BeritaLokal, Jakarta – Harga Bitcoin (BTC) kembali menguat sejak Jumat, 12 Juni 2026, menembus level US$ 63.000 atau Rp 1,12 miliar dalam 24 jam terakhir. Pergerakan ini dinilai dipengaruhi oleh sentimen makroekonomi dan kebijakan The Fed, meski kenaikan harga masih sangat bergantung pada ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan pemerintah AS.
Analisis menunjukkan bahwa Bitcoin memperlihatkan korelasi tinggi dengan aset tradisional seperti saham dan emas-sekitar 91% dengan S&P 500 dan 83% dengan emas. Namun, pergerakan ini lebih tepat diungkap sebagai rebound teknikal yang dipicu oleh sentimen makro, bukan reli fundamental. Analis Tokocrypto Fyqieh Fachrur menegaskan bahwa harga Bitcoin masih sangat tergantung pada sentimen global, khususnya ekspektasi terhadap kebijakan The Fed.
Level penting Bitcoin saat ini adalah US$ 62.000 atau Rp 1,11 miliar, yang menjadi batas psikologis teknikal. Jika harga mampu bertahan di atas level ini, peluang menguji resistance di kisaran US$ 64.000-65.000 (Rp 1,14-1,16 miliar) masih terbuka. Namun, jika harga gagal mempertahankan level tersebut, tekanan jual bisa muncul dan menguji area support di sekitar US$ 61.000 atau Rp 1,09 miliar.
Tekanan pasar juga dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik global. Kabar kembali bergulirnya kesepakatan damai antara AS dan Iran mendorong minat terhadap aset berisiko, yang membantu Bitcoin pulih dari tekanan sebelumnya. Namun, Fyqieh menekankan bahwa reli ini belum sepenuhnya stabil karena masih sangat bergantung pada data inflasi, arah suku bunga, dan keputusan The Fed dalam pertemuan kebijakan 16-17 Juni.
Arus dana ETF menjadi indikator kunci. Jika inflow kuat, pasokan likuiditas di pasar kripto bisa meningkat, memperkuat struktur harga. Namun, jika outflow berlanjut, kenaikan harga risiko tidak berkelanjutan. Pasar saat ini sensitif terhadap perubahan data inflasi dan komentar The Fed.
Di sisi teknikal, Bitcoin sedang menguji zona krusial di sekitar US$ 64.500-65.000 (Rp 1,15-1,16 miliar). Jika pembeli mampu mempertahankan momentum, harga berpeluang menembus level tersebut dan membuka jalan menuju titik tertinggi. Namun, tekanan masih belum sepenuhnya hilang karena volume perdagangan rendah, arus keluar dari ETF, serta ketidakpastian makroekonomi global.
Fyqieh menyarankan investor untuk tidak hanya memantau kenaikan harga jangka pendek, tetapi juga memperhatikan kualitas reli tersebut. Jika kenaikan hanya didorong sentimen sesaat tanpa dukungan volume, ETF inflow, dan kepastian makro, risiko koreksi tetap terbuka. Dalam jangka pendek, prospek Bitcoin dinilai hati-hati positif selama harga bertahan di atas US$ 62.000 atau Rp 1,11 miliar. Namun, arah berikutnya akan sangat ditentukan oleh respons pasar terhadap pertemuan The Fed, perkembangan ETF, dan perubahan sentimen risiko global.