BeritaLokal, Jakarta – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan pada Kamis (28/5/2026) bahwa operasi militer Israel di Gaza akan terus diperluas untuk mencapai target 70 persen wilayah Palestina tersebut. Pernyataan ini disampaikan saat Netanyahu berbicara dalam konferensi di permukiman Yahudi di Tepi Barat, sambil menekankan bahwa operasi militer Israel “langkah demi langkah” untuk memperkuat posisi mereka di Gaza.
Pada saat itu, Israel mengatakan telah mencapai angka 50 persen wilayah Gaza, dengan rencana meningkatkan target hingga 70 persen. Netanyahu menegaskan bahwa operasi militer akan “berlanjut secara bertahap” dan menyebut wilayah yang direbut sebagai “zona penyangga” untuk mencegah serangan militan di masa depan. Namun, warga Palestina mengkritik strategi Israel sebagai upaya untuk memperkuat dominasi mereka di Gaza.
Dalam kesepakatan gencatan senjata yang diperoleh Amerika Serikat pada Oktober lalu, pasukan Israel seharusnya mundur ke garis “Garis Kuning”, yang menempatkan mereka menguasai sekitar 53 persen wilayah Gaza. Namun, laporan Reuters menyebut bahwa Israel secara sepihak memindahkan batas tersebut lebih jauh ke wilayah Hamas, meski tidak ada pernyataan resmi dari pihak Israel tentang tindakan ini. Peta militer Israel yang dirilis Maret menunjukkan perluasan area terlarang mencapai sekitar 64 persen wilayah Gaza, menurut analis.
Kekhawatiran muncul setelah pejabat senior Israel, termasuk Menteri Pertahanan Katz, menyatakan dukungan terhadap “migrasi sukarela” warga Gaza, dikutip dari Japan Today. Pernyataan ini diumumkan segera setelah Israel meningkatkan serangan militernya di Gaza, menargetkan pimpinan senior Hamas yang terlibat dalam serangan 2023.
Pada Selasa, Israel mengklaim telah menewaskan kepala sayap bersenjata Hamas, hanya 10 hari setelah membunuh pendahulunya. Sementara itu, otoritas kesehatan Gaza menyebutkan serangan tambahan pada Rabu malam menewaskan sedikitnya 10 orang, termasuk lima anak-anak, serta melukai 18 lainnya.
Di tengah situasi yang semakin memprihatinkan, warga Gaza mengungkapkan perasaan tak aman di setiap sudut kota. Etidal Al-Za’im, seorang warga Gaza, mengatakan dirinya dan keluarganya sedang merayakan Idul Adha di dalam tenda ketika puing-puing bangunan jatuh menimpa mereka. “Kami keluar karena suara ledakan. Kami terjebak sekitar satu jam sebelum akhirnya bisa menemukan jalan keluar dari tenda,” katanya.
Sementara itu, Abu Azam mengatakan situasi di Gaza membuat tidak ada tempat yang aman bagi penduduk sipil. “Seseorang di Gaza sama sekali tidak aman. Dia bisa tertembak di jalan, di rumah, di rumah sakit, atau dalam perjalanan ke pasar,” katanya. Otoritas kesehatan Gaza menyebutkan lebih dari 900 orang tewas sejak gencatan senjata diberlakukan, sementara Israel menyatakan empat tentaranya tewas dalam serangan militan pada periode yang sama.
Pembicaraan antara Israel dan Hamas masih jauh dari menyelesaikan perang di Gaza. Meski ada kesepakatan Amerika Serikat, Israel tetap memperkuat operasi militer, sementara Hamas berupaya mencegah penarikan pasukan mereka.
Artikel Terkait
Desta Operasi Setelah Cedera Mata di Padel
23 Juli 2026
Pemerintah Tegaskan Komitmen Terus Tangani TPPO
17 Juli 2026
Peruri Kenakan Teguh Arief Jadi Dirut Baru
16 Juli 2026
BP BUMN Rebut Direktur Peruri, Mantan Jenderal Terpilih
16 Juli 2026
Mantan Agen FBI Sebut Peretas Kripto Korea Utara Makin Cerdik
4 Juni 2026
DPR AS Setujui RUU Pembatasan Perang Trump di Iran
4 Juni 2026
Politik Agraria dalam Konflik Tanah Alas Tlogo Pasuruan: Studi Sengketa Hak Milik Antara Petani dan Militer
2 Juni 2026
Kesaksian Tentara Israel: Rekannya Menikmati Pembunuhan Warga Gaza
2 Juni 2026
Memuat komentar...