Trump Ancam Bombar Iran, Harga Minyak Melonjak

BeritaLokal, Jakarta – Harga minyak dunia melonjak lebih dari 4% pada perdagangan Rabu setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali mengancam akan membombardir Iran dan memberlakukan kembali blokade angkatan laut AS sebagai balasan atas serangan terhadap kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz. Peristiwa ini memicu kekhawatiran pasar energi, dengan investor khawatir konflik baru akan mengganggu ekspor minyak melalui jalur pelayaran vital tersebut.

Selain itu, Trump menyatakan bahwa gencatan senjata dengan Iran telah berakhir setelah militer AS melancarkan serangan terhadap target di Iran pada malam sebelumnya. Pernyataan ini disampaikan saat ia menghadiri KTT NATO di Ankara, Turki, sambil mempertahankan posisi yang sama dengan kebijakan sebelumnya. “Saya rasa konflik ini tidak akan dimulai lagi. Saya pikir semuanya akan selesai dengan sangat cepat,” kata Trump, menegaskan bahwa AS siap membalas serangan dengan kekuatan yang lebih besar.

Iran, di sisi lain, memperingatkan akan menutup Selat Hormuz dan memberikan respons dengan kekuatan penuh jika kembali menjadi sasaran serangan. Peringatan tersebut disampaikan melalui media pemerintah Iran, PressTV, yang menyatakan bahwa aksi militer AS adalah “pelanggaran berat terhadap Nota Kesepahaman” yang telah disepakati Washington dan Teheran bulan lalu untuk mengakhiri konflik. Selain itu, JMIC (Joint Maritime Information Center) asal AS menaikkan tingkat ancaman bagi kapal-kapal yang melintasi selat menjadi “parah”, memperingatkan kemungkinan terjadinya aksi permusuhan lanjutan dari Iran.

Kenaikan harga minyak sempat berkurang setelah Trump menyatakan tidak yakin konflik antara AS dan Iran akan berkembang menjadi perang berskala penuh. Namun, investor masih khawatir bahwa keadaan belum selesai. Pasokan minyak justru melimpah karena kapal tanker mulai kembali keluar dari Selat Hormuz, menurut Trump. “Harga minyak mungkin akan naik sedikit, tetapi situasi ini akan segera berakhir,” ujar ia.

Eskalasi terbaru terjadi setelah tiga kapal diserang di atau di sekitar Selat Hormuz pada Selasa. Insiden tersebut kembali memicu kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran minyak paling penting di dunia. Kementerian Luar Negeri Iran menyebut aksi militer AS sebagai “pelanggaran berat” terhadap kesepakatan sementara yang ditandatangani Washington dan Teheran bulan lalu.

Sementara itu, pasukan AS menyerang lebih dari 80 target di Iran, termasuk sistem pertahanan udara, jaringan komando, dan instalasi radar. Perang Timur Tengah yang dipicu oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran telah memperparah kondisi di ladang minyak Zubair, Irak. Pekerja di stasiun degassing mengalami kerusakan karena perang, menunjukkan dampak ekonomi dari ketegangan tersebut.

Dengan kenaikan harga minyak yang terus berlanjut, pemerintah AS dan Iran harus mempertimbangkan langkah-langkah untuk menjaga stabilitas pasar energi global. Konflik ini tidak hanya mengganggu kebutuhan masyarakat, tetapi juga menimbulkan risiko terhadap ekonomi dunia. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ketegangan geopolitik masih berdampak pada sektor minyak, bahkan di tengah krisis global yang semakin kompleks.

Artikel Terkait

0