Respons Protes Petani, Anak Usaha Bulog Jamin Tebu Lokal Terserap

beritalokal.my.id, Jakarta – Anak usaha Perum Bulog, PT Gendhis Multi Manis (GMM) menjamin hasil panen petani tebu lokal tetap diserap. Hasil panen tebu lokal tersebut akan dialihkan ke kawasan Kabupaten Blora maupun di luar kawasan.

Plt Direktur Utama PT GMM Sri Emilia Mudiyanti mengaku telah membuat tim untuk menyerap aspirasi para petani tebu. Termasuk menyusun skema agar hasil panen petani tebu Blora bisa diserap.

“Kami sudah membentuk tim untuk membantu proses penyerapan dan pengalihan tebu petani ke pabrik gula lainnya. Saat ini juga sedang dilakukan pendataan wilayah-wilayah yang dapat membantu penyerapan tebu petani,” ujar Emilia, mengutip keterangan resmi, Senin (1/6/2026).

Informasi, kepastian ini disampaikan merespons aksi protes yang dilakukan para petani tebu di depan pabrik gula GMM. Para petani menggelar aksi protes dengan membuang tebu hasil panennya karena tidak terserap pabrik.

Sri Emilia menjelaskan, GMM saat ini belum melakukan operasional pabrik akibat kendala teknis mesin. Sebagai bagian dari Perum BULOG yang merupakan BUMN, setiap langkah dan kebijakan yang diambil tetap harus melalui proses evaluasi dan tata kelola sesuai ketentuan yang berlaku.

“Berbagai langkah penanganan dan koordinasi saat ini masih terus berproses bersama pihak-pihak,” ucapnya.

 

Mentan Amran Geram

PerbesarMenteri Pertanian Amran Sulaiman sidak pasar Kramat Jati. ©2015 merdeka.com/istimewa

Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan kondisi banjir gula rafinasi impor yang masuk ke pasaran. Hal ini membuat gula konsumsi lokal tidak dibeli oleh konsumen.

Hal tersebut disampaikan Amran dalam Rapat Kerja dengan Komisi VI DPR. Ia bahkan mengatakan, gula rafinasi yang seharusnya diolah industri justru membanjiri pasar.

“Yang terjadi di lapangan, Ibu, kita buka saja, rafinasi banjir, alau bocor, sedikit-sedikit, ini banjir. Nah itu terjadi, kami langsung telepon karena ada laporan dari petani di Jawa Tengah, Kalimantan Timur, Sulsel. Itu rafinasi yang langsung masuk ke lapangan, ke pasar,” kata Amran dalam raker di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (8/4/2026).

 

Petani Terpukul

PerbesarPetani Tebu. ©2012 Merdeka.com

Ia menerangkan, terdapat kemiripan antara gula rafinasi impor dan gula kristal putih lokal, terutama dari segi warna. Kondisi ini membuat konsumen sulit membedakan keduanya. Di sisi lain, harga molase juga anjlok hingga Rp1.000 per liter pada Maret 2026.

“Ini persoalan besar. Jadi yang memukul petani kita, kita sendiri, molasenya tidak laku. Jadi harga turun terus, dulu Rp 1.900 (per liter). Jadi aneh, kita satu sisi impor, tetapi produksi kita tidak laku,” sebutnya.

Proyeksi Panen Tebu

Berdasarkan proyeksi 2025, luas panen tebu eksisting mencapai 563.357 hektare dengan produktivitas Gula Kristal Putih (GKP) sebesar 4,74 ton per hektare atau setara 69,35 ton tebu per hektare. Dengan capaian tersebut, produksi GKP diperkirakan mencapai 2,67 juta ton.

Sementara itu, kebutuhan gula nasional mencapai 6,7 juta ton yang terdiri dari 2,8 juta ton gula konsumsi dan 3,9 juta ton gula industri. Artinya, masih terdapat kesenjangan yang perlu segera diatasi.



error: Content is protected !!