beritalokal.my.id, Jakarta – Morgan Stanley and Co International Plc melakukan transaksi jual beli saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), pengelola Alfamart pada 29 Mei 2026. Aksi ini dilakukan Morgan Stanley untuk investasi.
Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (3/6/2026), Morgan Stanley menjual 1.293.000 saham AMRT dengan harga Rp 1.346 per saham pada 29 Mei 2026. Dengan demikian, nilai transaksi penjualan saham mencapai Rp 1,74 miliar.
Kemudian pada hari yang sama 29 Desember 2026, Morgan Stanley membeli 179.137.756 saham AMRT dengan harga Rp 1.151 per saham. Seiring hal itu, aksi beli saham AMRT tersebut mencapai Rp 206,18 miliar.
“Tujuan transaksi investasi dengan status kepemilikan langsung,” demikian seperti dikutip.
Setelah transaksi jual beli saham AMRT itu, Morgan Stanley mengenggam saham AMRT sebesar 3.827.302.196 saham AMRT atau sebesar 9,314%. Sebelum transaksi pembelian saham AMRT, Morgan Stanley mengenggam saham AMRT sebanyak 3.649.457.400 saham AMRT.
Pada penutupan perdagangan saham Rabu, 3 Juni 2026, harga saham AMRT turun 2,17% menjadi Rp 1.350 per saham. Harga saham AMRT dibuka stagnan di posisi Rp 1.380 per saham. Saham AMRT berada di level tertinggi Rp 1.390 dan level terendah Rp 1.320 per saham. Total frekuensi perdagangan saham 19.245 kali dengan volume perdagangan saham 1.213.165 saham. Nilai transaksi Rp 163,9 miliar.
Sementara itu, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) betah di zona merah hingga penutupan perdagangan saham. IHSG hari ini tertekan di tengah nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menyentuh 17.970.
Sektor Saham
PerbesarKaryawan melintasi layar pergerakan IHSG, Jakarta, Rabu (3/8/2022). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia, Rabu (3/08/2022), ditutup di level 7046,63. IHSG menguat 58,47 poin atau 0,0084 persen dari penutupan perdagangan sehari sebelumnya. (beritalokal.my.id/Angga Yuniar)
Mengutip data RTI, IHSG hari ini terpangkas 4,11% menjadi 5.941,06. Indeks saham LQ45 merosot 4,89% menjadi 588,99. Seluruh indeks saham acuan melemah.
IHSG belum mampu bangkit seiring 692 saham yang tertekan. 69 saham menguat dan 54 saham diam di tempat. Total frekuensi perdagangan 2.761.582 kali dengan volume perdagangan saham 39,8 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 25,1 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 17.970.
Seluruh sektor saham melemah. Sektor saham basic merosot 9,05%, dan catat koreksi terbesar. Selain itu, sektor saham energi terpangkas 5,61%, sektor saham industri tergelincir 3,54%, sektor saham consumer nonsiklikal melemah 3,99%.
Lalu sektor saham siklikal terperosok 3,23%, sektor saham kesehatan merosot 4,36%, sektor saham keuangan turun 1,76%. Selain itu, sektor saham properti melemah 3,48%, sektor saham teknologi tergelincir 2,93%, sektor saham infrastruktur melemah 5,05%, dan sektor saham transportasi turun 4,15%.
Kinerja 2025
PerbesarGerai Alfamart (Dok: PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk)
Sebelumnya, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) mencatat kinerja keuangan positif pada 2025. Perseroan mencatat pertumbuhan pendapatan dan laba sepanjang 2025.
Mengutip laporan keuangan yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (27/3/2026), PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk meraup pendapatan Rp 126,73 triliun pada 2025. Pendapatan naik 7,19% dari periode 2024 sebesar Rp 118,22 triliun. Beban pokok pendapatan naik 6,58% menjadi Rp 98,98 triliun pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 92,86 triliun.
Seiring hal itu, laba bruto bertambah 9,4% menjadi Rp 27,75 triliun pada 2025 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 25,36 triliun. Perseroan mencatat kenaikan beban penjualan dan distribusi menjadi Rp 21,75 triliun dari 2024 sebesar Rp 20,20 triliun. Beban umum dan administrasi bertambah menjadi Rp 2,43 triliun pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 2,17 triliun. Pendapatan lainnya naik dari Rp 1,22 triliun menjadi Rp 1,33 triliun pada 2025.
Dengan demikian, laba usaha naik 11,86% menjadi Rp 4,56 triliun pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 4,07 triliun. Perseroan mencatat laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk bertambah 8,34% menjadi Rp 3,41 triliun pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 3,14 trliun. Laba per saham diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik menjadi Rp 82,16 pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 75,81.
Total ekuitas perseroan naik 9,5% menjadi Rp 19,38 triliun pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 17,69 triliun. Liabilitas bertambah 9,9% dari Rp 21,10 triliun pada 2024 menjadi Rp 23,19 triliun pada 2025.
Aset naik 9,74% menjadi Rp 42,57 triliun pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 38,7 triliun. Perseroan kantongi kas dan setara kas Rp 4,67 triliun pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 4,84 triliun.
