Pelemahan Rupiah Bikin Harga Sapi dan Susu Impor Naik

beritalokal.my.id, Jakarta – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) turut berdampak pada harga sapi perah maupun susu impor dari luar negeri. Meskipun, kenaikannya tidak langsung dibebankan kepada konsumen.

Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian, Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Widyastuti mengamini, ada dampak pelemahan rupiah terhadap bahan baku susu impor. Mengingat lagi 80 persen kebutuhan susu nasional dipasok dari impor.

“Ada pengaruh? Jelas pasti ada. Karena di sini terlihat memang susu ini banyak pemanfaatannya yang harus kita tingkatkan untuk ketahanan tangan, dalam hal ini untuk gizi dan lainnya,” ucap Widyastuti dalam konferensi pers Hari Susu Nusantara, di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Selasa (2/6/2026).

Kenaikan juga terjadi pada harga sapi perah impor. Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan, Kementerian Pertanian, Makmun mengamini ada kenaikan harga sapi perah yang diimpor ke Indonesia. Dua negara asal pemasok sapi perah yakni Australia dan Selandia Baru.

“Umumnya kita ngambilnya dari Australia, umumnya teman-teman ini walaupun negara seperti New Zealand juga, beberapa negara yang lain, kita tidak ada masalah. Karena mungkin posisinya deket, dan dengan kenaikan dolar, qda kenaikan dari harga sapinya,” kata Makmun.

Informasi, nilai tukar rupiah telah mencapai Rp 17.800 per dolar AS. Makmun mengaku, belum menghitung dampak ke harga sapi perah impor terbaru. Hanya saja, sebagai gambarannya, Makmun menyebut harga sapi perah impor masih di bawah Rp 50 juta per ekor.

“Kemarin rata-rata teman-teman mengimpor harga sekitar Rp 45 juta per ekornya sapi perah bunting. Tahun ini tidak juga sampai di Rp 50 juta, ada kenaikan, tapi tidak terlalu jauh juga dari kondisi yang ada,” beber dia.

 

Biaya Produksi Naik

PerbesarDeputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian, Kemenko Bidang Pangan, Widyastuti saat konferensi pers Hari Susu Nusantara, Selasa, (2/6/2026). (Foto: beritalokal.my.id/Arief RH)

General Manager R&D Health and Wellness Divisi Dairy, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, Tjatur Lestijaman, mengamini, biaya produksinya naik imbas dari pelemahan nilai tukar rupiah. Hanya saja, kata dia, kenaikan tak lebih dari 10 persen.

Tjatur bilang, biaya produksi dari sisi pemenuhan bahan baku mengalami kenaikan. Pada saat yang sama, perusahaan turut melakukan efisiensi di beberapa lini produksi, sehingga kenaikan tersebut tidak langsung dibebankan ke harga di tingkat konsumen.

“Memang ada ya pengaruhnya, tapi karena kita masih ada penyerapan susu lokal juga, secara total produksi tadi disampaikan 20 persen masih ada lokal. Kemudian ada efisiensi program-program efisiensi di pabrik kami, sehingga dampaknya itu kita bisa redam tidak lebih sampai 10%, gak sampai,” jelas Tjatur.

 

Biaya Impor Naik

PerbesarIni menjadi titik pelemahan terdalam sepanjang sejarah perdagangan rupiah. Pelemahan ini lebih dalam jika dibandingkan titik terendah saat Krisis Moneter 1998 (Rp16.650) dan masa pandemi Covid-19 (Rp16.575). Tampak dalam foto, seorang menghitung uang kertas Rupiah di salah satu kantor penukaran uang, Jakarta, Selasa 12 Mei 2026, di tengah depresiasi Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat. (BAY ISMOYO/AFP)

Sebelumnya, pelemahan nilai tukar Rupiah ke kisaran Rp 17.800 per dolar AS dinilai mulai menekan sektor riil dan perusahaan yang bergantung pada impor. Kenaikan biaya bahan baku, mesin, hingga energi impor membuat margin usaha tergerus dan mendorong perusahaan menahan ekspansi.

Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures, Nanang Wahyudin mengatakan, pelemahan Rupiah berkepanjangan paling berdampak terhadap sektor usaha yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor bahan baku maupun barang modal.

“Pelemahan berkepanjangan terutama memukul sektor riil yang bergantung impor karena biaya naik, margin tertekan, dan inflasi impor meningkat, sementara eksportir cenderung diuntungkan,” ujar Nanang kepada beritalokal.my.id, Kamis (28/5/2026).

Menurut dia, depresiasi Rupiah membuat biaya produksi dan logistik meningkat karena bahan baku, mesin, serta energi impor menjadi lebih mahal dalam denominasi Rupiah. Kondisi tersebut juga memicu inflasi impor yang dapat menekan daya beli masyarakat dan konsumsi domestik.

Importir Paling Terpukul Pelemahan Rupiah

Nanang menjelaskan, perusahaan importir bahan baku dan barang modal menjadi kelompok yang paling terpukul karena setiap pelemahan Rupiah langsung mengerek biaya operasional dan mempersempit arus kas perusahaan. Selain itu, perusahaan dengan utang valuta asing juga menghadapi kenaikan beban cicilan dalam Rupiah apabila pendapatan utamanya masih berbasis Rupiah.

Ia menambahkan, banyak perusahaan pada akhirnya kesulitan menaikkan harga jual secepat kenaikan biaya produksi sehingga margin usaha semakin tertekan. Akibatnya, sejumlah pelaku usaha cenderung menunda ekspansi maupun investasi baru.

“Rupiah di level sekitar 17.800 lebih banyak tertekan faktor global dan sentimen kebijakan, bukan karena libur Idul Adha; libur hanya bisa menambah volatilitas jangka pendek lewat likuiditas yang menipis,” kata Nanang.



error: Content is protected !!