Rupiah menembus Rp 18.000 per dolar AS. Pelemahan mata uang Garuda berpotensi mendorong kenaikan harga BBM, HP, obat hingga emas.
PerbesarPetugas mengisi BBM kendaraan konsumen di SPBU milik Pertamina di kawasan Jakarta. Ssejumlah barang yang berpotensi mengalami kenaikan harga jika rupiah terus melemah, salah satunya BBM.(/Angga Yuniar)
, Jakarta – Tren koreksi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih berlanjut pada sesi perdagangan Kamis (4/6/2026) pagi. Mata uang Garuda merosot hingga ke zona Rp 18.019 per dolar AS pada pukul 10.12 WIB, yang sekaligus menjadi salah satu level terendah dalam beberapa waktu terakhir dan mengonfirmasi patahnya level psikologis baru.
Menanggapi situasi tersebut, Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa depresiasi yang dialami rupiah saat ini sebenarnya masih selaras dengan pergerakan mata uang di kawasan regional. Secara akumulatif sejak awal tahun (year-to-date/YTD), pelemahan rupiah tercatat berada di angka -7,44%.
“Secara umum, pelemahan rupiah masih sejalan dengan regional, secara YTD melemah -7,44%. Cadangan devisa tetap terjaga di level US$ 146,2 miliar pada akhir April 2026,” ujar Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, Kamis (4/6/2026).
Menurut Destry, gejolak kurs ini dipicu oleh kembali memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah yang meredupkan harapan damai. Imbasnya, harga minyak dunia terkerek naik, risiko inflasi global membubung, dan memicu aksi penarikan modal (capital outflow) dari pasar negara berkembang (emerging markets).
Di sisi lain, tekanan internal juga turut andil. “Selain itu, kebutuhan domestik masih cukup besar sesuai dengan pola repatriasi dividen dan pembayaran ULN (Utang Luar Negeri),” imbuhnya.
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS biasanya berdampak langsung pada harga sejumlah barang di dalam negeri. Sebab, banyak produk maupun bahan baku masih bergantung pada impor yang pembayarannya menggunakan mata uang dolar AS.
Berikut sejumlah barang yang berpotensi mengalami kenaikan harga jika rupiah terus melemah:
1. BBM dan LPG
PerbesarPekerja tengah merapihkan dan mengisi tabung gas LPG 12 kg di Terminal pengisian Gas Pertamina, Jakarta. (/Angga Yuniar)
Kenaikan dolar AS biasanya menjadi perhatian utama karena impor minyak mentah dan LPG masih menggunakan mata uang dolar. Jika rupiah terus melemah dalam waktu lama, biaya impor energi akan meningkat dan berpotensi menambah beban subsidi maupun harga energi di dalam negeri.
2. HP, Laptop, dan Gadget
Sebagian besar smartphone, laptop, tablet, hingga komponen elektronik masih diimpor atau menggunakan bahan baku dari luar negeri. Pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya pengadaan sehingga harga jual berpotensi naik.
3. Obat-obatan dan Alat Kesehatan
Industri farmasi nasional masih bergantung pada impor bahan baku obat. Ketika dolar AS menguat, biaya produksi obat dan alat kesehatan ikut meningkat sehingga berpotensi memengaruhi harga di pasaran.
4. Susu, Gandum, dan Kedelai Impor
Indonesia masih mengimpor sebagian kebutuhan susu, gandum, dan kedelai. Pelemahan rupiah dapat membuat biaya impor lebih mahal dan berimbas pada harga roti, mi instan, susu, tahu, serta tempe.
5. Emas
Harga emas dunia diperdagangkan dalam dolar AS. Saat dolar menguat dan rupiah melemah, harga emas di dalam negeri biasanya ikut terdorong naik meskipun harga emas global tidak banyak berubah.
6. Mobil dan Sepeda Motor
PerbesarPertamina Patra Niaga akan mengedepankan keandalan layanan serta kesinambungan distribusi energi nasional. Tampak dalam foto, para pengendara sepeda motor mengantre untuk mengisi bahan bakar sepeda motor mereka di sebuah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), Jakarta pada Rabu 1 April 2026. (BAY ISMOYO/AFP)
Industri otomotif masih menggunakan banyak komponen impor. Jika nilai tukar rupiah terus melemah, biaya produksi dan harga kendaraan baru berpotensi mengalami penyesuaian.
7. Tiket Pesawat
Maskapai penerbangan memiliki banyak komponen biaya yang menggunakan dolar AS, mulai dari sewa pesawat, suku cadang, hingga perawatan. Kondisi ini dapat memengaruhi harga tiket pesawat.
8. Peralatan Industri dan Alat Berat
Mesin produksi, alat berat, dan peralatan industri umumnya berasal dari luar negeri. Pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya investasi perusahaan dan pada akhirnya berdampak pada harga barang produksi.
9. Langganan Digital dan Software
Layanan seperti cloud storage, software produktivitas, aplikasi desain, hingga platform streaming global umumnya ditagihkan dalam dolar AS. Pengguna di Indonesia berpotensi membayar lebih mahal ketika rupiah melemah.
10. Produk Elektronik Rumah Tangga
Televisi, AC, kulkas, mesin cuci, dan berbagai perangkat elektronik rumah tangga juga berpotensi mengalami kenaikan harga karena banyak komponen maupun produk jadi yang masih berasal dari impor.
