BEI menyebutkan, dari seluruh emiten, 80% mencatat laba bersih pada kuartal I 2026, tertinggi dalam lima tahun terakhir.
PerbesarPelaksana Tugas (Pjs) Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik, Kamis, (4/6/2026). (Foto:/Immanuel Christian)
, Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkapkan, kinerja fundamental emiten masih menunjukkan kondisi yang kuat di tengah dinamika pergerakan pasar dalam beberapa hari terakhir. Salah satu indikator, terlihat dari tingginya jumlah perusahaan tercatat atau emiten yang membukukan laba bersih pada kuartal I 2026.
Pelaksana Tugas (Pjs) Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik mengatakan, sebanyak 80% emiten berhasil mencatatkan laba bersih pada tiga bulan pertama tahun ini. Capaian tersebut menjadi yang tertinggi dalam lima tahun terakhir.
“Kalau kita lihat distribusi laba bersih per kuartal pertama 2026, dari seluruh perusahaan tercatat yang ada, 80% membukukan laba bersih. Ini adalah persentase tertinggi dalam lima tahun terakhir,” kata Jeffrey di Gedung Bursa Efek Indonesia, Kamis (4/6/2026).
Menurut dia, data tersebut mencerminkan kondisi fundamental perusahaan-perusahaan tercatat yang masih solid dan dapat menjadi salah satu pertimbangan investor dalam mengambil keputusan investasi.
Jeffrey menjelaskan, pada 2020 hanya sekitar 63% perusahaan tercatat yang membukukan keuntungan. Sementara pada periode 2021 hingga 2025, proporsi emiten yang mencatat laba bersih berada di kisaran 73%-76%.
Selain itu, kinerja korporasi juga tercermin dari pertumbuhan laba sepanjang 2025. Berdasarkan laporan keuangan yang telah disampaikan emiten, laba perusahaan tercatat pada akhir 2025 tumbuh lebih dari 21% secara tahunan.
Tren positif tersebut berlanjut pada awal tahun ini. Untuk kelompok saham LQ45, laba bersih pada kuartal I-2026 tercatat meningkat hampir 30% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Khusus untuk saham-saham dalam kelompok LQ45, terjadi pertumbuhan laba bersih hampir 30%, tepatnya 29,9%,” ujar Jeffrey.
Di tengah volatilitas pasar, BEI kembali mengingatkan investor agar tetap mengedepankan pendekatan rasional dalam berinvestasi. Investor diminta mempertimbangkan kondisi fundamental emiten serta menyesuaikan keputusan investasi dengan profil risiko masing-masing.
Jeffrey menegaskan, kuatnya kinerja keuangan emiten saat ini menunjukkan pasar modal Indonesia masih ditopang oleh fundamental yang sehat.
“Fundamental perusahaan-perusahaan tercatat kita saat ini dalam kondisi baik. Tentu ini dapat dijadikan landasan untuk mengambil keputusan bagi para investor,” katanya.
Penutupan IHSG pada 4 Juni 2026
PerbesarPekerja melintas di depan layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, Senin (3/1/2022). Pada pembukan perdagagangan bursa saham 2022 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung menguat 7,0 poin atau 0,11% di level Rp6.588,57. (/Angga Yuniar)
Sebelumnya, tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berkurang pada perdagangan saham Kamis, (4/6/2026). Namun, IHSG ditutup di bawah level 6.000 dan seluruh sektor saham tertekan.
Mengutip data RTI, IHSG hari ini ditutup turun 1,7% menjadi 5.839,78. Indeks saham LQ45 merosot 1,37% menjadi 560,91. Sebagian besar indeks saham acuan tertekan.
Pada perdagangan Kamis pekan ini, IHSG bergerak di zona merah. IHSG sempat berada di level tertinggi 5.924,50 dan level terendah 5.644,23. Sebanyak 623 saham melemah sehingga membebani. 106 saham menguat dan 85 saham diam di tempat.
Transaksi perdagangan saham cukup ramai Kamis pekan ini. Total frekuensi perdagangan 2.291.822 kali dengan volume perdagangan saham 39,2 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 25,2 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 18.047.
Sektor Saham
PerbesarKaryawan melintasi layar yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat acara Penutupan Perdagangan Bursa Efek Indonesia Tahun 2022 di Jakarta, Jumat (30/12/2022). PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat ada 59 perusahaan yang melakukan Initial Public Offering (IPO) atau pencatatan saham sepanjang 2022. Pada penutupan perdagangan akhir tahun, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup lesu 0,14% atau 9,46 poin menjadi 6.850,62. (/Angga Yuniar)
Seluruh sektor saham tertekan. Sektor saham energi turun 0,81%, sektor saham basic merosot 0,78%, sektor saham industri terpangkas 4,07% dan catat koreksi terbesar.
Selain itu, sektor saham consumer nonsiklikal melemah 2,36%, sektor saham consumer siklikal tergelincir 1,48%, sektor saham kesehatan turun 1,81%. Lalu sektor saham keuangan terperosok 2,04%, sektor saham properti melemah 3,28%, sektor saham teknologi terpangkas 0,48%. Kemudian, sektor saham infrastruktur turun 2,34% dan sektor saham transportasi merosto 1,39%.
Pada perdagangan saham Kamis pekan ini, saham ICBP ditutup naik 1,53% menjadi Rp 6.625 per saham. Harga saham ICBP dibuka naik menjadi Rp 6.550 per saham dari penutupan sebelumnya Rp 6.525 per saham. Saham ICBP berada di level tertinggi Rp 6.625 dan level terendah Rp 6.375 per saham. Total frekuensi perdagangan 4.622 kali dengan volume perdagangan saham 83.698 saham. Nilai transaksi Rp 54,6 miliar.
