BeritaLokal, Basra – Harga minyak dunia melambung setelah serangan kapal tanker dari Qatar di dekat Selat Hormuz menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas perdagangan global. Pada hari Senin (8 Juli 2026), pasokan minyak yang mengalami kenaikan drastis membuat harga Brent dan WTI naik lebih cepat, meski situasi di sekitar jalur pelayaran masih tidak stabil.
Serangan kapal tanker gas alam Qatar, Al-Rekayyat, yang ditempatkan di dekat Selat Hormuz, menjadi peristiwa krusial yang memperparah kerentanan perjanjian damai antara Amerika Serikat dan Iran. Menurut Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed al Ansari, serangan ini menegaskan bahwa konflik regional terus berlanjut meski negosiasi untuk mengakhiri perang secara permanen telah dimulai sebelumnya.
Harga minyak Brent berjangka naik 5,6% menjadi US$ 76,04 per barel setelah jam perdagangan usai AS mencabut izin Iran untuk menjual minyaknya. Sementara itu, harga WTI melonjak 5,4% ke US$ 72,25. Kenaikan ini disebabkan oleh ketegangan yang kian memperparah, terutama setelah UKMTO (Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris) mengklaim kapal tanker lain di Hormuz terhantam proyektil tak dikenal.
Kedua belah pihak-Washington dan Teheran-menandatangani nota kesepahaman bulan lalu untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung hampir empat bulan. Namun, situasi di sekitar Jalur Hormuz masih tidak stabil, menurut ekonom Berenberg yang memperkirakan bahwa kedua pihak harus memiliki kepentingan untuk meredakan konflik menjelang pemilihan paruh waktu Kongres AS pada 3 November.
Pemerintah AS menginginkan harga minyak rendah sementara Iran ingin menerima potensi pencabutan sanksi, menurut permintaan Presiden Donald Trump. Serangan terhadap kapal tanker ini memicu kekhawatiran terhadap ketersediaan pasokan minyak dan dampak terhadap industri energi global.
Sementara itu, pihak Qatar meminta Iran segera menghentikan semua aktivitas yang merusak keamanan regional. Pernyataan tersebut disampaikan dalam unggahan di media sosial, menegaskan bahwa kerusakan akibat serangan ini harus ditanggung secara hukum. Peristiwa ini memperkuat ketegangan antara dua pihak dan memperparah tekanan pada pasar minyak dunia.
Artikel Terkait
Rupiah tekanan tinggi, penyebabnya termasuk inflasi dan harga minyak dunia
9 Juli 2026
Trump Ancam Bombar Iran, Harga Minyak Melonjak
9 Juli 2026
Harga Perak Antam Turun Rp 1.200, Dampak Pasar Dunia
8 Juli 2026
Saudi Menurunkan Harga Minyak di Pasar Asia
7 Juli 2026
Minyak Turun 20% karena Kesepakatan AS-Iran
7 Juli 2026
OPEC+ Meningkatkan Produksi Minyak hingga Agustus 2026
5 Juli 2026
Harga Minyak Berpotensi Terancam, Pasar Fokus Geopolitik Timur Tengah
5 Juli 2026
Minyak Dunia Tetap Stabil, Pasar Menantikan Perdamaian AS
4 Juli 2026
Memuat komentar...