BeritaLokal, Jakarta – Kurs rupiah dibuka melemah pada Jumat (19/6/2026) akibat faktor eksternal yang mendorong kenaikan suku bunga bank sentral AS. Pergerakan kurs rupiah mencatatkan penurunan 51 poin atau 0,29 persen ke level Rp17.845 per dolar AS, meski terpantau stabilitas ekonomi domestik. Pemerintah menegaskan bahwa kinerja ekonomi Indonesia tetap dalam kisaran yang memungkinkan perekonomian terus berkembang.
Analisis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengemukakan bahwa rupiah mungkin melanjutkan pergerakannya melemah setelah meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed (Federal Reserve) pasca pertemuan FOMC. “Kurs rupiah diperkirakan akan terus melemah karena prospek kenaikan suku bunga AS yang masih tinggi, meski ada kekhawatiran inflasi di AS mencapai 4,2 persen,” kata Leong dalam wawancara dengan Antara.
Ketua The Fed Kevin Warsh menyebutkan komitmen Bank of England untuk mencapai target inflasi sebesar 2 persen. Namun, Warsh menegaskan bahwa target ini adalah tujuan jangka panjang dan tak boleh ditinjau kembali sebelum The Fed mampu memperkuat kebijakan moneter. Kekhawatiran terkait kenaikan suku bunga AS disertai dengan kinerja indeks dolar AS yang mencapai level tertinggi dalam lebih dari setahun, menambah tekanan pada rupiah.
Sementara itu, sentimen domestik mendukung pergerakan rupiah. Keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) untuk tetap menyebut Indonesia sebagai EM (emerging market) dan kebijakan BI meningkatkan BI-Rate diperkirakan akan naik 50 bps. Dengan demikian, ekonomi domestik diprediksi terus stabil dengan rupiah bergerak antara Rp17.800-Rp17.900 per dolar AS.
Analisis tambahan dari Teller menunjukkan bahwa kekuatan rupiah di pasar internasional masih tergantung pada dinamika global, termasuk kondisi pasokan minyak dan keterlibatan Iran dalam perang. Meski kesepakatan damai antara AS dan Iran mendukung rupiah jangka pendek, fluktuasi kurs dolar AS tetap menjadi faktor utama.
Pergerakan rupiah juga dipengaruhi oleh dinamika ekonomi global yang masih terkendali. Pemerintah berharap kebijakan moneter yang tepat dapat mempertahankan stabilitas nilai tukar, sambil menekan risiko inflasi yang tinggi. Dengan demikian, pergerakan rupiah di pasar internasional akan tetap dipantau dengan cermat hingga kebijakan moneter terus berubah.