Risiko yang Perlu Diperhatikan Saat Memulai Investasi Saham

beritalokal.my.id, Jakarta – Investasi saham telah lama dikenal sebagai salah satu instrumen keuangan yang menawarkan potensi keuntungan menarik bagi para investor. Namun, di balik potensi imbal hasil yang menggiurkan, terdapat berbagai risiko yang wajib dipahami sebelum memutuskan untuk menanamkan modal di pasar modal.

Memahami hal yang perlu diperhatikan saat memulai investasi saham, khususnya mengenai risiko-risiko ini, menjadi krusial. Pengetahuan ini akan membekali investor dengan persiapan yang matang untuk membuat keputusan investasi yang lebih bijak dan mengelola portofolio secara efektif di tengah dinamika pasar.

Artikel ini akan mengulas secara mendalam berbagai jenis risiko dalam investasi saham, mulai dari potensi kerugian modal hingga dampak fluktuasi ekonomi makro. Dengan begitu, investor dapat lebih siap menghadapi tantangan dan merancang strategi mitigasi yang tepat.

Risiko Fundamental dalam Investasi Saham

PerbesarSeorang pria melihat ponselnya di depan layar yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang anjlok signifikan selama pembukaan pasar, di gedung Bursa Efek Indonesia di Jakarta pada Rabu 13 Mei 2026. (BAY ISMOYO/AFP)

Salah satu risiko paling mendasar yang harus diwaspadai investor adalah risiko capital loss. Risiko ini terjadi ketika nilai saham menurun dari harga beli, yang merupakan kebalikan dari capital gain. Penurunan harga saham dapat dipicu oleh berbagai faktor, seperti kondisi pasar yang memburuk, kinerja perusahaan yang kurang optimal, atau berita ekonomi yang negatif.

Selain capital loss, investor juga menghadapi risiko kebangkrutan perusahaan. Risiko ini merujuk pada kemungkinan perusahaan tidak dapat membayar utang atau kewajiban keuangannya. Jika perusahaan mengalami kebangkrutan, nilai saham dapat anjlok hingga nol, menyebabkan kerugian total bagi investor.

Risiko lain yang tak kalah penting adalah forced delisting, yaitu situasi di mana perusahaan dipaksa untuk menghapus sahamnya dari bursa efek. Kondisi ini bisa terjadi akibat kinerja keuangan yang buruk, laporan keuangan yang tidak akurat, atau pelanggaran peraturan bursa. Dampaknya, investor mungkin kesulitan menjual saham tersebut atau harus menjualnya dengan harga yang sangat rendah.

Dampak Risiko Pasar dan Faktor Ekonomi Makro

PerbesarPengunjung melintas dilayar pergerakan saham di BEI, Jakarta, Senin (30/12/2019). Pada penutupan IHSG 2019 ditutup melemah cukup signifikan 29,78 (0,47%) ke posisi 6.194.50. (beritalokal.my.id/Angga Yuniar)

Fluktuasi harga saham yang disebabkan oleh kondisi pasar secara keseluruhan dikenal sebagai risiko pasar atau risiko sistematis. Risiko ini tidak dapat dihindari karena dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti kondisi ekonomi, suku bunga, sentimen investor, dan peristiwa politik. Perubahan suku bunga, kebijakan pemerintah, kondisi ekonomi global, dan sentimen investor dapat mempengaruhi nilai investasi secara luas.

Inflasi juga menjadi risiko signifikan dalam investasi saham. Risiko inflasi adalah potensi penurunan daya beli akibat kenaikan tingkat inflasi, di mana harga barang dan jasa secara umum meningkat. Meskipun saham sering dianggap sebagai lindung nilai jangka panjang terhadap inflasi, imbal hasil jangka pendek bisa tergerus jika inflasi melonjak terlalu tinggi.

Perubahan suku bunga acuan oleh bank sentral dapat mempengaruhi daya tarik investasi saham. Kenaikan suku bunga membuat obligasi atau deposito lebih menarik karena menawarkan imbal hasil lebih tinggi dengan risiko lebih rendah, sehingga investor cenderung memindahkan dananya dari saham. Selain itu, fluktuasi nilai tukar mata uang juga menimbulkan risiko mata uang, terutama bagi investor yang menanamkan modal pada perusahaan dengan operasi di negara lain atau utang dalam mata uang asing.

Faktor eksternal lainnya adalah risiko politik dan regulasi. Peristiwa politik, konflik, atau perubahan kebijakan pemerintah dapat mempengaruhi pasar saham secara keseluruhan atau perusahaan tertentu. Kondisi ekonomi dan politik suatu negara memiliki hubungan erat dengan pasar saham, di mana ketidakstabilan dapat membuat investor menghindari investasi di negara tersebut.

Mengenali Risiko Spesifik Perusahaan dan Operasional

PerbesarPejalan kaki melintas dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di kawasan Jakarta, Senin (13/1/2020). IHSG sore ini ditutup di zona hijau pada level 6.296 naik 21,62 poin atau 0,34 persen. (beritalokal.my.id/Angga Yuniar)

Risiko tidak sistematis adalah risiko yang bersifat spesifik bagi suatu perusahaan atau aset tertentu, tidakdengan perubahan pasar secara keseluruhan. Risiko ini mencakup kebangkrutan, masalah manajemen, gangguan operasional, perubahan strategi bisnis, atau masalah hukum. Untungnya, risiko ini dapat dikelola melalui diversifikasi portofolio dengan menyebarkan investasi ke berbagai saham dari sektor berbeda.

Risiko likuiditas terjadi ketika suatu aset, seperti saham, sulit untuk dibeli atau dijual dengan cepat tanpa mempengaruhi harga pasar secara signifikan. Risiko ini muncul karena kurangnya minat dari investor atau terbatasnya kelancaran transaksi pada aset tertentu, terutama saham perusahaan kecil atau yang jarang diperdagangkan. Investor mungkin terpaksa menjual saham dengan harga lebih rendah dari yang diharapkan jika membutuhkan pencairan dana cepat.

Selain itu, risiko operasional juga perlu dipertimbangkan, yaitu risiko kerugian akibat proses, sistem, atau manusia internal yang tidak memadai atau gagal, atau dari kejadian eksternal. Risiko ini mencakup masalah teknologi, kesalahan manusia, penipuan, dan bencana alam.

Terakhir, risiko sentimen pasar terjadi ketika harga aset dipengaruhi oleh persepsi atau emosi investor secara kolektif yang kadang tidak rasional. Sentimen pasar dapat dipengaruhi oleh berita, resesi, atau iklim politik, yang dapat menyebabkan fluktuasi harga saham tidak rasional, seperti pada “saham gorengan”.



error: Content is protected !!