BeritaLokal, Jakarta – Dalam memetakan risiko inflasi yang semakin menekan ekonomi Indonesia, lembaga pemikir Prasasti Center for Policy Studies mengingatkan pentingnya koordinasi multidimensi untuk menjaga stabilitas harga dan kurs rupiah. Kebutuhan ini ditegaskan oleh Halim Alamsyah, mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), yang menyatakan tekanan inflasi saat ini tidak hanya berasal dari pasokan pangan tetapi juga faktor depresiasi rupiah yang berpotensi memperparah konsumsi barang impor.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tahunan pada Mei 2026 mencapai 3,08 persen, naik dari 2,42 persen pada April. Halim menekankan bahwa kenaikan ini terjadi di tengah pelemahan nilai tukar rupiah, yang mengurangi daya beli masyarakat dan meningkatkan biaya produksi. “Kecenderungan naiknya tekanan inflasi serta penipisan surplus dagang adalah sinyal yang perlu dicermati,” kata Halim dalam wawancara dengan Antara.
Stabilitas harga pangan menjadi kunci, terutama karena komponen harganya sangat volatile, seperti cabai merah (25,64%), tomat (9,82%), dan bawang merah (6,65%). Piter Abdullah, Policy and Program Director Prasasti, mengatakan inflasi inti tetap rendah, namun tekanan harga sementara berpotensi memperluas jika tidak ditangani. “Kita perlu mengekspor lebih banyak untuk mendorong ekonomi di tengah ketidakpastian global,” kata Piter.
Ekspor Indonesia mencatatkan kinerja positif, dengan ekspor Januari-April 2026 mencapai US$92,15 miliar atau tumbuh 5,48% YoY. Lonjakan terbesar terjadi pada April, hingga 21,98%. Hal ini dipengaruhi oleh produk industri pengolahan seperti nikel olahan ke China dan minyak sawit mentah (CPO).
Selain itu, penguatan pasokan devisa dalam negeri dan kredibilitas kebijakan menjadi faktor penting untuk mengatasi ketidakpastian ekonomi. Halim menegaskan bahwa strategi pengendalian inflasi memerlukan koordinasi antara otoritas moneter, fiskal, dan sektor keuangan. “Strategi pemerintah harus diuji oleh pasar melalui kemampuan pemerintah dan BI dalam menjaga stabilitas rupiah,” kata dia.
Kondisi inflasi saat ini masih didominasi komponen harganya yang bergantung pada faktor cuaca dan pasokan, sementara inflasi inti tetap rendah. Peningkatan harga barang impor juga berpotensi memperparah tekanan jika tidak terpantau. Dengan demikian, pemerintah harus aktif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sebagai kunci menghadapi risiko inflasi yang berpotensi berkembang.