Rupiah tekanan tinggi, penyebabnya termasuk inflasi dan harga minyak dunia

BeritaLokal, Jakarta – Rupiah terus mengalami tekanan pada perdagangan Kamis (9/7/2026), mencapai level 18.100 per dolar AS. Pemerintah Bank Indonesia (BI) menyatakan akan memastikan keseimbangan pasokan dan permintaan di tengah kekhawatiran terhadap nilai tukar rupiah yang mengalami penurunan. Tekanan ini dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan dolar AS sebagai aset safe haven, serta pergerakan harga minyak dunia yang memperkuat risiko inflasi global.

Selain itu, kenaikan harga West Texas Intermediate (WTI) ke level US$ 74 per barel pada Kamis pagi meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan memperkuat harapan Federal Reserve (the Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi. Pelaku pasar juga menantikan rilis data Klaim Tunjangan Pengangguran Awal Amerika Serikat (AS), yang dapat memberikan petunjuk baru mengenai kebijakan moneter the Fed.

Kondisi domestik di Indonesia tetap stabil, dengan cadangan devisa mencapai US$ 145,6 miliar pada akhir Juni 2026. Hal ini memperkuat kemampuan BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar meskipun ketidakpastian global masih terus berdampak. “Meski demikian, dalam jangka pendek pergerakan rupiah diperkirakan lebih dipengaruhi oleh sentimen global dibandingkan faktor domestik,” kata Muhammad Amru Syifa dari ICDX.

Tekanan geopolitik di Timur Tengah, terutama konflik AS-Iran dan serangan militer AS terhadap Iran, memperkuat kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran Selat Hormuz. Gangguan ini berpotensi menekan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah, yang menjadi penentu utama dalam distribusi minyak dunia. Harga minyak naik hingga US$ 75 per barel, memperparah tekanan terhadap rupiah.

Pada perdagangan Kamis pagi, rupiah melemah 52 poin atau 0,29% menjadi 18.066 per dolar AS dari level sebelumnya 18.014. Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai pelemahan rupiah sejalan dengan pergerakan mata uang Asia yang terkait dengan ketegangan geopolitik di Timur Tengah. “Rupiah melemah bersama mayoritas mata uang Asia karena meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, yang menekan sentimen risiko,” kata Josua.

Kondisi ini mengarah pada kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi dan dampaknya terhadap ekonomi global. Pergerakan dolar AS juga dipengaruhi oleh risalah rapat FOMC periode Juni 2026, yang menunjukkan kekhawatiran para pembuat kebijakan terhadap inflasi. “Kondisi ini berpotensi mempengaruhi arah kebijakan suku bunga the Fed dan pergerakan dolar AS,” jelas Josua.

Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, prediksi rupiah hari ini diperkirakan bergerak di kisaran 17.975 hingga 18.125 per dolar AS. Pemegang mata uang masih memperhatikan dinamika pasar global untuk menentukan arah kebijakan moneter yang tepat.

Artikel Terkait

0