Dana Asing Kabur Rp 67 Triliun, IHSG Kehilangan Tenaga

Begini prediksi dan strategi investasi di saham setelah dana asing kabur dari bursa saham dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan.

PerbesarPekerja melintas di dekat layar digital pergerakan saham di Gedung BEI, Jakarta. (/Angga Yuniar)

, Jakarta – Koreksi tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menembus level psikologis 6.000 dan ditutup di posisi 5.941 pada perdagangan Rabu, 3 Juni 2026 dinilai mencerminkan krisis kepercayaan investor terhadap pasar domestik. Dana asing yang keluar dari saham telah mencapai di ata Rp 50 triliun.

Pengamat Pasar Modal Hendra Wardana menilai, tekanan yang terjadi tidak hanya dipicu oleh faktor eksternal, tetapi juga diperberat oleh berbagai sentimen dalam negeri yang belum mereda.

Menurut Hendra, pelemahan rupiah yang mendekati 18.000 per dolar Amerika Serikat, kekhawatiran terhadap kebijakan ekspor satu pintu, serta berlanjutnya arus keluar dana asing menjadi faktor utama yang menekan pasar saham Indonesia. Kondisi tersebut terjadi di tengah mayoritas bursa Asia yang justru mencatatkan penguatan.

“Koreksi tajam IHSG hingga menembus level psikologis 6.000 dan ditutup di 5.941 pada perdagangan 3 Juni 2026 menjadi sinyal bahwa pasar sedang mengalami krisis kepercayaan yang cukup serius,” ujar Hendra dalam risetnya kepada , Kamis (4/6/2026).

Ia menjelaskan, pasar keuangan pada dasarnya bergerak berdasarkan persepsi risiko dan prospek ekonomi ke depan. Karena itu, ketika pemerintah menyampaikan fundamental ekonomi masih kuat namun rupiah terus melemah dan investor asing terus melakukan aksi jual, maka muncul kesenjangan antara optimisme yang disampaikan dengan kondisi yang tercermin di pasar.

Hendra menambahkan, kepercayaan investor merupakan faktor yang sangat penting dalam menjaga stabilitas pasar. Ketika kepastian kebijakan berkurang dan arah ekonomi sulit diproyeksikan, investor cenderung menahan investasi atau mengalihkan dananya ke negara lain yang dianggap lebih stabil.

 

 

Aksi Jual Investor Asing

PerbesarSeorang pria memantau layar yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang anjlok signifikan selama pembukaan pasar, di gedung Bursa Efek Indonesia di Jakarta pada Rabu 13 Mei 2026. (BAY ISMOYO/AFP)

Data perdagangan menunjukkan investor asing kembali mencatatkan penjualan bersih (net sell) sekitar Rp 864 miliar pada perdagangan 3 Juni 2026. Secara akumulatif sejak awal tahun, dana asing yang keluar dari pasar saham Indonesia telah mencapai sekitar Rp 67 triliun. Sementara itu, berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), aksi jual saham oleh investor asing mencapai Rp 56,35 triliun sepanjang 2026.

“Pada perdagangan hari ini asing kembali mencatatkan net sell sekitar Rp 864 miliar, sementara secara akumulatif sejak awal tahun dana asing yang keluar dari pasar saham Indonesia telah mencapai sekitar Rp 67 triliun,” kata Hendra.

Meski demikian, ia mengingatkan investor untuk tidak merespons kondisi saat ini dengan kepanikan. Menurutnya, banyak saham unggulan telah mengalami koreksi cukup dalam sehingga mulai menawarkan valuasi yang menarik bagi investor jangka panjang.

 

 

 

Strategi Investasi

PerbesarPekerja berbincang di dekat layar indeks saham gabungan di BEI, Jakarta, Selasa (4/4). Pada pemukaan indeks harga saham gabungan (IHSG) hari ini naik tipis 0,09% atau 4,88 poin ke level 5.611,66. (/Angga Yuniar)

Namun, Hendra juga mengingatkan pasar yang sedang mengalami krisis sentimen dapat bergerak tidak rasional dalam jangka pendek. Oleh karena itu, IHSG masih berpotensi mengalami tekanan lanjutan dan menguji area 5.800 hingga 6.000 sebelum menemukan titik keseimbangan baru.

Bagi investor jangka panjang yang memiliki saham dengan fundamental kuat, strategi menahan posisi atau melakukan akumulasi secara bertahap masih dapat dipertimbangkan. Sementara bagi investor jangka pendek, disiplin dalam menerapkan manajemen risiko dinilai menjadi faktor utama mengingat volatilitas pasar yang masih tinggi.

Hendra menilai pemulihan pasar ke depan tidak hanya bergantung pada stabilisasi nilai tukar rupiah maupun meredanya ketegangan geopolitik global. Yang lebih penting, menurutnya, adalah kembalinya kepercayaan investor terhadap arah kebijakan ekonomi domestik melalui kepastian, konsistensi, dan langkah konkret yang mampu memberikan keyakinan kepada pelaku pasar. 

Dengan pulihnya kepercayaan tersebut, arus modal asing berpotensi kembali masuk dan mendukung pemulihan IHSG secara bertahap.



error: Content is protected !!