beritalokal.my.id, Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) memasukkan PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI) dalam kategori kepemilikan saham terkonsentrasi tinggi atau high shareholding concentration/HSC).
Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Minggu, (31/5/2026), BEI memasukkan saham TCPI kategori HSC seiring berdasarkan metodologi penentuan kepemilikan saham HSC atas struktur kepemilikan saham dalam bentuk warkat dan tanpa warkat per 25 Mei 2026, saham perseroan dimiliki oleh sejumlah tertentu pemegang saham yang secara agregat menguat 94,10% dari total saham dalam bentuk warkat dan tanpa warkat TCPI.
“Pengumuman ini tidak serta merta menunjukkan adanya pelanggaran terhadpa peraturan perundang-undangan dan ketentuan yang berlaku di bidang pasar modal,” demikian seperti dikutip dari keterbukaan informasi BEI.
Berdasarkan data BEI, pemegang saham TCPI antara lain PT Sari Nusantara Gemilang sebesar 55%, PT Karya Permata Insani sebesar 25%, masyarakat sebesar 20%.
Pada penutupan perdagangan saham Jumat, 29 Mei 2026, harga saham TCPI turun 1,59% menjadi Rp 10.850 per saham. Harga saham TCPI dibuka stagnan di Rp 11.025 per saham. Harga saham TCPI sempat menyentuh level tertinggi Rp 11.175 dan level terendah Rp 10.850 per saham. Total frekuensi perdagangan 1.255 kali dengan volume perdagangan saham 57.101 saham. Nilai transaksi Rp 62,6 miliar.
Di sisi lain, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tipis 0,05% menjadi 6.127,38. Indeks saham LQ45 merosot 1,49% menjadi 611,16. Sebagian besar indeks saham acuan tertekan.
Kinerja IHSG Sepekan
PerbesarSuasana di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (2/11/2015). Pelemahan indeks BEI ini seiring dengan melemahnya laju bursa saham di kawasan Asia serta laporan kinerja emiten triwulan III yang melambat. (beritalokal.my.id/Immanuel Antonius)
Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada perdagangan 25-29 Mei 2026. Koreksi IHSG sepekan didorong transaksi perdagangan saham yang pendek dan nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat.
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), Sabtu (30/5/2026), IHSG melemah 0,56% menjadi 6.127,38. Pada pekan lalu, IHSG turu 8,3% menjadi 6.162,04.
Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksono menuturkan, koreksi IHSG didorong sejumlah sentimen. Pertama, hari perdagangan yang relatif pendek pada pekan ini. “Kedua, nilai tukar rupiah yang masih melemah terhadap dolar Amerika Serikat,” ujar Herditya saat dihubungi beritalokal.my.id.
Ketiga, rebalancing MSCI. Keempat, investor masih mencermati perkembangan negosiasi AS-Iran.
Selain itu, rata-rata frekuensi transaksi harian sepekan terperosok 10,87% menjadi 2,11 juta kali transaksi dari 2,37 juta kali transaksi pekan lalu. Rata-rata volume transaksi harian BEI turun 15,60% menjadi 30,95 miliar saham dari pekan lalu 36,67 miliar saham pekan lalu.
Selama sepekan, investor asing mencatat aksi jual saham Rp 12,34 triliun. Kondisi aksi jual ini lebih besar dari pekan lalu Rp 807,68 miliar.
Sektor Saham
PerbesarSebelumnya, IHSG di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (29/1/2026) pagi dibuka melemah 357,76 poin atau 4,30 persen ke posisi 7.962,79. Tampak dalam foto, papan elektronik menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (29/1/2026). (YASUYOSHI CHIBA/AFP)
Di sisi lain, peningkatan terjadi pada rata-rata nilai transaksi harian selama sepekan. Rata-rata nilai transaksi harian naik 30,37% menjadi Rp 28,38 triliun dari Rp 21,77 triliun pada pekan lalu. Kapitalisasi pasar juga bertambah 0,88% menjadi Rp 10.729 triliun dari Rp 10.635 triliun pada pekan lalu.
Dari 11 sektor saham, mayoritas sektor saham melemah. Sektor saham energi turun 1,17%, sektor saham industri terperosok 2,3%, sektor saham consumer nonsiklikal tergelincir 2,45%, dan sektor saham perawatan kesehatan turun 2,2%.
Sektor saham keuangan terpangkas 1,16%, sektor saham properti dan real estate susut 1,96%, sektor saham teknologi tergelincir 0,87%.
Di sisi lain, sektor saham basic materials bertambah 0,79%, sektor saham consumer siklikal naik 0,02%, sektor saham infrastruktur melemah 3,87% dan sektor saham transportasi dan logistic melompat 4,69%.