Netanyahu Perintahkan Militer Israel Kuasai 70 Persen Wilayah Gaza

beritalokal.my.id, Tel Aviv – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Kamis (28/5/2026) menyatakan telah menginstruksikan militer Israel untuk merebut lebih banyak wilayah di Jalur Gaza, dengan target awal menguasai 70 persen wilayah Palestina tersebut.

Pernyataan itu disampaikan Netanyahu saat berbicara dalam sebuah konferensi di permukiman Yahudi di Tepi Barat yang diduduki Israel. Ia mengatakan operasi militer Israel di Gaza akan terus diperluas secara bertahap.

“Kami berada di angka 50 persen, lalu meningkat menjadi 60 persen. Instruksi saya adalah terus maju, langkah demi langkah,” ujar Netanyahu.

“Pertama-tama 70 persen. Mari mulai dari sana. Kami menekan Hamas dari semua sisi.”

Saat ini Israel disebut telah mengendalikan sekitar 64 persen wilayah Jalur Gaza yang hancur akibat perang sejak serangan Hamas ke Israel selatan pada 7 Oktober 2023. Dalam kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat pada Oktober lalu, pasukan Israel seharusnya mundur ke batas yang dikenal sebagai “Garis Kuning”, yang menempatkan Israel menguasai sekitar 53 persen wilayah Gaza.

Namun, laporan Reuters menyebut Israel secara sepihak memindahkan blok beton penanda garis tersebut lebih jauh ke wilayah yang sebelumnya dikuasai Hamas. Peta militer Israel yang dirilis pada Maret juga menunjukkan perluasan area terlarang yang menurut analis mencakup sekitar 64 persen wilayah Gaza.

Netanyahu menyebut wilayah yang direbut Israel di Gaza, Suriah, dan Lebanon sebagai “zona penyangga” guna mencegah serangan militan di masa depan. Namun, warga Palestina menilai perluasan zona penyangga itu sebagai bagian dari strategi untuk menggusur mereka secara permanen dari Gaza.

Kekhawatiran tersebut menguat setelah sejumlah pejabat senior Israel, termasuk Menteri Pertahanan Israel Katz, menyatakan dukungan terhadap “migrasi sukarela” warga Gaza, dikutip dari Japan Today, Jumat (29/5).

Di tengah pernyataan Netanyahu, Israel juga meningkatkan serangan militernya di Gaza. Israel mengklaim operasi tersebut menargetkan pimpinan senior Hamas yang terlibat dalam serangan 2023.

Pada Selasa, Israel mengumumkan telah menewaskan kepala sayap bersenjata Hamas, hanya 10 hari setelah membunuh pendahulunya. Sementara itu, otoritas kesehatan Gaza menyebut serangan tambahan pada Rabu malam menewaskan sedikitnya 10 orang, termasuk lima anak-anak, serta melukai 18 lainnya.

 

Serangan pada Idul Adha

PerbesarSeorang anak laki-laki Palestina yang mengungsi melihat bangunan yang rusak akibat serangan Israel di kamp pengungsi Maghazi, Jalur Gaza Tengah pada Kamis 21 Mei 2026. (Eyad Baba/AFP)

Serangan terjadi saat warga Palestina tengah merayakan Idul Adha di kamp-kamp pengungsian dan bangunan yang rusak akibat perang.

Seorang warga Gaza, Etidal Al-Za’im, mengatakan dirinya dan keluarga sedang merayakan hari raya di dalam tenda ketika puing-puing bangunan yang terkena serangan jatuh menimpa mereka.

“Kami keluar karena suara ledakan. Kami terjebak sekitar satu jam sebelum akhirnya bisa menemukan jalan keluar dari tenda,” ujarnya.

Warga lainnya yang mengaku bernama Abu Azam mengatakan situasi di Gaza membuat tidak ada tempat yang aman bagi penduduk sipil.

“Seseorang di Gaza sama sekali tidak aman. Dia bisa tertembak di jalan, di rumah, di rumah sakit, atau dalam perjalanan ke pasar,” kata Abu Azam.

Menurut pejabat kesehatan Gaza, lebih dari 900 orang tewas sejak gencatan senjata diberlakukan. Sementara itu, Israel menyatakan empat tentaranya tewas dalam serangan militan pada periode yang sama.

Hingga kini, Israel dan Hamas masih menemui jalan buntu dalam pembicaraanrencana Amerika Serikat untuk Gaza yang mencakup penarikan pasukan Israel dan pelucutan senjata Hamas.



error: Content is protected !!