Rupiah Melemah ke 17.992 terhadap Dolar AS: Faktor Ekonomi dan Geopolitik Menyebabkan Perubahan Kurs

BeritaLokal, Jakarta – Nilai tukar rupiah mengalami pergerakan lesu terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin pagi, (6/7/2026). Perkembangan sentimen global dan data ekonomi AS menjadi pemicu utama perubahan kurs rupiah, yang memperlihatkan tren fluktuatif namun tetap terbatas.

Selain faktor geopolitik seperti negosiasi AS-Iran, data ekonomi AS juga berpengaruh signifikan. Laporan Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) menunjukkan ekonomi Negeri Paman Sam menciptakan 57.000 lapangan kerja pada Juni, jauh di bawah ekspektasi pasar yang menargetkan 110.000 pekerjaan. Data penambahan tenaga kerja bulan Mei juga direvisi turun menjadi 129.000 dari sebelumnya 172.000, meskipun tingkat pengangguran secara tak terduga turun menjadi 4,2% dari 4,3%. Kenaikan rata-rata upah per jam sebesar 0,3% bulan ini dan 3,5% tahunan dinilai sesuai ekspektasi pasar.

Sementara itu, sentimen terkait negosiasi AS-Iran memperlihatkan keoptimisan yang beragam. Presiden AS Donald Trump menyatakan Iran “menyetujui hampir semua yang dibutuhkan,” meski Teheran menolak proposal Washington untuk melepaskan klaim atas Selat Hormuz sebagai imbalan atas pencairan dolar aset. Pemerintah AS menawarkan insentif finansial, termasuk akses terhadap dana yang dibekukan, untuk memastikan jalur pelayaran tetap terbuka tanpa hambatan. Namun, Iran masih belum menerima tawaran tersebut.

Perkembangan ini memperkuat risiko geopolitik, meskipun kekhawatiran gangguan langsung terhadap pasokan minyak mentah Teluk mereda. Pasar kini mengamati perkembangan lebih lanjut dalam negosiasi AS-Iran, arus minyak, serta tanda-tanda pemulihan permintaan setelah libur akhir pekan AS.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan Senin depan berada di rentang Rp 17.910-Rp 17.970, dengan pergerakan selama sepekan di rentang Rp 17.850-Rp 18.100. Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah akan bergerak di kisaran tersebut, meskipun perubahan kurs masih tergolong terbatas. Dengan data ekonomi AS yang lemah dan sentimen global yang menunjukkan optimisme investor, penguatan rupiah pada awal pekan tetap menjadi pertimbangan bagi para pedagang.

Artikel Terkait

0