Super Mario Bros Lawas Laku Rp 53 Miliar, Kok Bisa?

BeritaLokal, Jakarta – Super Mario Bros versi NES yang tersegel berhasil dilelang di Heritage Auctions dengan harga USD 3 juta (sekitar Rp 53,3 miliar), menciptakan rekor penjualan untuk kopi game klasik ini. Kebahagiaan kolektor dan pasar berargumen bahwa kondisi barang langka, rating tinggi dari PSA (Professional Sports Authenticator), serta segel stiker utuh menjadi penyebabnya.

Harga fantastis ini tergantung pada keunikan produk: Super Mario Bros NES produksi 1985, yang hanya tiga unit dikenal di dunia, dilelang sebagai versi paling awal. Segel stiker yang masih mengilap dan menutup kotak dengan sempurna memperkuat nilai barang, karena sebelumnya Nintendo beralih ke plastik shrink-wrap pada 1985. “Segel ini menunjukkan produksi kedua game tersebut,” kata Heritage Auctions dalam pernyataannya.

Pemicu penjualan ekstrem bukan hanya nama Mario, tetapi kombinasi kondisi fisik kotak dan rating tinggi dari PSA. PSA, lembaga penilaian barang koleksi terkenal, memberikan skor 9.6, yang menempatkan kopi ini di level istimewa. “Nilai tinggi ini diperoleh karena kondisi fisik kotak dan segel berada di level istimewa,” kata mereka.

Di samping itu, perbandingan dengan lelang Super Mario 64 pada 2021 (harga USD 1,5 juta) menunjukkan pola serupa: game populer bisa mencetak harga ekstrem ketika bertemu kondisi langka, penilaian tinggi, dan nama besar. Namun, perdebatan terkait rating kopi Super Mario 64 pada 2021 masih berlangsung di pengadilan.

Sementara itu, kenaikan harga Nintendo Switch 2 menjadi USD 500 (Rp 8,7 juta) di AS disebutkan sebagai respons terhadap lonjakan biaya komponen memori dan tarif impor. Kenaikan ini mengurangi efek penjualan yang sebelumnya mencapai 2,49 juta unit per kuartal. Namun, analis menilai basis penggemar Nintendo masih relatif kuat, meski usia muda menjadi faktor kritis dalam keberlanjutan penjualan.

Perusahaan menyatakan target penjualan Switch 2 sebesar 16,5 juta unit untuk Q3 2026, yang berada di bawah proyeksi awal 20 juta unit. “Target ini merepresentasikan tingkat adopsi yang solid,” kata manajemen Nintendo. Namun, penurunan proyeksi ini disebut sebagai strategi perusahaan untuk menyeimbangkan ekspektasi pasar, mengingat tahun lalu mereka meleset dalam meremehkan potensi penjualannya sendiri.

Kondisi konsol Switch 2 terus menjadi sorotan karena tekanan biaya yang meningkat, meski keberhasilan peluncuran perdana masih mempertahankan posisi sebagai game terlaris. Dengan demikian, tren pasar game nostalgia semakin kompleks, menggabungkan faktor koleksi, harga, dan keunikan produk dalam skala global.