Fed Menurunkan Suku Bunga: Harga Emas Menguat

BeritaLokal, Jakarta – Pemerintah memulai tahapan kebijakan moneter yang berpotensi menarik sentimen positif bagi harga emas dunia. Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai arah kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) berpotensi menjadi sentimen positif bagi harga emas global. Dia menjelaskan bahwa sejumlah indikator ekonomi terbaru menunjukkan tekanan inflasi mulai mereda, sehingga peluang kenaikan suku bunga The Fed semakin kecil.

Selain itu, data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari ekspektasi pasar membuat pihak berwenang mempertahankan suku bunga dalam waktu dekat, bahkan membuka peluang untuk memangkasnya jika inflasi terus bergerak menuju target 2%. “Kalau inflasi terus mendekati 2%, kemungkinan besar The Fed bukan lagi menaikkan suku bunga, tetapi justru akan menurunkannya. Itu menjadi sentimen yang sangat positif bagi harga emas,” kata Ibrahim di Jakarta, Minggu (5/7/2026).

Peningkatan harga emas terjadi karena ekspektasi penurunan suku bunga The Fed, yang berpotensi memengaruhi permintaan pasar. Menurut Ibrahim, tren kenaikan harga emas masih akan berlanjut apabila harga minyak tetap melemah dan inflasi Amerika Serikat terus terkendali. Harga emas dunia akhirnya mengakhiri tren penurunan empat pekan berturut-turut, mencatat kenaikan sekitar 2,3% sepanjang pekan dengan harga emas spot melonjak 1,4% menjadi US$ 4.182,28 per ons, menurut laporan CNBC.

Selain kebijakan moneter, pergerakan harga emas juga dipengaruhi oleh keseimbangan pasokan dan permintaan global. Analis OCBC mengatakan bahwa tren ini berlanjut meski investor tetap perlu berhati-hati karena tingkat pengangguran masih stabil dan risiko inflasi belum mereda. Harga logam lain seperti perak dan platinum juga menguat, dengan perak naik 2,9% menjadi US$ 62,77 per ons dan platinum mencatat kenaikan sekitar 2,8%.

Sementara itu, The Fed mempertahankan suku bunga pada Juli, dengan ekspektasi peningkatan 25 basis poin pada pertemuan September. Probabilitas kenaikan suku bunga di kisaran 53,5% menurut CME Group, turun dibandingkan sebelum data ketenagakerjaan dirilis. Ekspektasi suku bunga yang lebih rendah biasanya menjadi sentimen positif bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil, sehingga lebih menarik ketika suku bunga diperkirakan tidak lagi naik agresif.

Harga emas dunia masih berada di bawah rekor tertinggi sejak 2013, mencapai US$ 5.300 per ons pada Januari lalu. Meski demikian, tren pemulihan terus berlanjut dengan harapan harga emas bisa menembus level 5.000 hingga akhir tahun. Kebijakan moneter dan sentimen pasar akan menjadi fokus utama dalam beberapa bulan ke depan.

Artikel Terkait

0