Remaja 20 Tahun Curi Bitcoin Rp 233 Miliar, Uangnya Dipakai Foya

BeritaLokal, Jakarta – Seorang remaja Kanada berusia 20 tahun mengakui bersalah dalam kasus penipuan kripto senilai lebih dari US$13 juta atau sekitar Rp 233 miliar. Kasus ini terungkap setelah jaksa federal Amerika Serikat menyebut operasi kejahatan yang dilakukan pelaku menggunakan teknik manipulasi psikologis, yaitu social engineering, untuk memperdaya korban.

Dalam kasus tersebut, Johnston dan rekannya mengaku menyamar sebagai karyawan perusahaan teknologi seperti Google, Trezor, dan Coinbase. Mereka berhasil merahasiakan akses ke akun kripto milik korban, yang kemudian digunakan untuk menipu korban dengan mengatakan bahwa akun mereka diretas. Korban diberi instruksi untuk mengikuti langkah-langkah tertentu, sehingga sejumlah dana dalam bentuk Ether dan Bitcoin berhasil dicuri.

Kasus ini terungkap pada bulan Maret 2026 saat jaksa melakukan pemeriksaan lalu lintas. Johnston akhirnya disita perangkat elektronik dan catatan tangan yang dianggap sebagai bukti keterlibatannya dalam penipuan. Dia juga diberikan sekitar 53,16 Bitcoin dan 275,23 Ether, yang saat ini bernilai sekitar US$3,7 juta.

Jaksa federal menyarankan hukuman antara 51 hingga 63 bulan penjara. Selain itu, beberapa dakwaan terkait penipuan elektronik lainnya akan dicabut karena kesepakatan pengakuan bersalah. Dalam kasus ini, dana hasil kejahatan digunakan untuk membiayai gaya hidup mewah, seperti pembelian kendaraan mewah dan perjalanan dengan jet pribadi.

Kasus ini menyoroti peningkatan ancaman penipuan berbasis social engineering di industri kripto. CEO perusahaan keamanan blockchain Cyvers, Deddy Lavid, menyatakan bahwa metode manipulasi psikologis menjadi salah satu cara terbaik pelaku kejahatan mencuri aset digital. Investigasi sebelumnya menunjukkan pola serupa, seperti kasus penipuan kripto di Kanada yang mengakibatkan kerugian hingga US$65 juta.

Pihak jaksa menyebutkan bahwa sistem keamanan dan deteksi anomali aset digital perlu ditingkatkan untuk mencegah kejahatan sejak dini. Pembiayaan gaya hidup mewah yang terkait dengan kasus ini mencakup pembelian kendaraan premium, properti eksklusif, dan penginapan di Miami serta Los Angeles.