beritalokal.my.id, Jakarta – Presiden Republik Indonesia (RI) Prabowo Subianto tercatat telah mengunjungi Prancis sebanyak empat kali dalam waktu kurang dari setahun terakhir.
Kunjungan pertamanya sebagai presiden terjadi pada Juli 2025, di mana ia menjadi tamu kehormatan pada parade militer Bastille Day. Lawatan kedua berlangsung pada Januari 2026. Yang ketiga pada April dan keempat pada Mei.Fenomena ini pun membuat publik bertanya-tanya, mengapa Prancis begitu istimewa?
“Bagi Prabowo, kemitraan Prancis dan Indonesia memiliki nilai strategis. Dalam hal ini, Prancis telah menjadi supplier bagi tulang punggung modernisasi alutsista Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo. Seperti yang kita ketahui, minggu lalu Presiden secara resmi memberikan enam pesawat tempur generasi ke-4.5, Dassault Rafale, dari 42 yang direncanakan kepada TNI AU. Di samping itu, Prabowo juga meresmikan pemberian empat pesawat Dassault Falcon 8x untuk penerbangan VVIP. Ke depan, Indonesia juga akan menerima dua kapal selam scorpene dari Naval Group, Prancis, dan sejumlah alutsista yang lain. Oleh karena itu, tidak mengherankan Prabowo diterima dengan hangat oleh menteri pertahanan Prancis sebelum bertemu Presiden Emmanuel Macron,” tutur pengajar di Departemen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada Irfan Ardhani saat dihubungi beritalokal.my.id, Jumat (29/5/2026).
“Di samping pengadaan alutsista, terlihat upaya Prabowo agar Indonesia mendapat keuntungan ekonomi dari kunjungan kali ini. Prabowo membawa banyak perwakilan KADIN dalam rombongannya. Seperti yang telah disebutkan Prabowo, Indonesia ingin pertemuan ini menjadi pendorong bagi implementasi IEU-CEPA (Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia–Uni Eropa) yang telah diteken oleh Indonesia dan Uni Eropa September tahun lalu. Mengingat posisi penting Prancis dalam politik di Uni Eropa, upaya ini menjadi masuk akal.”
Hal lain yang menjadi sorotan Irfan adalah absennya Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.
“Meskipun Menteri Investasi dan Hilirisasi Indonesia Rosan Roeslani hadir mendampingi Prabowo, yang menandakan upaya Indonesia untuk menarik investasi dari Prancis, hubungan Indonesia-Prancis juga diwarnai oleh proses aksesi Indonesia ke OECD (Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan). Selama ini, proses aksesi tersebut dipimpin oleh Airlangga. Mengingat OECD berkedudukan di Paris, harusnya ini juga menjadi momen bagi Indonesia untuk assuring bahwa presiden dan kalangan bisnis mendukung sepenuhnya upaya Indonesia untuk masuk ke dalam klub negara maju tersebut,” ujar Irfan.
Di sisi lain, ungkap Irfan, hubungan erat Indonesia dan Prancis juga memenuhi aspirasi Prabowo agar Indonesia mendapatkan standing yang lebih tinggi dalam politik internasional.
“Seperti yang kita ketahui, President Macron dalam beberapa kesempatan menyampaikan keinginan menjadi pemimpin negara-negara independent yang mempertahankan liberal international order. Melalui hubungan erat dengan Macron, Prabowo ingin agar Indonesia dapat memainkan peranan yang lebih luas dalam percaturan politik global. Misalnya, soal perdamaian di Palestina. Prabowo mungkin ingin elaborasi strategi Prancistwo state solution. Kalau memungkinkan, strategi yang digunakan oleh Prancis sebenarnya bisa jadi jalan keluar Prabowo dari backlash BOP (Board of Peace),” kata Irfan.
“Di samping itu, hubungan strategis dengan Prancis diharap menjadi bukti strategi multialignment Indonesia. Meskipun tidak selamanya sejalan, Indonesia dan Prancis sama-sama ingin terbebas dari keharusan untuk memilih salah satu great power dalam rivalitas antara Amerika Serikat dan China. Pendekatan ini penting agar Indonesia bisa setia dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif.”
Mitra Strategis Penting bagi Prancis
Hubungan Indonesia dan Prancis, menurut Presiden Prabowo, saat ini berada pada fase terbaik sepanjang sejarah hubungan kedua negara. Kepala Negara pun menyampaikan apresiasi atas komitmen dan kepemimpinan Presiden Macron dalam mendorong kemitraan yang makin erat antara kedua negara.
“Yang Mulia, hubungan Indonesia dan Prancis Berada di tingkat menurut saya yang terbaik selama ini. Kami terima kasih dan kami hormat dengan kepemimpinan Yang Mulia Presiden Macron,” ujar Presiden Prabowo saat bertemu Presiden Macron di Istana Elysee, Paris, pada Kamis (28/5/2026), seperti dikutip dari presidenri.go.id.
