Rupiah Naik terhadap USD karena Penambahan Cadangan Devisa

BeritaLokal, Jakarta – Pemerintah memulai tahapan stabilisasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa (7/7/2026), dengan penguatan rupiah mencapai 15 poin atau 0,08% menjadi 17.980 dari sebelumnya 17.995 per dolar AS. Pergerakan ini dipicu oleh kenaikan cadangan devisa Indonesia yang naik untuk pertama kali dalam enam bulan, menunjukkan kekuatan ekonomi domestik dan kebijakan Bank Indonesia (BI) yang lebih fleksibel.

Selain itu, kurs rupiah terhadap dolar AS juga menguat di level 17.988 per dolar AS dari sebelumnya 17.999, menunjukkan sentimen positif pasar. Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebutkan bahwa penguatan rupiah merespons data cadangan devisa yang meningkat, meski investor masih cenderung “wait and see” terhadap dinamika ekonomi domestik dan risalah pertemuan FOMC The Fed.

Kondisi pasar di tengah ketidakpastian global menggambarkan pergerakan rupiah sebagai tekanan yang terus berlangsung, meski indeks dolar AS tetap range-bound. Rully Nova, analis Bank Woori Saudara, memperkirakan rupiah masih dalam tekanan pada kisaran 17.950-18.020 per dolar AS, dipengaruhi faktor global. Namun, pelaku pasar lebih memfokuskan perhatian pada risalah The Fed yang dijadwalkan Kamis (9/7/2026), dengan ekspektasi investor untuk mengetahui arah kebijakan suku bunga AS.

Di sisi lain, cadangan devisa Indonesia mencapai US$ 145,6 miliar pada akhir Juni 2026, naik sebesar US$ 700 juta dari posisi akhir Mei 2026. Peningkatan ini terutama didorong oleh penerimaan pajak dan jasa, serta kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah yang diambil BI sebagai respons terhadap ketidakpastian pasar keuangan global. Meski cadangan devisa masih berada di atas standar 3 bulan impor, investor tetap menunggu data ekonomi domestik seperti defisit neraca perdagangan dan pergerakan indeks kepercayaan konsumen untuk mengantisipasi perubahan dinamika.

Sementara itu, rupiah di pasar internasional terus berada di level 18.000 per dolar AS, dengan sentimen domestik masih memengaruhi pergerakan kurs. Kondisi ini menunjukkan bahwa meski penguatan rupiah terhadap dolar AS terjadi, pasar tetap mengantisipasi kebijakan moneter AS yang bisa berdampak pada arah nilai tukar dalam beberapa bulan mendatang.

Artikel Terkait

0