Harga Minyak Berpotensi Terancam, Pasar Fokus Geopolitik Timur Tengah

BeritaLokal, Jakarta – Harga minyak dunia dinilai akan tertekan oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan dinamika pasokan-meminta yang terus berubah. Pemerintahan meninjau tiga faktor utama: kondisi politik, kebijakan bank sentral AS, serta perubahan dalam ketersediaan dan permintaan komoditas. Minyak mentah, yang menjadi fondasi ekonomi global, terpantau mengalami tekanan seiring meningkatnya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.

Selain itu, keputusan AS dan Iran untuk menyelesaikan perang terkait Selat Hormuz memicu kembali normalisasi arus minyak yang sebelumnya terganggu oleh serangan pada akhir pekan lalu. Kebijakan ini mengarah pada peningkatan volume pengiriman minyak dari Timur Tengah, yang menurut analisis Commerzbank dan Citi memperkuat kondisi pasar. Namun, perundingan masih terhambat oleh isu tarif dan pengelolaan Selat Hormuz, yang menjadi fokus utama negosiasi.

Pasar kini mengandalkan kesepakatan permanen antara AS dan Iran untuk memastikan keberlanjutan arus minyak melalui Selat Hormuz. Dengan jumlah pasokan global mencapai 103,1 juta barel per hari, harga minyak mentah terus melemah. Kondisi ini memperkuat posisi emas sebagai aset safe haven, karena kenaikan harga emas di tengah ketidakpastian pasar global.

Dalam rangka memantau dinamika pasokan, OPEC mengalami peningkatan produksi sekitar 3,3 juta barel per hari pada Juni, dengan Kuwait mencatatkan peningkatan hingga 1,65 juta barel per hari. Saudi Aramco juga mulai memperkuat distribusi minyak ke pasar Asia melalui penjualan spot, sementara kapal tanker raksasa yang mengangkut sekitar 10 juta barel minyak asal Arab Saudi meninggalkan Selat Hormuz.

Analisis dari Citi menunjukkan bahwa nota kesepahaman AS-Iran masih berpeluang bertahan, meski proses negosiasi tetap rapuh. Kebijakan bank sentral AS dan kebijakan Iran terus menjadi faktor utama dalam pergerakan harga minyak, sementara kenaikan pasokan dari Timur Tengah mempercepat perubahan struktur pasar dari backwardation menjadi contango.

Kondisi ini mencerminkan ekspektasi pasar bahwa risiko kekurangan pasokan mulai mereda, yang terlihat dari harga Brent untuk pengiriman segera lebih rendah dibanding kontrak enam bulan mendatang. Meski demikian, tekanan harga minyak masih menegangkan ekonomi global, dengan berpotensi memperkuat posisi emas sebagai aset aman.

Artikel Terkait

0