beritalokal.my.id, Jakarta – PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) melakukan perubahan susunan pengurus pada dua entitas anaknya, yakni PT Kreasi Dasatama (KD) dan PT Sinar Grahamas Lestari (SGL), sebagai bagian dari langkah restrukturisasi grup usaha.
Melansir keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (3/6/2026), untuk PT Kreasi Dasatama, pemegang saham menyetujui perubahan susunan Dewan Komisaris sehingga perseroan kini dipimpin oleh Andrew Himawan sebagai Direktur Utama dan Wira Yuwana sebagai Direktur, sementara posisi Komisaris Utama dijabat Phillip Tjipto dan Komisaris dijabat Willy Soekianto Tanusaputra. Manajemen menjelaskan bahwa perubahan tersebut dilakukan dalam rangka restrukturisasi pada grup usaha Perseroan.
Pada saat yang sama, IMPC juga melakukan perubahan susunan Direksi di PT Sinar Grahamas Lestari. Berdasarkan keputusan para pemegang saham SGL, Muhammad Ilham ditetapkan sebagai Direktur Utama dan Sugiarto Romeli sebagai Direktur, sedangkan Haryanto Tjiptodihardjo menjabat Komisaris. Perseroan menyebut perubahan pengurus tersebut merupakan bagian dari restrukturisasi yang tengah dilakukan di lingkungan grup usaha.
Manajemen IMPC menegaskan bahwa perubahan susunan pengurus pada kedua entitas anak tersebut tidak menimbulkan dampak terhadap kegiatan operasional, aspek hukum, kondisi keuangan, maupun kelangsungan usaha Perseroan.
Perseroan menjelaskan restrukturisasi yang dilakukan lebih ditujukan untuk penataan organisasi dan penguatan tata kelola di tingkat grup tanpa memengaruhi aktivitas bisnis yang berjalan saat ini.
Pendapatan IMPC Tembus Rp 1,2 Triliun hingga Kuartal I 2026
PerbesarPenutupan perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (4/7/2024) menunjukan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di zona hijau. (beritalokal.my.id/Angga Yuniar)
Sebelumnya, PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) menunjukkan kinerja keuangan yang kuat sepanjang kuartal I 2026. Pendapatan naik 25,4% dan laba tumbuh 32,9% hingga Maret 2026.
Melansir keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (29/4/2026), pendapatan perseroan tercatat mencapai Rp 1,2 triliun, naik 25,4% secara tahunan dari Rp 937 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini turut mendorong peningkatan laba bersih sebesar 32,9% menjadi Rp 203 miliar, dibandingkan Rp 152 miliar pada kuartal I 2025.
Sejalan dengan pertumbuhan tersebut, profitabilitas juga mengalami perbaikan. Laba kotor meningkat 30,2% menjadi Rp 484 miliar dengan margin naik ke 41,2%. Laba usaha tumbuh 20,2% menjadi Rp 237 miliar, sementara margin laba bersih ikut menguat dari 16,3% menjadi 17,2%.
Kinerja operasional yang solid juga tercermin dari EBITDA yang naik 19,8% menjadi Rp 288 miliar. Di sisi struktur keuangan, perseroan berhasil memperbaiki rasio utang terhadap EBITDA dari 5,3x menjadi 2,4x, serta meningkatkan kemampuan pembayaran bunga yang tercermin dari rasio EBITDA terhadap bunga yang melonjak ke 26,3x.
Dari sisi neraca, total aset meningkat 13,8% menjadi Rp 5,17 triliun, sementara ekuitas melonjak 40,7% menjadi Rp 3,24 triliun. Pada saat yang sama, total liabilitas berhasil ditekan turun 13,8%, menunjukkan pengelolaan keuangan yang lebih sehat.
Kinerja positif ini terutama ditopang oleh permintaan domestik yang tetap kuat serta efektivitas strategi efisiensi yang dijalankan perseroan. Meski dihadapkan pada tantangan eksternal, perseroan tetap mempertahankan target kinerja tahun 2026 dengan pendapatan sebesar Rp 5,1 triliun dan laba bersih di atas Rp 700 miliar.
IMPC Kantongi Pendapatan Rp 4,3 Triliun pada 2025
PerbesarSuasana pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (10/2). (beritalokal.my.id/Angga Yuniar)
Sebelumnya, PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) membukukan kinerja keuangan yang solid sepanjang tahun fiskal 2025 dengan pertumbuhan pada hampir seluruh indikator utama. Pendapatan Perseroan tercatat sebesar Rp 4,3 triliun, meningkat 10,1% dibandingkan Rp 3,9 triliun pada tahun sebelumnya.
Melansir laporan keuangan Perseroan pada keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (1/4/2026), dari sisi profitabilitas, laba kotor naik menjadi Rp 1,7 triliun dari Rp 1,5 triliun, dengan margin laba kotor membaik tipis dari 39,4% menjadi 39,5%. Laba usaha turut meningkat 6,8% menjadi Rp 848 miliar dari Rp 795 miliar. Sementara itu, laba bersih tumbuh lebih tinggi sebesar 15 % menjadi Rp 620 miliar dari Rp 539 miliar, dengan margin laba bersih naik dari 13,9% menjadi 14,5%.
Kinerja operasional juga tercermin dari EBITDA yang meningkat 8,7% menjadi Rp 1,0 triliun dibandingkan Rp 949 miliar pada tahun sebelumnya. Meski margin EBITDA sedikit turun dari 24,5% menjadi 24,2%, peningkatan nominal menunjukkan pertumbuhan kinerja yang tetap kuat.
