[BeritaLokal], Jakarta — Hati-hati dengan berita yang menggugah—karena ini bukan kabar, tapi hoaks. Danantara, bosnya PLN yang juga jago menyampaikan fakta, langsung menghentikan spekulasi: “Belum ada RUPS, jadi belum ada perombakan direksi. Kalau ada, itu hoaks. Karena belum ada RUPS.”
Dony Oskaria, Chief Operating Officer (COO) Danantara dan Kepala Badan Pengaturan BUMN, tampil di Senen Minggu lalu—dengan ekspresi yang tak terlalu serius, tapi sangat jelas: “Kok disebut sudah RUPS? Tanggal 15 Juni 2026, ya. Itu tanggal RUPS-nya. Jangan jadi korban hoaks.”
Danantara bukan cuma menolak kabar hoaks, tapi juga mengungkap bahwa PLN sedang menggali jalan baru. Mereka ingin memangkas 21 anak usaha dalam grup PLN, targetnya 23 entitas usaha di 2028. Bukan untuk mengurangi, tapi untuk memperkuat. “Ini bukan penghapusan, tapi streamlining,” katanya, dengan nada yang terdengar seperti pengingat: “Kita mau lebih efisien, lebih fokus, lebih siap menghadapi tantangan energi nasional.”
Dari 44 entitas, PLN ingin menciptakan struktur yang lebih terintegrasi, lebih terfokus, dan lebih efektif. Mereka juga sudah mempercepat implementasi RUPTL 2025–2034—dengan 1.634 proyek yang sudah memasuki tahap eksekusi. “Ini bukan angka acak,” ujar Dony. “Ini bukti PLN mau jadi penyedia listrik yang tidak hanya andal, tapi juga cerdas.”
Dan bukan hanya di kantor—Dony juga mengakui bahwa PLN sedang memperkuat sistem pasca-gangguan di Sumatera. Petugas PLN bahu-membahu memperbaiki jaringan listrik yang roboh akibat tanah longsor. “Kita tidak hanya memperbaiki, tapi juga memperkuat. Karena kita tahu—listrik itu bukan sekadar aliran. Itu adalah kehidupan.”
Dengan langkah ini, PLN tidak hanya mempersiapkan diri untuk menghadapi masa depan energi nasional, tapi juga untuk menghadapi tantangan transisi energi. “Kita ingin menjadi penyedia listrik yang tidak hanya andal, tapi juga mampu beradaptasi,” tegas Dony.
Danantara tidak hanya menyampaikan fakta—dia juga menyampaikan kata-kata yang bisa diingat. Karena, di tengah kabar hoaks, di tengah spekulasi, di tengah tekanan—PLN tetap berjalan. Dengan langkah yang terencana, dengan target yang jelas, dan dengan kepastian bahwa mereka tidak akan terjebak dalam hoaks.
Karena, PLN tidak akan mengubah direksi sebelum RUPS. Dan mereka juga tidak akan mengubah struktur perusahaan sebelum membuatnya lebih kuat. Karena, di tengah semua itu, ada satu hal yang jelas: PLN tidak akan berhenti. Mereka akan membangun, memperkuat, dan menghadapi masa depan—dengan cara yang dipahami, dijaga, dan diperlukan oleh rakyat.
