Rupiah Melemah, Harga Baju hingga Sepatu Siap

Harga baju hingga sepatu berpotensi naik pada Juli 2026 imbas pelemahan rupiah.

PerbesarKetua Umum Hippindo, Budihardjo Iduansjah di Smesco Indonesia, Jakarta, Rabu (23/7/2025). Harga baju hingga sepatu berpotensi naik pada Juli 2026 imbas pelemahan rupiah. 

, Jakarta – Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) mewaspadai adanya kenaikan harga produk kategori fashion di mal, seperti baju hingga sepatu pada Juli 2026. Imbas pelemahan rupiah terhadap dolar AS dan kesulitan impor.

Ketua Umum Hippindo Budihardjo Iduanjsah mengatakan, secara umum harga barang di mal saat ini belum terdampak kenaikan. Lantaran masih ada stok lama yang baru masuk pasca Lebaran 2026.

“Nah, ini yang saya takut tadi bulan ke-7. Kalau dolarnya masih tinggi, sedangkan jatuh tempo pembayaran, nah itu yang kita khawatir. Harusnya kalau bisa cepetan diturunkan,” ujar dia saat ditemui di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Senin (8/6/2026).

Potensi kenaikan harga ini berlaku untuk produk-produk kategori fashion. “Kayak sepatu, baju-baju, tas gitu,” ungkap Budihardjo.

Ia menyampaikan, kenaikan harga barang di mal pada tahun ini sudah terjadi sebanyak dua kali. Faktor utamanya lantaran barang impor sulit masuk, sehingga kekurangan stok.

“Kami sudah koordinasi agar Hippindo ini yang sudah punya toko di mal, yang sudah punya brand, diizinkan untuk mengimpor. Kalau kemarin kita diizinkan impor kan, otomatis kan kita punya stok. Kalau punya stok kan nggak buru-buru naik juga. Stok tuh penting,” bebernya.

Oleh karenanya, pengusaha ritel berharap pemerintah bisa lebih mempermudah perizinan impor untuk brand-brand besar yang ada di pusat perbelanjaan atau mal.

“Kalau ngajuin impor, diberikan lah kemudahan dan sebebasnya. Karena mereka begitu impornya masuk, mereka akan buka toko, ngisi stok,” pinta Budihardjo.

Sederet Sektor Ini Ketiban Untung dari Pelemahan Rupiah

PerbesarNilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar, selalu mengalami perubahan setiap saat terkadang melemah terkadang juga dapat menguat.

Sebelumnya, pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) tidak selalu membawa kabar buruk bagi dunia usaha. Di tengah tekanan yang dialami sejumlah industri berbasis impor, sektor komoditas dan pariwisata justru berpotensi menikmati keuntungan dari menguatnya mata uang Negeri Paman Sam.

Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, menilai pelemahan rupiah menciptakan efek polarisasi yang tajam di sektor riil. Ketika industri manufaktur, farmasi, dan otomotif menghadapi lonjakan biaya produksi, sektor yang berorientasi ekspor justru memperoleh keuntungan dari selisih kurs.

“Sektor komoditas seperti kelapa sawit dan pertambangan, serta industri manufaktur berorientasi ekspor, karena struktur biaya operasional mereka berbasis mata uang lokal, sementara pendapatan yang diterima berupa Dolar AS yang nilainya terus menguat,” ujar Sutopo kepada, dikutip Minggu (7/6/2026).

Ia menjelaskan, sektor perkebunan kelapa sawit menjadi salah satu pihak yang paling diuntungkan dari pelemahan rupiah. Pasalnya, sebagian besar transaksi ekspor minyak sawit mentah (CPO) dilakukan dalam denominasi dolar AS.

Ketika nilai tukar rupiah melemah, setiap dolar hasil ekspor akan menghasilkan pendapatan yang lebih besar setelah dikonversi ke mata uang domestik. Kondisi ini berpotensi meningkatkan pendapatan dan profitabilitas perusahaan perkebunan.

Keuntungan serupa juga dinikmati oleh perusahaan pertambangan yang menjual komoditas seperti batu bara, nikel, tembaga, maupun emas ke pasar internasional. Pendapatan ekspor yang diterima dalam dolar AS menjadi lebih bernilai ketika dikonversikan ke rupiah.

Di sisi lain, sebagian besar biaya operasional perusahaan tambang masih menggunakan rupiah, mulai dari biaya tenaga kerja hingga berbagai kebutuhan operasional di dalam negeri. Kombinasi tersebut menciptakan ruang keuntungan yang lebih besar bagi pelaku usaha.

 

Pariwisata Berpotensi Kebanjiran Wisatawan Asing

PerbesarIlustrasi wisatawan mancanegara, turis asing di Canggu, Bali. (Photo by Cassie Gallegos on Unsplash)

Sektor pariwisata juga dipandang sebagai salah satu penerima manfaat dari melemahnya rupiah. Nilai tukar yang lebih rendah membuat biaya berwisata ke Indonesia menjadi relatif lebih murah bagi wisatawan mancanegara.

Dengan jumlah dolar yang sama, turis asing dapat memperoleh lebih banyak rupiah untuk membiayai akomodasi, transportasi, kuliner, hingga aktivitas wisata selama berada di Indonesia.

Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan daya tarik destinasi wisata nasional dan mendorong kenaikan jumlah kunjungan wisatawan asing, terutama dari negara-negara dengan mata uang yang lebih kuat terhadap rupiah.

“Pariwisata justru berpotensi meraup windfall profit,” pungkasnya.




Pentas Bola Dunia 2026

  • Sambut Piala Dunia 2026, Jersey Tim Peserta Dipamerkan di Jakarta34 menit yang lalu
  • Piala Dunia 2026 Masih Milik Negara Eropa dan Amerika Latin2 jam yang lalu
  • Nazar Unik Lamine Yamal dan Optimisme Spanyol Raih Gelar Piala Dunia 20263 jam yang lalu
  • Klarifikasi Rafael Leao Usai Diganjar Kartu Merah saat Hadapi Chile: Cuma Ingin Bela Rekan Setim4 jam yang lalu
  • Apa Alasan Lamine Yamal Selalu Memakai Perban di Tangannya?4 jam yang lalu
  • Piala Dunia 2026: Insiden Penembakan di Dekat Markas Inggris di Kansas City Timbulkan Sorotan soal Keamanan4 jam yang lalu
  • Prediksi Eks Pemain MU tentang Juara Piala Dunia 2026: Bukan Argentina atau Brasil, Prancis Jadi Favorit4 jam yang lalu
  • Update Timnas Brasil Jelang Piala Dunia 2026: Raphinha Akui Belum Capai Kondisi Terbaik4 jam yang lalu
  • Timnas Prancis dan Misi ‘Ending’ Bersama Didier Deschamps di Piala Dunia 20264 jam yang lalu
  • 2 Pemain Kunci Timnas Maroko Cedera Menjelang Piala Dunia 20265 jam yang lalu
  • Maroko dan Gelombang Kebangkitan Negara Afrika Siap Mengguncang Piala Dunia 20265 jam yang lalu
  • Menuju Piala Dunia 2026: Inggris Diminta Maksimalkan Ketajaman Harry Kane5 jam yang lalu

Lihat Selengkapnya

error: Content is protected !!