[BeritaLokal], Jakarta — Bupati Muara Enim Edison, yang dulu dikenal sebagai “pemimpin di tengah tanah yang kaya tapi tak terlalu berani mengungkapnya,” kini berada di tengah gelapnya operasi tangkap tangan KPK. Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik pintu-pintu kantor yang ditutup, tapi yang jelas — dia dan 9 orang lainnya, termasuk asisten dan staf pemerintah, telah diambil ke Jakarta untuk “diperiksa lebih lanjut” oleh tim penyidik.
KPK, yang selalu tampil seperti pahlawan di balik gelap, memilih waktu yang tepat: Senin pagi, tanpa hujan, tanpa pemberitahuan, hanya ada “dengan diam dan keheningan” — mereka mengeledah ruang kerja Bupati, Disdikbud, dan bahkan ruang di mana Edison duduk sambil memegang tangan dan mengingatkan diri bahwa “ini bukan jabatan, ini kewajiban.”
Dan lalu, muncul angka yang tak terduga: Rp16,03 miliar. Ya, itu total harta Edison yang tercatat dalam LHKPN 2025 — tanpa utang, tanpa surat berharga, tanpa kejutan. Hanya properti. Hanya mobil. Hanya uang tunai.
Tanah dan bangunan — itu jadi “pilar” utama. Ada lahan di Palembang, Banyuasin, dan Prabumulih. Satu tanah seluas 16.830 meter persegi, bernilai Rp6,73 miliar. Lainnya, Rp4,64 miliar, Rp1,27 miliar. Dan mobil? Satu Alphard 2010 dan satu Fortuner 2019 — Rp125 juta dan Rp380 juta. Tapi itu bukan “mobil presiden” — itu mobil yang dipakai untuk perjalanan ke kantor, ke acara, ke tempat yang tidak bisa diungkapkan.
Lalu ada “aset bergerak” — Rp705 juta. Kas dan setara kas: Rp140 juta. Harta lain: Rp500 juta. Tidak ada surat berharga. Tidak ada pinjaman. Tidak ada “pembayaran yang tidak tercatat.”
Dan ini adalah kisah yang sebenarnya tidak bisa diungkap: Bupati yang dulu dikenal dengan “kata-kata yang santai, tapi tangan yang kuat,” kini jadi simbol dari pertanyaan besar: “Apakah harta itu benar-benar miliknya? Atau apakah ini hanya sebuah cerita yang dibangun di atas tanah yang kaya?”
KPK masih di lapangan. Tapi masyarakat, ASN, dan warga Muara Enim — mereka sudah mengangkat kepala. Mereka menunggu. Mereka menunggu untuk tahu — apakah ini hanya “kisah dari atas” atau apakah ini akan menjadi “cerita yang akan mengguncang” — bukan hanya pemerintah, tapi juga hati-hati yang ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik pintu-pintu yang tertutup.
