Bitcoin Bisa Anjlok Lebih Dalam, Analis Sebut Titik Terendah Muncul Oktober 2026

Analis veteran Peter Brandt memperingatkan koreksi Bitcoin belum berakhir. Harga kripto terbesar dunia itu berpotensi turun lebih dalam hingga Oktober.

PerbesarAset digital kripto Bitcoin. (Foto by AI)

 

, Jakarta – Analis grafik senior sekaligus investor veteran, Peter Brandt, mengeluarkan peringatanprospek Bitcoin. Menurut dia, koreksi harga aset kripto terbesar di dunia tersebut kemungkinan belum berakhir dan masih berpotensi mengalami penurunan lebih lanjut.

Dikutip dari CoinMarketCap, Kamis (4/5/2026), Brandt bahkan memperkirakan pasar belum akan menemukan titik terendah yang kuat hingga Oktober mendatang.

Dalam analisis terbarunya, Brandt menyoroti perkembangan penting pada grafik harga Bitcoin. Saluran kenaikan (rising channel) yang sebelumnya menopang pergerakan harga sejak akhir Februari hingga Mei kini telah ditembus ke bawah.

Harga Bitcoin juga telah bergerak di bawah garis support utama dari pola tersebut. Dalam analisis teknikal, kondisi ini sering dianggap sebagai sinyal bahwa tren kenaikan sebelumnya mulai berbalik arah.

Tekanan semakin besar setelah Bitcoin untuk pertama kalinya sejak Oktober 2023 turun hingga menyentuh level rata-rata pergerakan 200 minggu atau 200-week moving average.

Level ini merupakan salah satu indikator teknikal jangka panjang yang paling banyak diperhatikan investor untuk mengukur arah tren pasar secara keseluruhan.

Secara sederhana, rata-rata pergerakan 200 minggu menunjukkan harga penutupan rata-rata suatu aset selama 200 minggu terakhir. Indikator ini kerap digunakan untuk mengidentifikasi area dukungan (support) penting maupun kemungkinan perubahan tren jangka panjang.

“Peter Brandt memperingatkan bahwa penurunan Bitcoin dapat berlanjut, dengan titik terendah pasar yang sebenarnya kemungkinan baru terbentuk pada Oktober. Bagi investor yang berharap terjadi pemulihan cepat, skenario ini tentu menjadi pukulan berat.”

 

Data On-Chain Tunjukkan Tekanan Jual Belum Berakhir

PerbesarAset digital kripto Bitcoin. (Foto by AI)

Kekhawatiran yang disampaikan Peter Brandt juga diperkuat oleh CEO CryptoQuant, Ki Young Ju. Ia mengungkapkan data on-chain menunjukkan pasar saat ini sedang mengalami perpindahan kepemilikan Bitcoin dalam skala besar.

Menurut Ju, rata-rata harga beli investor Bitcoin saat ini berada di kisaran USD 53.000. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai siapa pihak yang terus menyerap kerugian di tengah pelemahan pasar.

Para analis menilai siklus pasar bearish biasanya mencapai tahap akhir ketika harga aset jatuh di bawah nilai realisasinya (realized value). Namun, Ju menilai aliran dana institusional yang cukup kuat pada siklus kali ini mungkin dapat mencegah Bitcoin kembali menyentuh titik terendah ekstrem seperti pada siklus sebelumnya.

Meski demikian, data terbaru masih menunjukkan tekanan jual yang konsisten terhadap Bitcoin.

Ju menjelaskan bahwa pembelian Bitcoin melalui ETF spot maupun langkah sejumlah perusahaan besar yang memasukkan Bitcoin ke neraca keuangannya ternyata belum mampu mendorong harga bertahan di level tinggi.

Harga Bitcoin justru kembali turun ke kisaran yang pernah terlihat pada awal 2024. Menurut CryptoQuant yang dikenal sebagai perusahaan analisis data blockchain, kondisi tersebut menunjukkan adanya aksi jual besar dari investor jangka panjang.

“Dalam unggahannya di X, Ki Young Ju mengatakan investor institusional dari sektor keuangan tradisional berpotensi menciptakan fondasi permintaan yang lebih kuat bagi Bitcoin dibanding komunitas awalnya, meski sebagian nilai-nilai cypherpunk mulai memudar.”

 

Perdebatan Prospek Bitcoin Kembali Mengemuka

PerbesarIlustrasi Bitcoin (iStockPhoto)

Di tengah meningkatnya tekanan jual, perdebatan mengenai masa depan Bitcoin kembali mencuat.

Pendukung emas sekaligus kritikus Bitcoin, Peter Schiff, menyoroti bahwa harga Bitcoin saat ini telah diperdagangkan di bawah puncak makro sebelumnya yang tercapai pada April 2021. Menurut dia, kondisi tersebut membuka kembali diskusi mengenai kemampuan Bitcoin dalam mempertahankan nilai jangka panjangnya sebagai aset investasi.

Di sisi lain, kelompok yang optimistis terhadap Bitcoin tetap melihat peluang pertumbuhan yang besar.

Salah satu tokohnya adalah Michael Saylor yang meyakini Bitcoin masih mampu menghasilkan tingkat pengembalian majemuk tahunan lebih dari 30 persen dalam lima tahun mendatang.

Namun, catatan historis menunjukkan tidak semua investor menikmati hasil positif. Investor yang membeli Bitcoin saat harga berada di puncak pada 2021 justru masih mencatatkan kinerja investasi yang negatif hingga saat ini.

Perbedaan pandangan tersebut mencerminkan tingginya ketidakpastian yang masih menyelimuti pasar kripto. Di satu sisi terdapat optimisme terhadap adopsi institusional yang semakin luas, sementara di sisi lain tekanan jual dan pelemahan harga masih menjadi tantangan utama bagi Bitcoin dalam jangka pendek.



error: Content is protected !!