliran dana investor asing yang terus berlanjut.”Kelima meningkatnya leadership dan policy communication risk di mata investor global,” kata dia.

Lalu apakah Indonesia sedang memasuki fase structural de-rating? Liza menilai, belum tentu. Saat ini, ia menuturkan, pasar terlihat mulai memperlakukan Indonesia berbeda dibandingkan emerging market lain. “EIDO (Indonesia ETF) mencatat retur -28,6% sejak awal 2025, sementara emerging markets naik 64,5 persen. Vietnam naik 63,2%, Taiwan bertambah 107,2%, dan Amerika Serikat (AS) menanjak 30,9 persen,” kata dia.

Ia mengatakan, hal itu menunjukkan investor global tidak sedang meninggalkan emerging market. “Mereka secara spesifik sedang mengurangi eksposur terhadap Indonesia,” tutur dia.

 

Fokus Investor

PerbesarPada penutupan perdagangan hari ini, Selasa (8/4/2025), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 7,9% ke level 5.996,14. (/Herman Zakharia)

Lalu apa yang akan menjadi arah ke depan? Liza menuturkan, fokus investor kini bergeser dalam dua minggu paling krusial tahun ini. Pada 19 Juni 2026 akan berlangsung MSCI Global Market Accessibility Review dan FTSE Russell Global Equity Index Series Review, disusul FTSE Rebalancing yang efektif pada 22 Juni 2026 serta MSCI Annual Market Classification Review pada 24 Juni.

“Setelah Moody’s dan Fitch, FTSE dan MSCI berpotensi menjadi ujian berikutnya bagi kredibilitas pasar modal Indonesia,” kata dia.

Liza mengatakan, menariknya, hampir seluruh berita buruk yang dapat dibayangkan investor sebenarnya sudah muncul dalam enam bulan terakhir. “Rupiah melemah, foreign outflow meningkat, Moody’s dan Fitch negatif, kekhawatiran terhadap S&P meningkat, serta MSCI dan FTSE melakukan review terhadap Indonesia,” tutur dia.

 

Sentimen FTSE dan MSCI

PerbesarPekerja melintas di depan layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, Senin (3/1/2022). Pada pembukan perdagagangan bursa saham 2022 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung menguat 7,0 poin atau 0,11% di level Rp6.588,57. (/Angga Yuniar)

Ia menuturkan, hingga saat ini Indonesia masih mempertahankan status investment grade, S&P masih mempertahankan prospek stabil, MSCI belum mengubah klasifikasi Indonesia. FTSE juga belum menempatkan Indonesia dalam downgrade watch list.

“Artinya sebagian risiko, yang saat ini ditakuti pasar, masih berupa kemungkinan, bukan fakta yang telah terjadi,” kata dia.

“Masalahnya, kebijakan Indonesia yang tidak bijak, suka muncul tiba-tiba secara misterius, dan sering kali malah memberikan another blow to the market. Sementara pasar masih mencerna implementasi awal DSI, DHE SDA dan aturan baru pajak UMKM,” ia menambahkan.

Liza menuturkan, pasar tidak lagi mencari alasan untuk menjual. Ia menuturkan, pasar sedang mencari alasan untuk berhenti menjual. Dalam jangka pendek, FTSE dan MSCI kemungkinan akan menjadi ujian terpenting berikutnya.



error: Content is protected !!