Sementara itu, Presiden Macron menilai Indonesia merupakan mitra strategis penting bagi Prancis di kawasan Indo-Pasifik.
“Indonesia adalah mitra penting strategis dari Indo-Pasifik dan saya yakin ini juga bagian dari keyakinan Bapak Prabowo,” ujar Presiden Macron.
Di bidang pertahanan dan keamanan, Presiden Macron menyoroti eratnya kerja sama kedua negara yang ditandai dengan kedatangan pesawat tempur Rafale pertama di Indonesia. Presiden Macron menyebut hal tersebut sebagai bukti nyata hubungan strategis yang terus berkembang.
“Kemarin ini ada pesawat tempur Rafale yang pertama yang baru tiba di Indonesia, yang menjadi bukti dari hubungan ini dan diskusi hari ini, ini juga adalah bukti keinginan untuk terus maju di jalur ini,” sebut Macron.
Tak hanya pertahanan, Presiden Macron menekankan pentingnya penguatan kerja sama ekonomi, perdagangan, dan investasi antara Indonesia dengan Prancis maupun Uni Eropa. Presiden Macron berharap perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif antara Indonesia dan Uni Eropa segera diberlakukan guna mempercepat arus perdagangan dan investasi di berbagai sektor strategis.
“Ini penting segera diberlakukan untuk menghapus hambatan untuk perdagangan dan investasi, untuk mempercepat di bidang transportasi, kesehatan, transisi energi, pertahanan,” katanya.
Presiden Macron turut menyampaikan apresiasi atas dibukanya pasar Indonesia bagi sektor peternakan sapi perah dan sapi daging asal Prancis. Selain itu, Macron menyambut baik rencana investasi Danantara sebagai bagian dari penguatan hubungan ekonomi kedua negara.
Di bidang budaya dan pendidikan, kedua pemimpin negara berkomitmen memperdalam kerja sama yang sebelumnya telah diperkuat melalui deklarasi bersama strategi kebudayaan di Candi Borobudur pada Mei 2025. Kerja sama tersebut mencakup sektor permuseuman, sastra, perfilman, mode, hingga penguatan kolaborasi ilmiah, teknologi, dan universitas dalam Tahun Inovasi Prancis-Indonesia 2026.
“Prancis hendak ingin menyambut lebih banyak mahasiswa, peneliti, talenta,” ujar Presiden Macron.
Dalam pembahasan isu internasional, Presiden Macron dan Presiden Prabowo bertukar pandangan mengenai situasi Timur Tengah, konflik di Ukraina, hingga ketegangan di Laut China Selatan dan kawasan Asia Tenggara. Presiden Macron memberikan penghormatan atas posisi Indonesia yang dinilai aktif mendorong perdamaian dan dialog internasional.
“Saya ingin memberi penghormatan mengenai posisi bapak yang sangat berani untuk perdamaian di Timur Tengah, dan juga untuk pengakuan Palestina. Saya juga ingin memberi penghormatan atas keterlibatan tentara Bapak untuk terus bertindak untuk perdamaian kedaulatan Lebanon,” kata Presiden Macron.
kawasan Asia Tenggara, Presiden Macron menegaskan bahwa ASEAN memiliki posisi penting dalam strategi Indo-Pasifik Prancis dan Uni Eropa. Karena itu, Prancis siap terus bekerja sama dengan Indonesia dalam menghadapi berbagai tantangan global dan regional.
“Pada semua level kemitraan antara Indonesia dan Perancis, ini sangatlah relevan dan ini akan memperkuat visi kedua negara kita terhadap perdamaian tatanan dunia saat ini,” beber Presiden Macron.
4 Kesepakatan Komersial
Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya mengatakan rangkaian kunjungan resmi kenegaraan Presiden Prabowo Prancis menghasilkan empat kesepakatan komersial baru.
“Dalam kunjungan kenegaraan tersebut, tercapai empat kesepakatan komersial baru yang difokuskan pada sektor ketahanan energi, perdagangan, dan kerja sama pertahanan,” ujar Teddy seperti dikutip dari kantor berita Antara.
Teddy menjelaskan Presiden Prabowo dan Presiden Macron juga menghadiri peluncuran France-Indonesia High Level Business Council atau Forum Bisnis Tingkat Tinggi Indonesia-Prancis yang diinisiasi oleh KADIN serta MEDEF International.
Forum tersebut mempertemukan 30 pimpinan industri dan perusahaan dari Indonesia dan Prancis dengan total kapitalisasi pasar gabungan mencapai USD 1,3 triliun.
Ia menyebut forum itu diharapkan menjadi wadah untuk memperkuat hubungan bisnis dan investasi kedua negara serta mengawal implementasi berbagai nota kesepahaman yang telah disepakati sebelumnya.
Dalam kunjungan kenegaraan Presiden Macron ke Indonesia pada Mei 2025, tercatat 27 nota kesepahaman ditandatangani dengan nilai lebih dari USD 11 miliar.
