Saudi Menurunkan Harga Minyak di Pasar Asia

BeritaLokal, Jakarta – Arab Saudi memangkas harga minyak mentah utama untuk pelanggan di Asia pada Agustus 2026, menjadi penurunan terbesar dalam 26 tahun karena lonjakan pasokan global meningkatkan persaingan untuk mendapatkan pembeli. Harga minyak Arab Light dibatasi sebesar US$ 11 per barel, diskon US$ 1,50 di atas patokan regional, menurut Bloomberg. Perubahan ini terjadi setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran mencapai kesepakatan untuk menghentikan pertempuran dan memungkinkan lalu lintas kembali normal melalui Selat Hormuz, titik penting yang sebagian besar telah diblokir sejak awal konflik.

Harga minyak Brent turun hingga US$ 72 per barel, sementara harga West Texas Intermediate (WTI) berada di bawah US$ 69 per barel. Peningkatan pasokan global dari Timur Tengah, yang mengancam membanjiri kilang-kilang Asia, menjadi faktor utama penurunan harga. Aramco, produsen minyak Arab Saudi, sempat meningkatkan pengiriman hingga 90% setelah melanjutkan ekspor dari pelabuhan Teluk Persia di Ras Tanura. Namun, perang efektif memblokir Selat Hormuz mengalihkan aliran itu ke fasilitas Laut Merah di Yanbu.

Sementara itu, OPEC+ menyetujui kenaikan kuota minyak moderat pada Agustus 2026, sebagian besar meningkatkan produksi selama perang ketika Selat Hormuz ditutup. Dengan lalu lintas di Selat Hormuz mereda, produsen seperti Saudi Arabia, Irak, dan Kuwait dapat memanfaatkan kuota yang lebih tinggi. Namun, analis mengingatkan bahwa keberlangsungan kesepakatan damai AS-Iran masih menjadi faktor risiko terbesar bagi pasar global hingga akhir tahun.

Kesepakatan damai ini telah menyebabkan harga minyak dunia turun lebih dari 20%, sekaligus memicu kenaikan investor di pasar saham. Ryan Sweet, kepala ekonom Oxford Economics, menilai kesepakatan ini memberikan dampak positif bagi perekonomian global dengan mempercepat inflasi energi, ruang bank sentral dalam menentukan kebijakan, dan kondisi keuangan yang lebih longgar. Namun, ia juga mengingatkan bahwa kesepakatan tanpa tindak lanjut menuju perdamaian permanen akan menciptakan volatilitas yang sulit dipertahankan.

Risiko lain termasuk kebijakan perdagangan, industri AI, keputusan bank sentral, stimulus ekonomi China, dan pemilu sela di AS. Jika kesepakatan damai gagal dipertahankan, kenaikan harga energi berpotensi menarik Federal Reserve (The Fed) untuk naik suku bunga, yang dapat meningkatkan biaya produksi industri teknologi, termasuk pemasok komponen AI. Pemulihan lalu lintas di Selat Hormuz dan stabilitas politik Timur Tengah menjadi kunci untuk mempertahankan keuntungan ini.

Artikel Terkait

0